Kartini yang Ringkih, Kartini yang Gigih Halaman 2 - Kompas.com

Kartini yang Ringkih, Kartini yang Gigih

Bambang Asrini Widjanarko
Kompas.com - 21/04/2017, 07:05 WIB
Dok Lenny RW Sejumlah seniman perempuan menafsir Kartini lewat surat-suratnya di Gedung Tempo sepanjang April 2017.

Sengaja dilahirkan

Dari sanalah sebagian sejarawan menyebutnya sengaja Kartini “dilahirkan” dan beberapa peneliti menudingnya diperalat ambisi pribadi Abendanon untuk sebuah proyek pemitosan.

Sebenarnya, semua itu bukanlah entitas personal. Sebab keniscayaan buah pencerahan peradaban Eropa dengan meniru jargon pembebasan di Perancis: liberte, egalite, fraternite yang didengungkan ulang di tanah jajahan Hindia Belanda, menjadikannya episentrum politik balas budi.

Sebuah upaya menyetarakan antara sang tuan dengan abdinya lewat sutradara utamanya kerajaan Belanda, agar mereka dianggap “beradab” di mata bangsa Eropa lainnya. Proyek pembesaran nama Kartini diteruskan Soekarno, tentu dengan nafas berbeda dengan glorifikasi model kolonial pada 1964.

Soekarno didesak di zaman tak menentu tatkala sosialisme, liberalisme, nasionalisme serta “spiritualisme” bersingkarut berebut empati massa. Kartini kemudian menjadi proyek eksperimen ingatan bersama bahwa perlu ada pahlawan perempuan yang mewakili arus besar revolusi bangsa yang masih bayi.

Yang kita tahu sesudahnya, era Orde Baru, mengerangkeng kembali figur Kartini dengan politik formalitas gaya “Ibu” yang mengembalikan perempuan ke ruang domestiknya: rumah.

Dengan representasi lembaga kuat seperti Dharma Wanita, Persit Kartika Candra Kirana, atau aktivitas-aktivitas PKK serta wujud seremoni simbolik lainnya. Sosok Kartini memang jauh panggang dari api dibanding gelegak feminisme yang berakar pada kesetaraan dan kekuatan perempuan di ranah publik, merdeka menentukan nasib atas diri dan kaumnya sendiri.

Kartini yang mati muda di usia 25 tahun mungkin memang “kalah” selama hidup (1879-1904). Jika diposisikan menunduk patuh pada adat, yang lahir dari ibu yang menjadi istri ke-2 yang selanjutnya memingitnya sejak usia 12 tahun.

Tapi fakta-fakta sejarah menggugah kita, ia berbuat lebih dengan intelektualitasnya yang menyalak menolak. Ia bisa jadi ringkih, rebah di tanah serupa bambu di masa pertumbuhan, namun surat-suratnya kokoh menghunjam dan berakar kuat dalam gelap zaman.

Ia kelak menjadi pondasi bagi bambu dewasa menopang tubuhnya bermeter-meter menengadah ke arah matahari: Door Duisternis tot Licht (1911), Dari Kegelapan Menuju Cahaya.

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar itu menulis dengan elok “pledoi” tentang Kartini, figur yang disalahpahami berbagai pihak dengan buku biografi Panggil Aku Kartini Saja (1956-1961).

Sebuah risalah yang seolah menggugat, menyatakan bahwa Kartini perempuan kuat. Menurut Pram, tanpa mengupas karya-karya Kartini, sejarah Indonesia modern adalah cacat.

Sejak dari judulnya ada kegerahan menajam, yang dipinjam Pram lewat surat Kartini ke salah satu sahabatnya, Estelle Zeehaandeelar pada 25 Mei 1899.

Kartini melawan feodalisme Jawa sekaligus kolonialisme Belanda dengan khusuk, menentang perbudakan atas harga diri orang-orang biasa. Dimulai ajakan ia pada orang-orang di sekitar untuk menyapanya tanpa gelar keningratan.

Pram menjadi penyambung lidah Kartini yang paling vokal, menafsirkan hidupnya yang bertaji, seperti dikutipnya di surat Kartini ,“Tiada yang lebih gila dan bodoh daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya itu”.

Pada tataran lain, kita bisa mengaitkan pikiran-pikiran Kartini yang sama sekali tidak ringkih itu dengan kemungkinan persentuhan intelektualnya dengan kakak kandungnya sendiri, Sosrokartono. Seorang poliglot, ahli bahasa yang menguasai puluhan bahasa asing dan jurnalis peliput Perang Dunia ke-I.

Sejarah juga mencatat, ia juga inisiator berdirinya Indische Vereeniging, yang kelak menjadi cikal bakal organisasi Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) pada 1922 yang menuntut Indonesia merdeka.

Manusia terpelajar dari Bumi Putera yang bersekolah di Leiden, Belanda, dengan selisih usia hanya dua tahun dengan adiknya tidak menutup kemungkinan mempengaruhi pandangan– pandangan luar biasa kritis Kartini waktu itu.

Page:
EditorAmir Sodikin

Komentar
Close Ads X