Menyimak Kembali Harry Roesli - Kompas.com

Menyimak Kembali Harry Roesli

Kompas.com - 19/03/2017, 16:00 WIB
KOMPAS.com/TRI SUSANTO SETIAWAN Dua personel grup musik The Gang of Harry Roesli, Harry Pochang dan Indra Rivai, diabadikan di SAE Institute, Pejaten Raya, Jakarta Selatan, Jumat (17/3/2017). Mereka menghadiri perilisan album Philosophy Gang dalam bentuk piringan hitam.

JAKARTA, KOMPAS.com -- Album itu berjudul Philosophy Gang atau gerombolan filsafat. Memang terkesan berat.

Walau begitu, album pertama mendiang Harry Roesli, yang memakai nama The Gang of Harry Roesli, itu memikat banyak orang, bahkan hingga 44 tahun setelah peluncurannya dulu.

Salah satu yang terbuai oleh album itu adalah Rendi Pratama (30).

Beberapa tahun silam, ketika masih kuliah di Bandung, ia "dicekoki" lagu "Malaria" dari album itu oleh pedagang piringan hitam bekas di daerah Cikapundung. Upaya si pedagang itu belum berhasil.

"Lagunya, kan, agak balada gitu. Seperti lagu buat om-om," katanya.

Ia pun urung membeli, padahal ia ditawari harga Rp 150.000. Kelak, harga ini naik berkali-kali lipat.

Beberapa saat kemudian, ia mendengar lagu "Don't Talk about Freedom" yang lewat album kompilasi Those Shocking Shaking Days (Indonesian Hard, Psychedelic, Progressive Rock and Funk: 1970-1978).

Album berisi 20 lagu rock itu diproduksi label AS, Now-Again Records, pada 2011.

Album kompilasi itu seperti memberi gambaran betapa musik rock dari Indonesia pada 1970-an amat digemari di AS ataupun Eropa.

Nuansa psychedelic atau funk di lagu "Anti Gandja" oleh The Brims tak kalah sedap dibandingkan lagu-lagu Iron Butterfly.

Sementara lagu The Gang of Harry Roesli, "Don't Talk about Freedom", dibanding-bandingkan dengan komposisi besutan Frank Zappa.

Lagu itulah yang lantas memikat Rendi dan membuatnya merasa sedikit menyesal gagal memiliki albumnya.

Tapi, akhirnya ia dapat juga. Koleksi piringan hitamnya pun bertambah banyak, sampai sempat berdagang di Pasar Santa tahun 2014.

Saat itu, kaum muda kota besar, apalagi Jakarta, sedang demam vinil akut. Dagangannya laris.

Cuma empat bulan saja dia berjualan di sana. Dia menutup toko karena merasa labanya sudah cukup. Dia ingin punya label rekaman yang memproduksi piringan hitam.

Album Philosophy Gang adalah yang pertama terlintas di kepalanya. Dari pengalamannya berdagang, album itu banyak peminatnya, tapi stoknya terbatas. Di pasar internet, harga jualnya bisa tembus Rp 4 juta.

"Orang-orang nunggu album ini dibikin lagi (reissue)," katanya yakin.

Kisah David Tarigan dari Irama Nusantara mendukung optimisme Rendi.

Dua tahun lalu, David pernah ke London, Inggris, dengan uang saku pas-pasan. Ia membawa dua vinil, album dari Dara Puspita dan Philosophy Gang.

"Gue jual 250 poundsterling, cepet banget disikat orang. Malah katanya kemurahan. Yang penting hidup gue terjamin di sana," kata David.

Toko kelontong
Pihak keluarga Harry Roesli tak keberatan dengan itikad Rendi.

"Ibu saya cuma minta urusan administrasinya beres," kata Lahami Khrisna Parana, anak Harry Roesli.

Syarat itu tak bisa dipenuhi oleh label-label yang pernah mengajukan diri sebelumnya. Sebab, album itu dulu tercatat dikeluarkan oleh Lion Records yang beralamat di Singapura.

Rendi tak patah semangat. Ia berangkat ke "Negeri Singa" berbekal alamat label itu.

Rupanya alamat itu adalah sebuah toko kelontong. Ia diyakinkan oleh orang-orang sekitar bahwa tak pernah ada perusahaan rekaman di tempat itu. Dari dulu, terutama sekitar tahun 1973, tempat itu adalah toko.

"Produk pertama label itu, ya, album kami. Setelah itu hilang. Bisa jadi itu akal-akalannya Mas Harry (Roesli) biar terlihat keren albumnya dirilis label luar negeri, ha-ha-ha," kata Indra Rivai, pemain kibor band itu.

"(Kalau memang benar akal-akalan) Mas Harry adalah pencetus berita hoax pertama," imbuh Harry Pochang, pemain harmonika.

Selorohan itu bisa dimaklumi karena menurut keluarga dan orang-orang terdekatnya, sosok Harry Roesli tak lepas dari hal-hal mengejutkan.

Kejutan itu dirasakan oleh Indra dan Harry ketika merekam album itu.
Rekamannya dilakukan di Musica Studio, Jakarta, dengan operator Yamin Widjaja, pendiri Musica.

"Kebanyakan lagunya jadi ketika di studio. Suasananya seperti jamming saja. Lima hari rekaman, jadi tujuh lagu," kenang Harry Pochang.

Selain Harry Roesli (bas, perkusi, vokal utama, dan gitar akustik), Indra, dan Harry Pochang, band itu diawaki pula oleh Albert Warnerin (gitar utama, perkusi, dan vokal), Janto Soedjono (drum, perkusi), serta Dadang Latiev (gitar).

Lima lagu diciptakan Harry Roesli. Dua lainnya, "Roses" dan nomor instrumentalia "Don't Talk about Freedom", adalah karya Albert.

Lagu paling terkenal dari album itu adalah "Malaria" dengan lirik bergaya surealis dan petikan gitar yang manis.

"Seprei tempat tidurmu putih/itu tandanya kau bersedih/mengapa tidak kau tiduri//Kau hanya terus menangis//".

Untaian lirik itu diikuti kalimat tanya yang membekas di kepala, "Apakah kau seekor monyet/yang hanya dapat bergaya//".

"Entah apa artinya lagu itu. Mas Harry enggak pernah menjelaskan isi lagu-lagunya," kata Harry Pochang.

Sebelum direkam, lagu itu beberapa kali dimainkan di panggung. Irama dan durasinya pun ramah radio sehingga lagu tersebut cukup terkenal.

Dibagikan
Tapi, apakah albumnya laku?

"Albumnya enggak pernah dijual resmi. Hanya kami bagi-bagikan ke siapa saja," kata Indra.

Ia ingat pernah menyimpan puluhan album itu di bawah tempat tidur di kamar kosnya di Bandung. Teman-teman yang main ke kosnya ia bebaskan mengambil album itu, sampai ia sendiri tidak kebagian.

Belakangan, setelah mendengar ada anak muda yang mau menerbitkan kembali album itu, Indra penasaran ingin mendengarkan lagi.

Ia mencari ke kawasan Blok M Square. Album yang ikut ia buat itu ia tebus dengan harga Rp 800.000.

"Itu pun tanpa sampul, ha-ha-ha," ujarnya.

Atas restu keluarga almarhum, terutama izin dari Kania Perdani Kandiman, istri Harry Roesli, dan keluarga personel lainnya serta Indra dan Pochang, proyek album itu dilanjutkan.

Rendi, di bawah bendera Lamunai Records, melepas ulang album Philosophy Gang, Jumat (17/3/2017) malam, di auditorium SAE Institute, Pejaten, Jakarta Selatan.

Master atau induk proyek ini memakai album versi pertama, lantas diperbaiki dimensi bunyinya agar lebih hidup dalam bentuk digital. Berkas itu dikirim ke Jerman untuk diperbanyak dalam bentuk piringan hitam berbobot 180 gram.

Kualitas suaranya amat baik. Suara detail harmonika dan perkusi terdengar rata.

Pengalaman mendengarkan salah satu album terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stone Indonesia itu yang kini bakal dirasakan kembali oleh pembeli, umumnya anak muda, yang mengantre pada malam peluncuran itu.

Karya penting Harry Roesli akhirnya beredar lagi. (DOE)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 Maret 2017, di halaman 27 dengan judul "Menyimak Kembali Harry Roesli".

EditorAti Kamil
Komentar
Close Ads X