

|
/ Home
Mengenang Pemusik dan Manusia Lengkap Bill Saragih (1)
A PHP Error was encounteredSeverity: Warning Message: Invalid argument supplied for foreach() Filename: views/read_view.php Line Number: 103
Artikel Terkait:
JAKARTA, RABU - Khalayak, khususnya penggemar jazz di Indonesia tak akan bisa lagi menikmati langsung suara beratnya menyanyikan lagu What a Wonderful World ciptaan Louis Armstrong. Juga takkan pernah lagi melihat aksi lelaki tua trendi di atas panggung dengan flute seraya bersenandung shap..shap..shap..shap... oyeah. Pada Selasa, 29 Januari 2007 pukul 11.24 WIB pemilik suara berat yang nikmat ditelinga serta aksi panggung yang Semenjak istrinya tercinta, Anturang Anna Rosemary (63 tahun), meninggal pada Senin, 18 Januari 1999, Oom Bill -- demikian para musikus jazz yang lebih muda usianya menyapanya -- memang seperti kehilangan sebagian semangat hidupnya. Ia kerap sakit-sakitan. Kondisinya mulai memburuk akibat strooke yang merundungnya sejak tujuh tahun lalu dan diabetes menelikungnya. Sebelumnya, musisi kelahiran Pematang Siantar, Sumatra Utara, 1 Januari 1933 dirawat di RS Internasional Bintaro Menurut rencana jenazah Bill Saragih akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Ketika tulisan ini diturunkan, jenazahnya disemayamkan di rumah duka, Jalan Delima Jaya Taman Rempoa Indah Blok D 24, Ciputat, Tangerang, Banten. Pemusik komplit Maklumlah, Bill yang telah mengenal musik sejak usia dini memang banyak belajar berbagai instrumen. Ia pernah belajar formal musik jazz kepada David Becker. Selanjutnya, ia belajar sendiri lewat permainan para musikus yang dikaguminya. "Untuk piano saya mengagumi Oscar Peterson. Untuk saksofon John Coltrane, vibrafon saya menyukai Lionel Hampton. Untuk drum idola saya Buddy Ridge dan Gene Kruppa. Pemain perkusi yang saya kagumi adalah Steve Gadd," kata pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatra Utara, 1 January 1933 itu kepada Kompas (Minggu, 03 Jan 1993). Sebenarnya tak ada yang menyangka bahwa anak ke-5 dari 11 bersaudara putera Jan Kadoek Saragih ini, akan betul- betul menggeluti musik, kendati sejak kecil ia memang sudah digembleng sang ayah di bidang ini. Antara lain dengan latihan menabuh gendang agar bisa menguasai ritme. Bill akhirnya memang mengambil keputusan untuk terjun total ke dunia musik. Ia bahkan meninggalkan kuliahnya yang tengah dijalani di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Sempat menjadi pemusik dan penyanyi di hotel-hotel di Jakarta, tahun 1966 Bill melanglangbuana ke luar negeri. Di Bangkok ia bertemu dan berkenalan dengan Anna, wanita Inggris yang mengagumi kepiawaiannya dan kemudian dinikahinya, yakni pada tahun 1966. Di Bangkok pula Bill mereguk pengalaman yang tak pernah dilupakannya sebagai pemusik: bermain sepanggung dengan Lionel Hampton, pemusik jazz legendaris yang ia kagumi. Tahun 1973 Majalah Tempo menuliskan pengalaman indah pemusik komplet yang pandai memainkan vibraphon, piano, fluet dan tenor saksophon tentang penampilannya bersama Hampton. Ketika itu Hampton sedang manggung. Di sela-sela aksinya ia menyapa penonton lalu bertanya, "Siapa yang mau main Jelas ia tidak sebaik Hampton. Tapi keberaniannya ber jam-session dalam acara konser khusus Hampton di hadapan Bersaing dengan musisi Asia lain yang banyak mengais rejeki di Bangkok Bill tidak segan mempertontonkan Pada tahun 1972, keluarga muda Bill dan Anna hijrah ke Australia. Di tanah baru ini, ia sempat harus meniti hidup bak Asal mulanya adalah seorang bekas pemain sepakbola BBSA–salah satu klub anggota Persija - John Chong Namun pelan-pelan, usaha dan kerja kerasnya membuat hidupnya mulai mantap. Ia mulai dikenal luas. Ini pula yang Bahkan kemudian Bill berhasil merebut tempat terhormat di kehidupan malam kota dagang Sydney dan “Kalau orang kita sih di mana saja bisa cari makan,” kata Bill dengan logat Bataknya yang cukup medok, "meski di Setinggi-tinggi bangau terbang, kembalinya ke pelilmbahan juga. Tahun 1987, setelah bertahun-tahun hidup di Australia dengans egala suka dan dukanya Bill kembali ke Indonesia, dan memutuskan untuk memberikan pengalamannya bermusik dalam pengertian seluas-luasnya demi kemajuan musik di Tanah Air. Secara rutin, ia memang masih bolak-balik Sydney-Jakarta, menyambangi keluarganya yang masih bermukim di sana: sang istri tercinta, Anna, dengan keempat anaknya yang sudah dewasa, Michael, Lois, Tony, dan Tiana. JY,WIP Sumber : berbagai sumberkomentar anda :
Posting komentar anda
|
|
|
Rubrik:
Nasional
Regional
Internasional
Megapolitan
Bisnis & Keuangan
Kesehatan
Olahraga
Perempuan
Properti
Sains
Travel
Otomotif
Situs: KOMPAS.com Bola Entertainment Tekno Otomotif Forum Community Images Mobile Cetak KompasTV SelebTV VideokuTV PasangIklan |
|
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
|