Ketika yang Buta Menceritakan Dunia

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: views/read_view.php

Line Number: 103

Artikel Terkait:
Sabtu, 26/1/2008 | 09:42 WIB

Apa jadinya ketika seorang buta menceritakan semesta dan isinya lewat sajak? Bagaimanakah ketika ia yang tuna-netra bercerita tentang angin, tentang malam, bulan, cemburu, lilin, dan cinta?

"Seperti berada di dunia yang lain," kata artis Rieke Diah Pitaloka yang pada malam peluncuran buku puisi Angin pun Berbisik di Gedung Kesenian Jakarta pada Rabu (23/1) membacakan salah satu karya Irwan Dwi Kustanto, penyair yang tuna-netra itu.

Angin pun Berbisik, adalah buku kumpulan sajak cinta dari tiga anggota keluarga: Irwan Dwi Kustanto (ayah), Siti Atmamiah (ibu), dan Zeffa Yurihana (anak). Boleh jadi, buku ini memang buku kumpulan puisi pertama yang ditulis oleh sebuah keluarga.

Prof. Dr. Melani Budianta, guru besar sastra Universitas Indonesia mengatakan, buku ini unik karena ditulis oleh tiga anggota keluarga. "Ini barang langka. Keluarga ini punya talenta yang khusus," ucap Melani saat membedah buku ini pada siang menjelang acara peluncuran.

"Yang disuarakan di antologi ini kutubnya berbeda. Irwan sebagai penyair lelaki, justru memanfaatkan cinta kepada keluarga untuk menjadi spirit bagi puisi-puisinya," sambung Melani.

"Tidak seperti kebanyakan para penyair lelaki yang kerap "memanfaatkan" penyelewengan sebagai alasan untuk memicu kreatibvitas," ucap Fajrul Rahman selaku moderator acara bedah buku.

Saat membedah sajak-sajak Irwan, Melani mengungkapkan, kekuatan Irwan yang tertangkap lewat puisinya adalah terletak pada deskripsi yang ia peroleh dari indera pendengaran dan penciuman. Melani pun memberi contoh puisi yang berasal dari indera pendengaran lewat puisi Angin pun Berbisik 4:
Kudengar di balik senja isyarat-isyarat bergema
Kudengar entah suara siapa
Melengking melantun doa
Kudengar jejak kakimu
.............

Ketika gerimis mengetuk pintu menjelang fajar
Kudengar angin pun berbisik
Hampa mendera di antara kita:
Sepi, dan...
Semakin menggelegar tatkala angin berlalu

Atau pada puisi yang lahir dari  deskripsi indera penciuman:
Putri, kadang aku lupa
Menciumimu entah mengapa
Namun, kutahu, begitu saatmu tersenyum, aku merasa tak punya
(dari pusisi Selamat Ulang Tahun).

Lain Irwan, lain pula sang nyonya, Siti Amamiah. menurut Melani,  ibu tiga anak ini memiliki empati yang besar, sementara Zeva sang puri memiliki pengalaman batin yang kaya. "Dia anak yang ideal, anak yang mengenal alam sekitarnya dengan baik, mengenal kedua orang tuanya dengan baik, masih tahu dongeng si Kancil," ungkap Melani.

Buku bertebal 164 halaman yang diterbitkan oleh Sp@si dan Yayasan Mitra Netra ini rasanya memang layak dibaca oleh banyak orang. Selain menghadirkan kata-kata indah, buku ini juga bisa menjadi spirit bagi kita sekalian untuk lebih menghargai dan mencintai keluarga.

JY

A A A
komentar anda :
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
 
 
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort