Warga Gunung Kidul Lestarikan Budaya Lokal - Kompas.com

Warga Gunung Kidul Lestarikan Budaya Lokal

Jodhi Yudono
Kompas.com - 18/04/2017, 07:44 WIB
KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Ilustrasi: Warga Desa Kemiren di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menggelar tradisi tumpeng sewu, Kamis (17/9/2015). Mereka menikmati tumpeng pecel pitik sebagai tradisi bersih desa setahun sekali.

GUNUNG KIDUL, KOMPAS.com--Warga di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, berupaya melestarikan adat dan budaya lokal.

Kepala Desa Bejiharjo Yanto di Gunung Kidul, Senin, mengatakan sampai saat ini masyarakat di wilayahnya masih memegang teguh budaya yang ada, dari budaya secara individu mulai dari kehamilan sampai kematian, dan budaya secara komunal mulai bersih-bersih kali hingga bersih dusun.

"Wilayah kami masih memegang budaya dan akan terus dilestarikan," kata Yanto.

Ia mengatakan pemerintah desa (pemdes) memberikan dukungan baik untuk pendanaan maupun pemberian fasilitas yang digunakan untuk kegiatan kebudayaan. "Kami berupaya melestarikan kebudayaan, agar anak cucu kelak masih bisa melihat apa budaya leluhurnya," katanya.

Yanto mengatakan salah satu budaya masyarakat yang masih dipegang yakni bersih kali yang dilakukan warga di Dusun Gunungbang. Selain wujud tradisi, kegiatan ini untuk melestarikan mata air yang ada di dusun tersebut.

Ketua Dewan Kebudayaan Gunung Kidul CB Supriyanto menyampaikan pihaknya mengapresiasi kegiatan yang dilakukan masyarakat. Hal ini bentuk pelestarian budaya yang dianjurkan dalam Undang-Undang Keistimewaan.

"Tidak ada yang salah dengan upacara adat, karena ini merupakan salah satu wujud syukur terhadap Tuhan melalui pelantara lain," katanya.

Ia mengatakan sebagai desa budaya, Desa Bejiharjo memang harus melestarikan upacara adat dan tradisi masyarakat. "Tradisi masyarakat harus tetap lestari," katanya.

Sementara pelaksana lapangan warisan budaya dan tata nilai Dinas Kebudayaan Gunung Kidul Sudarmanto menyampaikan pada 2017, ada 50 paket budaya yang dibiayai oleh dana keistimewaan. Setiap paket rintisian budaya 20 pelaku, dan untuk kalender even 25 pelaku, masing-masing mendapatkan Rp250 ribu.

"Biaya ini diberikan berasal dari dana keistimewaan," katanya.

Ia mengatakan di Gunung Lidul tradisi budaya masih banyak dilakukan masyarakat. "Di Gunung Kidul tradisinya tergolong masih terjaga, dan nantinya akan dijadikan warisan budaya tak benda," katanya.

PenulisJodhi Yudono
EditorJodhi Yudono
SumberANTARA
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM