"Dinner Club", Perjamuan Makan Malam Ingatan - Kompas.com

"Dinner Club", Perjamuan Makan Malam Ingatan

Bambang Asrini Widjanarko
Kompas.com - 28/07/2017, 22:13 WIB
Dinner Club, Karya Lenny Ratnasari Weichert, yang sedang dieksibiskan ulang di Sarang Building I, Agustus 2017 ini di Yogyakarta.Army Yuda Dinner Club, Karya Lenny Ratnasari Weichert, yang sedang dieksibiskan ulang di Sarang Building I, Agustus 2017 ini di Yogyakarta.

SEBUAH pameran seni di Yogyakarta menyajikan tuturan sebuah perjamuan makan malam yang puitik. Mengajak kita menyusuri babak-babak tragik para perempuan, yang kemudian beririsan dengan ingatan komunal tentang negeri ini.

Pameran yang menampilkan satu karya instalasi berjudul “Dinner Club”. Menawarkan ide mengundang 9 tokoh sejarah dunia dan dari jagat mitologi menyaksikan nasib pedih perempuan-perempuan itu.

Meja perjamuan dibentuk dengan simbol gender female, terbuat dari kayu rel kereta api. Kemudian video dokumentasi dan piring-piring yang bersimbol imajinatif tentang figur-figur: Malahayati, Colliq Pujie, Bunda Teresa, Siti Khadijah, Helena Blavatsky, Aung San Suu Kyi. Di wilayah mitologi kita bersua Dewi Sri, Venus serta Dewi Kwan Im.

Kita diajak senimannya, Lenny Ratnasari Weichert, bercengkerama bersama 9 tokoh itu membayangkan apa, yang misalnya ada dalam pikiran Siti Khadijah, perempuan mulia isteri Nabi Muhammad SAW. Ia seolah menyantap makan malamnya dengan bertemu seorang Dewi kecantikan dalam mitologi Yunani, Venus.

Mereka berdua berupaya berempati pada nasib almarhum Marsinah. Seorang aktivis kemanusiaan perempuan yang dibunuh pada zaman Orde Baru dan terus menyisakan teka-teki sampai saat ini.

Atau kisah lainnya, kita bisa merenungkannya, contohnya bagaimana seorang Colliq Pujie, sastrawan, panglima perang dan sarjana perempuan abad ke-19 di Bugis harus duduk bersanding dengan sorang occultist bernama Helena Blavatsky, penggagas masyarakat Theosofi dari Rusia.

Mereka menonton pengakuan Mbah Lestari yang eks Gerwani, sebuah organisasi terlarang underbouw Partai Komunis Indonesia.

Atau, Anda bisa menerbangkan benak pada seorang panglima perang Aceh, abad ke-19, yang memimpin laskar janda Inong Balee, Malahayati, dari Aceh ikut menyimak video rekaman wawancara korban budak seks, Ianfu, pada masa kolonialisasi Jepang. Ia berdampingan dengan sosok junjungan masyarakat Tionghoa, Dewi Kwan Im.

Piring perjamuan makan yang diimajinasikan milik Siti Khadijah, perempuan mulia istri sang Nabi Muhammad SAW. Army Yuda Piring perjamuan makan yang diimajinasikan milik Siti Khadijah, perempuan mulia istri sang Nabi Muhammad SAW.
Lenny, sang seniman “mengundang” mereka semua, tokoh-tokoh itu, bersama menyantap makan malam. Ia merangkainya sedemikian rupa, duduk bersama, melihat babak demi babak sejarah Indonesia dan para perempuan itu.

Ia menyiapkan tim khusus membuat karya. Selama berbulan-bulan, terutama untuk video dokumentasinya dengan menelisiknya dari berbagai sumber dengan sebuah tim, yang terdiri dari dari kamerawan, penulis, dan ia sendiri.

Lenny mendokumentasi para tokoh dari orang-orang dekat di sekelilingnya. Dari Mbah Lestari, yang berusia 90-an, yang kini telah wafat, sampai tuturan berlinang air mata seorang pekerja migran (TKW-tanpa nama) di Arab. Lenny bertemu di bandar udara yang kemudian merekam serta mewawancarainya.

Dinners Club menjadi unik, tatkala karya ini kita lekatkan pada semangat strategi visual apropriasi Lenny pada seniman perempuan Amerika Serikat Judy Chicago, dengan karyanya “Dinner Party”.

Chicago kita kenal karena tenar dengan konsep feminist art dengan mengimajinasikan 39 piring tokoh perempuan dalam instalasi meja makan segitiga dengan konsep para perempuan yang berkontribusi pada peradaban Barat, serta 999 nama lainnya yang terserak di lantai. Yang keduanya memiliki kemiripan sekaligus perbedaan.

Lenny membubuhkan kekuatan ke-Timuran lebih dominan dari peradaban dunia yang dianggap Barat, dengan hanya menyisakan 3 tokoh di sana: Helena Blavatsky (Rusia), Bunda Teresa (Albania), dan Venus (Yunani). Sedang yang lainnya adalah “milik” teritori dunia Timur.

“Dinner Club” juga menyajikan sosok Bunda Teresa, yang beberapa tahun lalu ditasbihkan Vatikan menjadi Santa dengan peran spiritualitasnya mengemuka menjadi “Dewi Timur sekaligus Barat”, kala ia bekerja seumur hidup untuk melayani orang-orang papa di Kalkuta, India.

Sementara itu, Chicago dan Lenny menjadi mirip, kala keduanya sepakat untuk memilih karya-karya “privat” khas perempuan yang melekat berabad-abad dengan memilih bentuk dan materi yang “halus”, seperti porselin atau keramik. Yang dalam seni modern dianggap sebagai craft atau applied art.

Dengan runtuhnya batas-batas seni, hari ini kita melihat banyak perupa baik laki-laki dan perempuan mengerjakan seni keramik kontemporer, dengan meniadakan perbedaan gender.

Strategi apropriasi dalam “Dinner Club” segera mengingatkan kita bagaimana cara seniman Emiria Soenassa, bangsawan Tidore dan seniman perempuan di awal sejarah seni modern Indonesia dengan karyanya “Mutiara Bermain (1942-1948)”.

Piring perjamuan makan yang dimajinasikan  milik Madame Blavatski, seorang occultist dari Rusia.Army Yuda Piring perjamuan makan yang dimajinasikan milik Madame Blavatski, seorang occultist dari Rusia.
Lukisan tentang dua perempuan telanjang di pantai mengapropriasi “The Birth of Venus (1480)”, membangun makna dan arti baru dari milik Sandro Botticelli, seniman dari Florentina-Itali tersohor sekitar 5 abad sebelum Emiria lahir. Karya Emiria dengan “Mutiara Bermain”berupaya menggugah nasib perempuan-perempuan di masa Jepang tersebut.

Sementara itu, bentuk meja makan kayu dan pemilihan lambang gender serta wujud piring adalah kesengajaan Lenny untuk menghindari stereotype meja makan biasa. Ia memunculkan tempat cuci tangan (kobokan-Jawa) dalam tata cara dinner manner khas Timur, yang dikombinasi dengan tata cara makan memakai tangan langsung (tanpa sendok dan garpu).

Dalam waktu sama, gaya makan tetap mengadopsi piring model Barat. Di sana disertakan simbol-simbol, seperti Malahayati contohnya, dengan wujud relief lunak di piring dengan gambar kapal perang Aceh.

Lenny harus menguras energinya dengan membaca dan menyisir data-data, misalnya bagaimana menggambarkan Siti Khadijah. Lenny memilih simbol “ranjang tidur” tempat Khadijah meneruskan anak-anak sang Nabi.

Yang lainnya, seperti lambang tanaman Padi pada Dewi Sri, legenda puteri kesuburan dalam kepercayaan Hindu. Setiap piring tokoh disematkan pula di sisinya handkerchief, kain pembersih mulut dan tangan dengan nama-nama atau karakter khas si empunya piring yang merujuk tokoh tersebut.

Dinner Club yang bermateri kayu, resin, air dry clay ini bisa ditafsirkan bagaimana secara personal Lenny mengalami keterbelahan identitas yang kemudian meluas dengan empatinya pada perempuan-perempuan lain. Ia bersuami seorang Jerman dan sempat berdomisili di kontinen Eropa, seperti Jerman dan Inggeris.

Karena kebimbangan identitas personalnya, ia berhasrat mempertemukan tokoh-tokoh yang diundang dalam jamuan makan malam tersebut dari teritori yang dikatakan “Barat” dan “Timur” sekaligus.

Bagaimanapun, dalam waktu sama, ia telah menguak ingatan-ingatan kolektif, arketipe pada banyak perempuan-perempuan lain di Indonesia. Sebagian dari mereka, masih terus memperjuangkan hak-haknya sebagai perempuan, di saat kita bersama menyongsong hari Kemerdekaan ke-72 negeri ini. Nasib mereka masih saja terkatung-katung.

EditorAmir Sodikin
Komentar