Kisah Bangkitnya Industri Film di Kota Anging Mammiri - Kompas.com

Kisah Bangkitnya Industri Film di Kota Anging Mammiri

Kompas.com - 04/03/2017, 15:00 WIB
KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUS Suasana pengambilan gambar untuk syuting film Cindolo na Tape (Cinta), di Tanjung Bunga, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (15/2/2017). Industri film di Makassar sedang bergeliat beebrapa tahun terakhir. Puluhan rumah produksi, belasan judul film, sejumlah sineas muda, dan miliaran rupiah lahir dari industri kreatif ini. Kompas/Saiful Rijal Yunus (JAL) 15-02-2017

KOMPAS.com - Film, bukan “mainan” baru di Kota Makassar. Sejak tahun 60-an, beberapa orang di kota ini telah tampil di layar perfilman nasional. Namun, film yang dibuat oleh anak mudanya, dibintangi oleh orang setempat, dan mampu menembus penonton hingga 500.000-an secara nasional, baru terjadi beberapa tahun terakhir.

Suatu malam di pertengahan Februari, sebuah kafe di kawasan Panakkukang, Makassar, Sulawesi Selatan cukup sesak. Puluhan kursi di kafe terisi penuh, yang mana lebih dari setengah pengunjungnya adalah pekerja film. Mereka berasal dari sedikitnya tujuh rumah produksi yang berbeda.

Obrolan hangat mengalir malam itu. Tentunya, tidak jauh-jauh dari dunia film. Ada yang mempersiapkan gala premier film, ada yang membahas proyek baru, dan ada yang baru menyelesaikan syuting.

“Hari ini baru selesai syuting. Beberapa hari lalu tertunda karena hujan,” kata Andi Burhamzah (28), Sutradara sekaligus produser film Cindolo’ na Tape (Cinta). Anca, nama panggilannya, telah terlibat di beebrapa film. Termasuk di film Athirah garapan Riri Riza.

Film Cinta, digarap oleh anak muda di bawah 30 tahun. Hampir semua yang terlibat dalam film ini berasal dari Makassar dan sekitarnya. “Hampir 100 persen dikerjakan oleh anak sini (Makassar),” tambah Anca.

Cinta, hanya salah satu dari puluhan judul film yang telah dan sedang digarap oleh sineas Makassar tahun ini. Tidak tanggung-tanggung, semua film yang dibuat untuk persiapan film layar lebar.

Sebagian besar film mengambil judul lokal yang dekat dengan keseharian, atau budaya setempat. Sebut film Silariang (kawin lari), Cindolo na Tape (Cendol dan tape), atau Suhu Beku. Film terakhir pemerannya berdialog dengan dialek Bugis-Makassar.

Halim Gani Safia (32), sutradara dan penulis naskah menuturkan, geliat industri film di Makassar memang sedang hangat-hangatnya. Puluhan rumah produksi (PH), kelas akting, dan sejumlah judul film terus bermunculan. Awal tahun ini, Halim tengah menggarap beberapa naskah film. Semuanya proyeksi untuk film layar lebar.

Amril Nuryan (430, dari Finisia Production, menceritakan, seiring teknologi yang semakin mudah, dan banyaknya komunitas, film mendapatkan panggung baru. Semangat untuk menunjukkan karya yang baik terus tumbuh.

Film Uang Panai’, yang digarap Finisia production,dulu bernama Makkita Production, bisa menembus hingga 520.000 penonton. Film yang tayang tahun lalu itu “memaksa’ operator bioskop menambah layar tayang hingga 60 layar di beberapa kota. Penonton “mengular” untuk mendapatkan selembar tiket. Nah, anak Makassar sedang "action"!

Ikuti ulasan lengkap sepak terjang generasi muda Makassar di dunia film dalam rubrik Gaya Hidup Harian Kompas Minggu, 5 Maret 2017. Untuk akses versi digital dengan berlangganan di Kompas.id.

Selain itu, 'hadir' aktor Nicholas Saputra yang berbincang tentang perjalanan hidup dan akting terbarunya dalam film Interchange, ulasan film Galih dan Ratna versi generasi milenial, gebyar perhelatan musik Java Jazz, dan berkangen-kangen dengan Air Supply. Dapatkan pula berbagai inspirasi desain coffee table dan simak promotor musik Anas Alimi berbagi cerita tentang rumahnya. (JAL)

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorHeru Margianto
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM