Saat Generasi Digital Terkesima Teknologi Lawas Piringan Hitam - Kompas.com

Saat Generasi Digital Terkesima Teknologi Lawas Piringan Hitam

Dwi As Setianingsih
Kompas.com - 18/03/2017, 11:59 WIB
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Beragam piringan hitam (vinil) dari artis lokal dan mancanegara dijual di Jalan Surabaya, Jakarta Pusat, Rabu (15/3/2017). Tempat ini menjadi salah satu pusat penjualan piringan hitam di Jakarta.

JAKARTA, KOMPAS - Era digital membawa banyak perubahan dalam cara manusia mengonsumsi. Musik pun kini bisa dinikmati dengan mudah.

Hanya dengan mengunduh aplikasi di gawai, kita sudah bisa mendengar musik ‘gratis’ (baca : murah). Mestinya, orang tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk mendengar musik.

Anehnya, saat musik ‘murah’ bertebaran di mana-mana, sebagian orang justru menggandrungi vinil atau plat atau piringan hitam (PH).

Di Jakarta, mereka memburu PH di toko-toko PH yang berserak mulai di Blok M Square, Pasar Santa, Senayan Square, Mangga Dua, Jalan Surabaya, hingga Kemang.

“Aku biasa nyari ke Blok M Square yang banyak pedagang ngumpul dan tempatnya enak, nyaman karena ada AC. Kalau enggak ke Jalan Surabaya,” ujar Luthfi Hasan, desainer interior dan praktisi periklanan penyuka PH.

Mulai mengumpulkan PH sejak tahun 2010, kini PH-nya mencapai kurang lebih 500 keping, didominasi lagu-lagu keroncong.

Tak hanya praktisi periklanan dan desainer intertior seperti Luthfi, arsitek, pegawai swasta, DJ, wartawan, musisi (tentu saja), hingga anak-anak generasi langgas pun demam PH.

“Mendengar musik dari vinil itu ribet. Rasanya paling ribet dari semua medium yang ada. Tapi itulah seninya. Di tengah segala keribetan, kita justru sangat menghargai momen mendengarkan musik itu. Betapa setelah segala keribetan, kita bisa duduk manis dan mendengarkan musik. Disitulah nikmatnya,” kata Giring ‘Nidji’ yang juga penggemar PH.

Maka itu, tak terhitung pula kemunculan toko-toko piringan hitam online di media sosial. Di instagram, akun-akun penjual PH memiliki follower hingga ribuan orang.

Saat penjualan keping CD lesu, demam PH justru makin kencang. Padahal harga sekeping PH tidak murah.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Piringan hitam (vinil) diputar di sebuah kios penjualan piringan hitam di Jalan Surabaya, Jakarta Pusat, Rabu (15/3/2017). Tempat ini menjadi salah satu pusat penjualan piringan hitam di Jakarta.
PH band-band luar negeri yang bekas, harganya berkisar Rp 150.000 – Rp 500.000, tergantung kelas musisinya dan tingkat kesulitan mendapatkan PH-nya. Begitu juga dengan PH musisi dalam negeri lama.

Piringan hitam, sudah kuno mahal lagi!

Apakah ini sekadar tren? Bentuk dukungan para penggemar musik terhadap industri musik yang tengah digempur teknologi digital sebagaimana digaungkan melalui Record Store Day?

Atau memang ini adalah vinil revival, masa kebangkitan PH yang pernah diprediksi berpuluh tahun lalu? Apakah fenomena ini bisa menjadi peluang bagi musisi atau artis untuk meraup keuntungan mengingat fenomena ini pun kini disambut musisi-musisi tak hanya di luar negeri, tapi juga di dalam negeri?

Musisi seperti Dewa Budjana, Nidji, Dialog Dini Hari pun mengeluarkan PH. Juga LaMunai Records yang akan kembali merilis album Philosophy Gang dari The Gang Of Harry Roesli. Begitu juga Giant Step yang akan merilis PH album Life’s Not The Same.

Simak liputan tentang gila PH ini di rubrik Gaya Hidup di  Kompas Minggu, Minggu (19/3/2017). Liputan vinil akan mengisahkan bagaimana generasi digital kini mulai menggandrungi teknologi lawas piringan hitam. 

Ikuti pula kisah Cut Mini, peraih Piala Citra dalam Festival Film Indonesia 2016 berkat aktingnya dalam film Athirah, ulasan film Bid'ah Cinta, obsesi 28 tahun Martin Scorsese dalam film Silence, dan film yang sedang ramai diperbincangkan, Beauty and The Beast.

Sebagai teman pada hari Minggu, ikuti Kompas Minggu dengan jalan-jalan ke surga Riau, Pulau Rupat dan petualangan lidah dari kuliner Perancis hingga festival makanan di Tegal. 

Anda juga bisa berlangganan koran Kompas maupun Kompas versi digital melalui website Kompas.ID

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisDwi As Setianingsih
EditorAmir Sodikin
Komentar
Close Ads X