Masa Depan Koleksi Seni Istana Presiden Halaman 1 - Kompas.com

Masa Depan Koleksi Seni Istana Presiden

Bambang Asrini Widjanarko
Kompas.com - 19/07/2017, 21:57 WIB
Soekarno di depan Istana Merdeka menyimak seorang aktor film membaca puisi (1956).Wikimedia Commons Soekarno di depan Istana Merdeka menyimak seorang aktor film membaca puisi (1956).

KOLEKSI seni Istana Presiden pada Agustus bulan depan bisa dijenguk publik luas. Konon, akan diselenggarakan ekshibisi istimewa di Galeri Nasional Indonesia. Mengulang tahun lalu, menyemarakkan hari Kemerdekaan.

Tahun ini semestinya lebih baik. Semoga seni tidak untuk politik bersolek. Tapi, benar-benar upaya membangun jati diri keindonesiaan.

Sementara, ingatan kemerdekaan menerbangkan benak di kota Yogyakarta pada 1947. Tatkala langitnya muram ditaburi bubuk mesiu dan peluru.

Belanda belum rela melepas Indonesia dan perang dikobarkan pada Republik muda ini. Uniknya, Soekarno masih sempat memikirkan seni.

Ia melayangkan surat sangat personal ke Pandit Jawaharlal Nehru. Isi surat memohon sahabatnya itu membantu pelukis Affandi melanjutkan studi seni.

Affandi akhirnya berhasil menimba ilmu seni di Institusi Santiniketan, India selama 1949-1951. Dua tahun kemudian Affandi menjadi seniman pertama Indonesia yang berpameran di ajang prestisius di Venice Biennale (Italia) dan Sao Paulo Biennale (Brazil).

Pada cerita lain, Soekarno harus bernegoisasi berat dengan Presiden Meksiko, Dr Mateus Lopez. Lagi-lagi soal seni. Kali ini terpikat lukisan maestro dunia Diego Rivera, “Women with Flowers (1946-50)”.

Soekarno merengek agar lukisan itu diboyong ke Indonesia. Karena seluruh karya seni Istana Presiden Meksiko dilindungi Undang-Undang, Lopez terpaksa mengeluarkan Dekrit Presiden.

Dua narasi menarik tentang Soekarno dan seni tersebut, jeli dicatat oleh peneliti sekaligus kurator Mikke Susanto dalam buku “Bung Karno, Kolektor & Patron Seni Rupa Indonesia (2014)”.

Anda bayangkan, seorang presiden, sekaliber Soekarno mau bersusah payah. Ia meluangkan waktu dan energinya untuk seni. Bahkan, ia berhadapan langsung dengan dua pemimpin negara, semata-mata melabuhi seni.

Tak hanya soal hobi dan koleksi saja. Seni, dianggap Soekarno media perjuangan membantu Indonesia berdiri dengan kepala tegak. Utamanya, sejajar dengan negara-negara Barat yang menghargai karya-karya seni dalam peradaban negerinya. 

Dari sejarah, masih dicatat oleh Mikke Susanto, tiap kunjungan Soekarno keluar negeri selalu menyempatkan diri bertandang ke Museum atau Galeri Nasional. Sebagai contoh, di National Gallery of Art di Amerika Serikat (Juni 1956) dan di Museum Seni Lukis Negeri Tretstakovskaya, Uni Sovyet (Agustus 1956).

Pada tahun yang sama, sekitar November-Desember, Soekarno malahan bertemu dengan Pemimpin Besar Republik Rakyat China, Mao Zedong guna membincangkan pencetakan buku Koleksi Istana Presiden Indonesia di Peking.

Harta tak ternilai di lima Istana Presiden di Indonesia ribuan jumlahnya. Yang dianggap sebagai karya seni, sebagian besar milik pribadi Soekarno yang kemudian dihibahkan untuk dirawat negara.

Tentunya, Sekretariat Negara-lah sebagai Kementerian yang bertanggung jawab penuh mengelolanya. Meskipun mengelindap rasa syukur di hati bahwa pemerintah memulai memperhatikan koleksi seni Istana Presiden dengan pameran akbar di Galeri Nasional.

Tapi, kebijakan berupa Undang-Undang perlu dibuat untuk perlindungan khusus. Dengan menimbang beberapa perkara.

Lima perkara mendesak

Pertama, pameran tahun lalu menunjukkan cacatnya sejumlah karya. Dengan demikian ribuan harta tak ternilai tersebut terancam rusak total, jika diabaikan.

Seperti juga yang sempat dikeluhkan oleh Guruh Soekarnoputra dalam Seminar pada pameran tahun lalu. Guruh menjadi salah satu narasumber utama. Karya-karya tersebut tersimpan di lima Istana Presiden dan satu Pesanggrahan khusus.

Yakni di dua Istana di Jakarta, Istana Bogor, Yogyakarta, dan Tampaksiring (Bali). Sisanya, Pesanggrahan Presiden di Cipanas.

Menjadi tanggung jawab kurator dan penyelenggara agar lebih berhati-hati memilih dan memilah karya untuk dipresentasikan ke publik. Tentu dengan mengingat proses untuk memamerkan membuat kondisi karya makin rapuh.

Pemerintah wajib memikirkan visi kedepan, mencegah kerusakan karya-karya tersebut.
Yang kedua, adalah publisitas ke publik internasional tidak maksimal.

Media internasional tahun lalu sedikit memberitakan acara penting ini. Bukankah, pameran juga memiliki intensi mengabarkan pada dunia bahwa bangsa Indonesia mampu menjaga warisan para pendahulunya, artefak seni budaya sebagai simbol kedaulatan bangsa yang merdeka dan beradab?

Page:
EditorAmir Sodikin
Komentar