Mengenang Pemusik dan Manusia Lengkap Bill Saragih (1)

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: views/read_view.php

Line Number: 103

Artikel Terkait:
Rabu, 30/1/2008 | 01:54 WIB

JAKARTA, RABU - Khalayak,  khususnya penggemar jazz di Indonesia tak akan bisa lagi menikmati langsung suara beratnya menyanyikan lagu What a Wonderful World ciptaan Louis Armstrong. Juga takkan pernah lagi  melihat aksi lelaki tua trendi di atas panggung dengan flute seraya bersenandung shap..shap..shap..shap... oyeah.

Pada Selasa, 29 Januari 2007 pukul 11.24 WIB pemilik suara berat yang nikmat ditelinga serta aksi panggung yang
sedap ditonton itu, Bill Saragih itu berpulang. Ruang VIP Anggrek Rumah Sakit (RS) Fatmawati Jakarta Selatan, tempat pemilik nama lengkap Bill Amirsjah-Rondahaim Saragih itu dirawat menjadi saksi kepergiannya.

Semenjak istrinya tercinta, Anturang Anna Rosemary (63 tahun), meninggal  pada Senin, 18 Januari 1999, Oom Bill -- demikian para musikus jazz  yang lebih muda usianya menyapanya --  memang seperti kehilangan sebagian  semangat hidupnya. Ia kerap sakit-sakitan. Kondisinya mulai memburuk akibat strooke yang merundungnya sejak tujuh tahun lalu dan diabetes menelikungnya.

Sebelumnya, musisi kelahiran Pematang Siantar, Sumatra Utara, 1 Januari 1933 dirawat di RS Internasional Bintaro
sejak 8 Januari. Kondisi Bill sempat membaik. Namun sebelas kemudian kondisinya makin menurun dan terpaksa
dipindah ke ruang isolasi. Karena semua ruang kelas 1 hingga kelas 3 di Bintaro penuh, akhirnya pihak keluarga
memindahkan Bill ke RS Fatmawati. WartaJazz.com menulis, sebelum pergi untuk selamanya Bill yang dirawat sejak
23 Januari 2008 dirawat oleh sedikitnya tiga orang dokter yakni Dr. Marwato ahli neurologi, Dr Loly (Spesialis Penyakit Dalam) dan Dr Darma (Specialis Paru-paru).

Menurut rencana jenazah Bill Saragih akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Ketika tulisan ini diturunkan, jenazahnya disemayamkan di rumah duka, Jalan Delima Jaya Taman Rempoa Indah Blok D 24, Ciputat, Tangerang, Banten.

Pemusik komplit
Betapapun menderitanya Bill, sebelum berpulang, para penggemarnya masih suka melihatnya tampil. Misalnya di ajang
Jak Jazz, acara amal, jazz goes to campus, dan berbagai komunitas jazz. Para penggemarnya juga masih melihat,
betapa 'gape'nya lelaki tua ini memainkan berbagai alat musik, mulai dari piano, saksofon,  vibrafon, drum, hingga flute.

Maklumlah, Bill yang telah mengenal musik sejak usia dini memang banyak belajar berbagai instrumen. Ia pernah  belajar formal musik jazz kepada David Becker. Selanjutnya, ia belajar sendiri lewat permainan para musikus  yang dikaguminya.

"Untuk piano saya mengagumi Oscar Peterson. Untuk saksofon John Coltrane, vibrafon saya  menyukai Lionel Hampton. Untuk drum idola saya Buddy Ridge dan Gene  Kruppa. Pemain perkusi yang saya kagumi adalah Steve Gadd," kata  pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatra Utara, 1 January 1933 itu kepada Kompas (Minggu, 03 Jan 1993).

Sebenarnya tak ada yang menyangka bahwa anak ke-5 dari 11 bersaudara putera Jan Kadoek Saragih ini, akan betul- betul menggeluti musik, kendati sejak kecil ia memang sudah digembleng sang ayah di bidang ini. Antara lain dengan latihan menabuh gendang agar bisa menguasai ritme. Bill akhirnya memang mengambil keputusan untuk terjun total ke dunia musik. Ia bahkan meninggalkan kuliahnya yang tengah dijalani di  Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Sempat menjadi pemusik dan penyanyi di hotel-hotel di Jakarta,  tahun 1966 Bill melanglangbuana ke luar negeri.
Mengawali kelananya dari Hongkong yang saat itu masih menjadi koloni Inggris, Bill kemudian merantau ke  Manila,
Filipina lalu Bangkok, Thailan.

Di Bangkok ia bertemu dan berkenalan dengan Anna, wanita Inggris yang mengagumi kepiawaiannya dan kemudian dinikahinya, yakni  pada tahun 1966. Di Bangkok pula Bill mereguk pengalaman yang tak pernah dilupakannya sebagai pemusik: bermain sepanggung dengan Lionel Hampton, pemusik jazz legendaris yang ia kagumi. Tahun 1973 Majalah Tempo menuliskan pengalaman indah pemusik komplet yang pandai memainkan vibraphon,  piano, fluet dan tenor saksophon tentang penampilannya bersama Hampton.

Ketika itu Hampton sedang manggung. Di sela-sela aksinya ia menyapa penonton lalu bertanya, "Siapa yang mau main
dengan saya?”. Tak ada yang beringsut dari kursinya — kecuali seorang (pria-red) yang langsung naik ke panggung
sambil menantang: “Saya akan ambil oper vibraphon Anda”. Dia pun mainlah, sementara Hampton sesekali mengetuk
piano dan selebihnya menonton permainannya.

Jelas ia tidak sebaik Hampton. Tapi keberaniannya ber jam-session dalam acara konser khusus Hampton di hadapan
musisi kota Bangkok, merupakan potret diri seorang yang bernama Bill Saragih.

Bersaing dengan musisi Asia lain yang banyak mengais rejeki di Bangkok Bill tidak segan mempertontonkan
kepiawaiannya — sekalipun berhadapan dengan raja vibraphon Lionel Hampton. Bahkan Hampton langsung
mengatakan: “Anda calon raja”.

Pada tahun 1972, keluarga muda Bill dan Anna hijrah ke Australia. Di tanah baru ini, ia sempat harus meniti hidup bak
dari awal lagi. Ia tampil di salah satu restoran di sana.

Asal mulanya adalah seorang bekas pemain sepakbola BBSA–salah satu klub anggota Persija - John Chong
menjumpainya di salah sebuah restoran di Bangkok. Bill ditantang untuk mengadu nasib di Australia. “Saya
memberanikan diri”, kata Bill, “meski setelah tiba selama 5 bulan jadi penganggur”.

Namun pelan-pelan, usaha dan kerja kerasnya membuat  hidupnya mulai mantap. Ia mulai dikenal luas. Ini pula yang
kemudian membuatnya betah tinggal di Benua Kanguru itu. Keyakinan, usaha dan kerja keras menjadi modal utama Bill untuk bersaing di negeri Kangguru itu.

Bahkan kemudian  Bill berhasil merebut tempat terhormat di kehidupan malam kota dagang Sydney dan
mengantarkannya ke atas kertas kontrak dengan Summit Restaurant, sebuah restoran berputar di puncak Australia
Square di lantai 47,  gedung pencakar langit tertinggi di Sydney saat itu. Dengan modal pengalamannya,  termasuk
sempat mengikuti Jazz Workshop di Jerman -Bill dan isterinya menaklukan Australia.

“Kalau orang kita sih di mana saja bisa cari makan,”  kata Bill dengan logat Bataknya yang cukup medok, "meski di
kampung sendiri susah cari nafkah."

Setinggi-tinggi bangau terbang, kembalinya ke pelilmbahan juga. Tahun 1987, setelah bertahun-tahun hidup di Australia dengans egala suka dan dukanya Bill kembali ke Indonesia, dan memutuskan untuk memberikan pengalamannya bermusik dalam pengertian seluas-luasnya demi kemajuan musik di Tanah Air. Secara rutin, ia memang masih bolak-balik Sydney-Jakarta, menyambangi keluarganya yang masih bermukim di sana: sang istri tercinta, Anna, dengan keempat anaknya yang sudah dewasa, Michael, Lois, Tony, dan Tiana.
(Berbagai Sumber/Jodhi Yudono/Willy Pramudya)

JY,WIP

Sumber : berbagai sumber
A A A
komentar anda :
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
 
 
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort