Cinta Tak Kan Mati, Kenangan atas Sang Penentang

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: views/read_view.php

Line Number: 103

Artikel Terkait:
Sabtu, 26/1/2008 | 08:31 WIB

Riwayat lahirnya buku kumpulan puisi Cinta Tak Kan Mati karya Irzadi Mirwan sungguh menarik. Adalah Nor Pud Binarto--penyunting buku ini--, awalnya menemukan dua buah puisi dari mantan pacar sang penyair.

Merasa tertarik dengan dua buah puisi tersebut, Nor Pud pun melacak jejak sang penyair beserta karya-karyanya yang berserakan entah di mana. Nor Pud akhirnya mendapat gambaran, betapa sang penyair yang telah meninggal pada 28 Februari 1981, adalah seorang yang menyenangkan buat kawan-kawannya. Itulah soalnya, lembar demi lembar puisi sang penyair yang tersebar itu pun segera terkumpul. "Maklumlah, alumnus ITB itu relatif lebih solid, jadi saya gampang mengumpulkannya," ucap Nor Pud sesaat sebelum peluncuran buku puisi ini di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Selasa (22/1).

Sebagai figur yang menyenangkan, rasanya tak aneh jika pada buku ini tertulis tujuh tulisan pengantar dari para sahabat sang penyair. Sudah tentu, isinya adalah sanjung puja bagi Adi, demikian dulu sang penyai dipanggil. Rizal Ramli yang mantan Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan RI era Gus Dur itu pun menjuluki Adi sebagai seorang sahabat pejuang tangguh berjiwa romantik.

"Adi bukanlah mahasiswa biasa. Dia orang yang memiliki idealisme yang sangat tinggi, yang bercita-cita agar rakyat Indonesia bisa maju dan sejahtera. Untuk itu, selama mahasiswa, dia bekerja dan berjuang agar Indonesia menjadi negara yang lebih demokratis dan adil," tulis Rizal dalam pengantar.

"Dialah pula dengan beberapa kawan seangkatannya mendirikan unti kegiatan mahasiswa ITB bernama Group Apresiasi Sastra, yang ternyata di kemudian hari telah melahirkan banyak penulis, wartawan dan sastrawan handal di negeri ini. Tak ada yang menyangkal bila dikatakan bahwa hampir semua mahasiswa ITB saat itu mengharapkannya suatu kali nanti di masa depan--Adi akan menjadi seorang pemimpin besar di negeri ini," ungkap Yayak Kencrit Adya Yatmaka, pelukis yang juga kawan Adi semasa di ITB.

"Sungguh saya tidak malu mengakui bahwa saat itu saya sangat kagum pada Adi yang usianya beberapa tahun lebih muda dari saya, tapi mempunyai pandangan yang sangat mudah dicerna, walau sangat sulit untuk mengikutinya," tutur Bram G. Zakir, aktivis mahasiswa UI '78.

Lantas, seperti apa gerangan karya-karya Adi? Selintas, memang tak ada bedanya dengan cara bertutur para penyair di zamannya; bersahaja, dengan balutan nuansa yang romantik. Simaklah sajak Lingkaran ini:
kini saatnya
aku melontarkan diri
ke luar dari lingkaran berputar
yang melibat diri

sendiri berputar
membentuk cakram
memukul penghalang
di ruang putarnya

Yang membedakan puisi Adi dengan kawan seangkatan pada zamannya seperti Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, puisi-puisi Adi kurang berterus-terang seperti pada pusisi karya Remy Silado yang mendekati vulgar itu. Pada puisi berjudul Pintu Pintu yang Telah Membuka, amat kentara soal ini:
ketika engkau mengetuk pelan-pelan
daun pintu rumahku
aku serta merta membukanya
seperti juga yang sama
telah kau lakukan
tanpa kita takut untuk kehilangan

Boleh jadi, "kehalusan" Adi dalam bertutur adalah sebuah paradoks yang biasa menghinggapi insan-insan yang berada dalam lingkungan keras. Adi bagaikan para penyanyi rock yang memiliki karakater keras tapi memiliki kedalaman yang amat sangat tatkala menyanyikan lagu-lagu cinta. Atau dalam bahasa Acep Zamzam Noor, Adi yang seorang aktivis yang bicaranya selalu berkobar-kobar, yang semangatnya begitu mnyala-nyala, yang pernah dipenjara karena keberaniannya menentang penguasa Orde Baru, luluh di hadapan puisi, lebur di bawah pesona kata-kata.

Jika benar puisi adalah potret seorang penyair atas zamannya, kumpulan puisi Cinta Tak Kan Mati, niscaya bukan cuma sepenggal kenangan dari Adi buat para sahabat dan kerabatnya, tapi juga buat generasi sesudahnya yang tak pernah merasai hidup di bawah "sepastu lars" rezim Orde Baru.

JY

A A A
komentar anda :
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
 
 
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort