Lokasi Bom Kampung Melayu dan Pesan Antikemajemukan - Kompas.com

Lokasi Bom Kampung Melayu dan Pesan Antikemajemukan

Bambang Asrini Widjanarko
Kompas.com - 28/05/2017, 04:35 WIB
Dok Fendi Siregar Seorang seniman membuat mural yang menggambarkan imej Gus Dur, di kampung Bali Mester, Jatinegara.

PERISTIWA bom yang meledak di Kampung Melayu, Jakarta Timur, sebagai aksi bunuh diri untuk tujuan-tujuan tertentu telah memporak-porandakan semuanya.

Tidak hanya membuat hancur hati seluruh keluarga yang menjadi korban bom, namun, yang lebih menyedihkan, peristiwa kekerasan itu merapuhkan tenunan kemajemukan bangsa ini.

Beberapa ratus meter dari titik lokasi bom yang meledak di halte bus transjakarta di Kampung Melayu, adalah salah satu wilayah paling berbineka di seantero Jakarta, yakni kawasan Bali Mester.

Sejarah Kampung Bali Mester adalah sebuah narasi besar tentang pluralitas, dalam konteks pemukim, budaya, dan keyakinan dengan teritori utamanya di kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.

Mester diambil dari nama Meester (tuan) Cornelis. Catatan harian VOC (Dagregister) pada 13 Desember 1656 menyebut Meester Cornelis seorang penginjil dari Pulau Banda yang telah membeli tanah di wilayah Jatinegara.

Semenjak itu, keberagaman mewarnai lebih marak. Akulturasi terjadi dari penduduk lama pendatang asli dari Bali, etnik Tionghoa yang memusatkan diri di aktivitas perdagangan, kemudian etnik Jawa dan Betawi yang mendiami wilayah ini menyusul dari generasi ke generasi.

Kampung Bali Mester adalah kampung Bali tua yang bersamaan hadirnya dengan pemukim etnik Bali di kampung Tambora, Jakarta Barat. Sejak Ratusan tahun lalu orang-orang Bali memang mendiami wilayah ini, jauh sebelum ada kota Batavia.


Dalam sejarah, sejak zaman VOC, tak ada catatan tentang konflik besar karena perbedaan keyakinan atau problem kemajemukan di masyarakat.

Karena itu, Jatinegara dan tentunya Bali Mester, dianggap sebagai pusat ekonomi yang selalu dinamis dan prototipe masyarakat penghuninya memiliki tenggang rasa dan empati yang tinggi.

Kita bisa menyaksikan Gereja Koinonia di ujung pertemuan Jatinegara dengan Matraman, Masjid Jami' tua Al Anwar di Rawa Bunga, Kelenteng Amurva Bhumi di Pasar Lama Jatinegara, serta vihara-vihara mungil yang tersembul diantara gang-gang kecil pemukiman warga di kampung Bali Mester.

Baca juga: Mengunjungi Bangunan Bersejarah di Jatinegara

KOMPAS.COM/FITRI PRAWITASARI Gereja Koinonia di ujung pertemuan Jatinegara dengan Matraman, Jakarta Timur.

Pesan bom

Almarhum Profesor Benny H Hoed, pakar lingusitik dan kajian ilmu sosial- budaya mengenalkan istilah anchorage, yang berasal dari kata anchor alias jangkar atau tonggak dalam bahasa Indonesia untuk memahami sebuah peristiwa sebagai sebuah pesan.

Kejadian yang menjadi sebuah tanda dengan kandungan-kandungan makna ingatan komunalitas yang menghantar bersamanya. Memori kolektif sebagai sebuah ilmu tafsir budaya tidak merangkum hanya sebuah isu yang muncul hari ini.

Tapi, mengkaji sebuah endapan peristiwa-peristiwa ratusan tahun di masyarakat yang segera hadir tatkala peristiwa tragis bom membawa serta-merta untuk didedah.

Hoed menjelaskan bahwa tonggak sebagai sebuah peristiwa adalah representament, sebuah simbol perwakilan di permukaan yang jika kita menggali lebih jauh akan terhubung dengan elemen lambang lainnya, interpretant.

Yakni, kandungan isi, makna sesungguhnya yang selalu sejalan dan mempertegas tanda “lahiriah” yang bisa kita langsung saksikan hari-hari ini. Dalam peristiwa bom, kampung Bali Mester yang dekat lokasi peledakan, sejatinya hendak digoyang dan dikoyak dengan keras.

Ada upaya “dekonstrusi simbol” oleh pelaku bom, meluaskan sekaligus melepaskan, menganggu dan mematahkan hakikat makna lama: kedamaian hidup, meski masyarakatnya saling berbeda-beda keyakinan.

Pesannya, bisa jadi “provokasi, dengan amunisi kebencian dan teror yang hendak dibiakkan di lokasi paling majemuk”. Peristiwa Bom menjadi metafora untuk berbicara sebagai sebuah gejala bahasa, sebuah pesan ancaman yang kuat.

Siapa saja yang menjadi aktor intelektual di belakangnya, dan entah motif politik yang disandangnya, betapa tega ia memporak-porandakan lokasi dimana kemajemukan telah terawat ratusan tahun lewat.

KOMPAS.COM/FITRI PRAWITASARI Masjid Jami Al Anwar di Rawa Bunga, Jatinegara, Jakarta Timur.

Ekspresi seni

Penulis pernah meneliti dan menyambangi lokasi untuk mengerjakan sebuah proyek seni dengan menimbang struktur dan kondisi psikologis masyarakat di Bali Mester. Setahun lalu, tepat beberapa hari menjelang bulan Ramadhan.

Dengan komunitas Jakarta Art Movement (JAM), Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI), dan sejumlah komunitas street art, bersama-sama berkolaborasi dengan dua orang penari kontemporer dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) membuat kerja ekspresi seni di sana.

Pilihan street art, waktu itu, dengan menimbang bahwa street art dikenal publiknya sebagai seni yang salah satu elemennya memiliki kandungan bercorak politis. Politis dalam artian, motif produksi artistiknya yang terhubung dengan isu-isu sosial.

Ini bisa ditilik dari cara mereka “menguasai ruang publik yang non galeri dan museum ”, melawan tendensi komodifikasi seni dalam ruang-ruang kolektif yang eksklusif, sampai kegigihannya untuk berekspresi secara spontan dan jelas, semacam media propaganda sosial.

Sementara, dalam konteks tari kontemporer semakin meluaskan jaraknya dengan tak hanya mengeksplorasi plastisitas tubuh namun menjajal kemungkinan-kemungkinan relasi tentang raga, masyarakat dan wacana sosial yang menghilangkan tradisi panggung statis di ruang interior.

KOMPAS.COM/FITRI PRAWITASARI Kelenteng Amurva Bhumi di Pasar Lama Jatinegara, Jakarta Timur.

Kedua ekspresi seni ini bertemu, keduanya bersepakat dalam tajuk proyek seni “interaksi@toleransi 2016” yang dipicu oleh keprihatinan terhadap gejala ancaman intoleransi dan luruhnya semangat keberagaman di masyarakat kita. Bukan di Bali Mester, namun peristiwa-peristiwa di Indonesia, dan Jakarta khususnya pada tahun itu.

Wilayah itu, Bali Mester, diputuskan bersama antar seniman sebagai sebuah hamparan “topografi khusus” bagi komunitas-komunitas street art, menjadikannya segugus ikon hunian masyarakat kosmopolit yang ideal dan menjunjung kesetaraan. Dan sekarang, memasuki bulan suci Ramadhan, yang seharus dipenuhi atmosfir kesucian, peristiwa bom itu seolah-olah memudarkan tenunan kemajemukan di Bali Mester.

Mungkin, sudah waktunya seniman-seniman street art segera bergerak lagi membuat strategi propaganda sosial via seni untuk mengatakan “Tidak Takut” pada acaman dan motif serta dalih apapun di belakang sebuah kekerasan dengan peristiwa bom tersebut. 

EditorAmir Sodikin
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM