Ketika Seniman dan Pengunjung Berekspresi dalam Satu Ruang - Kompas.com

Ketika Seniman dan Pengunjung Berekspresi dalam Satu Ruang

Reni Susanti
Kompas.com - 23/10/2017, 11:00 WIB
Sejumlah anak muda Bandung yang menekuni visual art, fotografi, musik, dan fashion memajang karya mereka dalam Go Ahead Challenge Festival 2017 di Monumen Perjuangan Rakyat, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Sabtu (21/10/2017).KOMPAS.com/RENI SUSANTI Sejumlah anak muda Bandung yang menekuni visual art, fotografi, musik, dan fashion memajang karya mereka dalam Go Ahead Challenge Festival 2017 di Monumen Perjuangan Rakyat, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Sabtu (21/10/2017).

BANDUNG, KOMPAS.com -- Sejumlah anak muda Bandung yang menekuni visual art, fotografi, musik, dan fashion memajang karya mereka dalam kegiatan Go Ahead Challenge (GAC) Festival 2017 di Monumen Perjuangan Rakyat, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, pada Sabtu lalu (21/10/2017).

Berada dalam ruang bernama A Space, para pengunjung dibebaskan berekspresi menggambar di tembok yang berfungsi sebagai kanvas.

Ruang yang didominasi warna putih itu tidak terlalu luas. Namun, dindingnya dipenuhi ide kreatif hasil kolaborasi anak muda Bandung.

Salah satu yang menarik perhatian adalah karya visual Ade Darmawan, berjudul Old Colony and New Working Bee. Ia menyusun enam gambar abstrak yang dicetak ke kavas berukuran 100x100 cm2 dan menempelnya sejajar.

Old Colony and New Working merupakan hasil cetak saring yang menceritakan bentuk mutasi makhluk hidup. Salah satunya adalah lebah pekerja yang memiliki tujuh pasang sayap dari jenis serangga lain.

Baca juga:Baca juga : 4 Seniman Muda Berekspresi dalam ONboarding Go Ahead Challenge

Pada gambar yang lain tampak anatomi kepala manusia, tetapi urat sarafnya disusun dari kumpulan teks, lingual dan superior contohnya.

Semuanya merupakan kolase dari gambar temuan tentang hewan yang berkelompok dan beberapa jenis tumbuhan spora serta umbi.

Karya itu merefleksikan perhatian Ade Darmawan mengenai sistem kontrol patriarki kapitalis pada masyarakat modern. Enam karya tersebut berspekulasi mengajukan ikon atau emblem baru untuk masyarakat yang bersifat sporadis sekaligus senang berkerumun.

Gambar yang dipajang itu berdampingan dengan ruang pamer kreasi musik yang bisa didengarkan oleh para pengunjung melalui headphone. Karya musik itu merupakan buah dari inovasi tak biasa.

Baca juga: Mocca Bakal Rilis When We Were Young dalam Format Flexi Vinyl

Karya Misbahuddin Ahmadi, contohnya. Musiknya bercerita tentang kebenaran. Di salah satu sudut ruang pamer berwarna putih itu ia menulis kalimat dengan tinta merah berbunyi, "Karena kebenaran tak menciptakan lawan. Karena kebenaran tak menuntut paksaan."

Sementara itu, Hamza Winovan membuat komposisi musik elektronik yang dipadunya dengan  musik etnik. Pada lagu berjudul "Tanpamu" ia menyimpan suara kecapi di beberapa bagian lagu, antara lain di tengah dan akhir lagu.

Musik elektronik bercampur kecapi membuat sound yang diproduksi sangat unik.

Baca juga: Baca juga : Stars and Rabbit Rilis Video Musik Man Upon The Hill

Salah seorang perancang ruang tersebut, Rony Rahadian, mengatakan bahwa ruang itu  dirancang agar para pengunjung bisa mengekspresikan ide atau semangat mereka.

"Ini merupakan festival untuk pecinta dan pelaku seni. Semua dibebaskan untuk berekspresi. Tembok yang ada di ruang bebas dicoret, digambar, atau dituliskan kata-kata yang kreatif," katanya.

Selain pameran, festival tersebut menampilkan sajian dari artis-artis musik Prahyena, Stars & Rabbit, Bottlesmoker, dan Mocca.

PenulisReni Susanti
EditorAti Kamil
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM