Bulan Madu Diana-Hidayat, Ranjang Nomor Wahid
WARTA KOTA, SABTU -- Pernikahan antara Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (48) dan dr Diana Abbas Thalib (44) disambut gembira keluarga besar Diana di Pasuruan, Jawa Timur. Bahkan, mereka menyiapkan kamar pengantin khusus dengan ranjang kayu jati kualitas nomor wahid.
"Kami sudah menyiapkan kamar khusus pengantin kalau keponakan saya dan suaminya berkunjung ke Pasuruan," kata Hanif Facher Thalib (paman Diana) didampingi istrinya, Zahra Ahmad Alkatiri, Kamis (17/4). Hanif adalah adik kandung dr Abbas Thalib, ayah Diana.
Kamar khusus bulan madu yang disiapkan paman Diana berada di bagian depan rumah Hanif di Jalan Soekarno-Hatta, di depan SMAN 1 Pasuruan. Rumah itu dibangun pada masa Belanda dan luasnya sekitar 1.000 meter persegi. "Ya, kakak saya harus tidur di kamar ini untuk berbulan madu," kata Adib, sepupu Diana.
Keluarga Diana di Pasuruan berharap, pasangan Ketua MPR dan Direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Bunda Aliyah, Pondokbambu, Jakarta Timur itu akan berbulan madu di Pasuruan.
Kamar yang disiapkan bagi Hidayat-Diana berukuran 6 meter x 5 meter dan berlantai marmer yang diimpor dari Italia. Sebuah ranjang terbuat dari kayu jati pilihan, yang dilengkapi meja rias dan perabot lain di kamar itu. Pada langit-langit terdapat lukisan sepasang insan yang sedang bercengkerama.
Selain memberikan kesempatan melihat kamar yang disiapkan untuk pasangan Hidayat-Diana, keluarga Hanif Facher Thalib juga menunjukkan tempat tidur mendiang nenek Diana, yang bernama Aliyah. Sebelum neneknya meninggal pada 1995, Diana selalu tidur bareng di kamar itu jika sedang berada di Pasuruan.
"Di kamar ini dulu ada empat ranjang yang disediakan nenek Diana. Karena kalau Diana datang, saudara sepupunya juga jadi ikut tidur bareng nenek. Namun saat ini tinggal dua ranjang," kata Zahra Ahmad Alkatiri.
Diana Abbas Thalib adalah putri kedua dari empat bersaudara anak pasangan dr Abbas Thalib-Ny Fauziah. Kakak Diana bernama Dina Abbas Thalib, kedua adik Diana bernama Hisyam Abbas Thalib dan Abdullah Abbas Thalib.
Hanif Facher Thalib bercerita, ketika ibunya masih ada, Diana selalu datang ke Pasuruan, pada saat liburan sekolah, Idul Fitri, maupun ada acara keluarga. Jadi semasa neneknya masih hidup, Diana sering berkunjung ke rumah besar di Pasuruan tersebut.
"Bahkan karena cintanya, ia memberi nama rumah sakit yang didirikannya dengan nama sang nenek, yakni RSIA Bunda Aliyah," katanya.
Di mata keluarga besar di Pasuruan, Diana sangat lekat dengan pujian. Wanita energik dengan seabrek aktivitas sosial tersebut juga dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap keluarga.
Bahkan Facher Thalib, tidak dapat melupakan perhatian Diana saat ia menderita sakit jantung dan harus dioperasi lima tahun silam. "Hampir tiap hari dia telepon menanyakan kesehatan saya. Saya diajak ke Jakarta untuk berobat. Bahkan saya dibujuk agar mau menjalani operasi di Australia," tutur lelaki berusia 68 tahun yang selalu membawa tongkat ini.
Perhatian Diana bukan hanya diberikan saat pamannya sakit. "Dua minggu lalu, dia datang menengok kami. Maksudnya akan ke rumah di Pasuruan,. tapi karena saat itu kami sedang berada di rumah di Surabaya, dia saya minta datang ke sana saja (ke rumah Surabaya). Seminggu lalu, ayah Diana, Abbas Thalib juga datang menengok kami," kata Zahra Ahmad.
Diana yang menjanda sejak empat tahun lalu kini mengangkat seorang anak bernama Nizar Muhammad (14), juga dikenal sebagai pribadi yang peduli kepada sesama. "Memang sifatnya seperti itu. Banyak membantu famili maupun orang lain," kata Hanif.
Selain menyiapkan penyambutan bagi pasangan Hidayat-Diana, keluarga yang oleh warga kota Pasuruan disebut-sebut sebagai keluarga kaya raya dengan panggilan keluarga Bin Thalib ini juga akan hadir pada pesta pernikahan Diana-Hidayat di Jakarta, awal bulan depan. (SRY/TAT)