Rekayasa di Jagat Hiburan, Fenomena atau Kebutuhan? - Kompas.com

Rekayasa di Jagat Hiburan, Fenomena atau Kebutuhan?

Andi Muttya Keteng Pangerang
Kompas.com - 16/03/2017, 12:01 WIB
Shutterstock /Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Berita dari jagat hiburan bukan hanya tentang karya para artisnya. Kehidupan pribadi, termasuk kisah cinta, mereka nyatanya lebih menarik perhatian publik.

Semakin sering nama seorang artis menjadi pemberitaan, semakin kuat nama mereka menancap di benak publik dan semakin terdongkrak pula popularitasnya.

Hal ini menimbulkan praktik rekayasa cerita kehidupan pribadi seorang artis, atau yang bisa disebut setting-an di dunia hiburan.

Beberapa tahun lalu, seorang artis terang-terangan mengaku hubungan cintanya dengan seorang perempuan hanya sebuah rekayasa.

Pemerhati dunia hiburan, Maman Suherman, mengatakan bahwa rekayasa untuk mendongkrak popularitas bukanlah hal yang baru di kalangan selebriti. Berdasarkan pengalamannya menjadi wartawan hiburan, ia sudah menemukan rekayasa itu sejak 1980-an.

"Saya, tahun 1980-an sudah pernah diminta oleh seorang produser 'bilangin dong artisku yang ini sedang menjalin hubungan dengan lawan mainnya'," ucap Maman saat dihubungi Kompas.com, Rabu (15/3/2017).

Modus lainnya, ada pasangan artis yang sengaja dibuatkan isu akan berpisah. Namun tak lama muncul proyek film atau karya musik mereka.

Pernah pula ia bertemu seorang publik figur yang secara langsung meminta untuk digosipkan atau dibikinkan sensasi untuk tujuan promosi diri.

"Waktu saya di majalah, tapi tidak sampai nikah dan cerai, cuma digosipin aja bahwa ada keretakan dalam rumah tangganya. Eh, tiba-tiba ketika dikejar wartawan mereka berdua muncul tampil mesra dan mengatakan itu cuma gosip," kata Maman.

Ada lagi, penyanyi kala itu yang di depan matanya berkerja sama dengan seorang produser untuk membuat kabar bohong bahwa penjualan kaset sang penyanyi laris manis hingga mendapat penghargaan platinum.

"Jadi bukan modus baru, bahwa sensasi dan drama bagian dari promosi, ada. Saya sih udah tahu dan bertemu dengan hal itu sejak 1980-an dan 1990-an, pernah. Jadi ini bukan hal baru, itu sengaja direkayasa," ucap Maman.

"Tapi saya tidak menyebut nama karena masalahnya bukan di orangnya, tapi di kasusnya," tambahnya.

Dari pengalamannya yang berkecimpung sebagai pewarta jagat hiburan selama bertahun-tahun, pria yang juga seorang penulis ini belum pernah menemukan rekayasa itu dilakukan oleh pesohor papan atas.

Umumnya, itu terjadi pada artis pendatang baru atau selebriti yang namanya sedang meredup.

"Saya tidak pernah temukan pada artis-artis kelas A yang karyanya diterima oleh publik. Tapi saya pernah mendapatkan artis atau penyanyi pendatang baru yang modal bakatnya pas-pasan dan dia harus mendongkrak itu dengan isu," ujar Maman.

Namun satu yang belum pernah ia jumpai adalah pasangan artis yang benar-benar menikah resmi hanya untuk rekayasa popularitas. Ataupun selebriti yang rela bercerai demi menjadi bahan pemberitaan.

"Saya enggak terlalu yakin bahwa orang berani mengorbankan kariernya dengan melakukan rekayasa yang sifatnya sedemikian nekat, perkawinan direkayasa dan sebagainya," kata Maman.

"Kalau sampai ke tingkat menikah pun direkayasa seperti itu, dia sedang dalam posisi mempertaruhkan kariernya. Dan hanya orang bodoh yang mau melakukan itu menurut saya. Begitu ketahuan, dihujatnya oleh publik," tambahnya.

Kebutuhan dasar dan pengaruh lingkungan

Psikolog sosial yang juga aktris senior, Niniek L Karim, mencoba memandang rekayasa demi mencari panggung itu lewat kacamata ilmiah.

Ia mengatakan, apabila merujuk pada teori profesor psikologi Amerika Serikat, Abraham Maslow, tentang kebutuhan dasar, maka perilaku rekayasa itu sangat manusiawi.

"Menurut Maslow, ada lima kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan fisik, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sebagai makhluk sosial, kebutuhan akan penghargaan, lalu kebutuhan aktualisasi diri," ucap Niniek kepada Kompas.com.

Tentang bagaimana kemudian mengolah atau mewujudkan kebutuhan dasar tersebut, lanjutnya, itu tergantung pada kepribadian manusianya dan juga pengaruh lingkungan.

Niniek mengatakan, beberapa ahli menyebutnya dengan konvergensi, bahwa memang ada bawaan dari lahir, namun pengaruh lingkungan juga sangat besar.

"Tergantung dari bagaimana dia dibesarkan oleh lingkungannya. Apakah dia menjadi orang yang gampang putus asa, makanya cenderung mencari jalan pintas. Ataukah dia selama ini selalu gagal hingga berpikir begitu caranya. Ada sejuta cerita untuk itu," ucap Niniek.

"Manusia itu dikasih Tuhan akal yang seperti ubi jalar. Ketika dia tepentok, tergantung di mana ia diarahkan dan dibesarkan. Apakah dia terasah untuk kemudian mencari ke kanan atau ke kiri, atau berhenti di sana. Tapi semua sama aja, mau di lingkungan hiburan, politik atau bisnis," tuturnya lagi.

Seperti yang diungkapkan Maman Suherman bahwa ia menemukan sebagian besar rekayasa tersebut idenya muncul tak langsung dari sang artis, melainkan orang-orang di sekelilingnya.

"Pernah saya ditawari 'nih ada artis baru saya nih, tapi kan dia belum terkenal, nanti kita isukan deh dengan yang sudah punya nama biar bisa masuk infotainment'. Dia nobody ya dia harus cari somebody sebagai cantolan," ujar Maman.

Namun, dari kacamatanya sebagai psikolog, Niniek menyebut perilaku rekayasa itu bukanlah sebuah fenomena, melainkan sangat individual.

Meski, sudah rahasia umum bahwa hal tersebut tersebut sudah banyak terjadi di dunia hiburan sejak bertahun-tahun lalu.

"Kalau saya bilang itu sebetulnya bukan fenomena. Kalau fenomena itu artinya sudah gejala umum. Tapi ini tidak, kalau ini menurut saya individual sekali. Semua orang punya kebutuhan itu," ujarnya.

"Jadi janganlah ini dianggap fenomena umum. Karena saya kan psikolog sosial, saya tidak mengatakan itu gejala sosial," tambah Niniek.

Page:
PenulisAndi Muttya Keteng Pangerang
EditorKistyarini
Komentar
Close Ads X