Kak Seto Ajak Boikot Tayangan Tak Mendidik
Senin, 21/4/2008 | 17:36 WIB

PANGKALPINANG, SENIN - Tayangan pendidikan idealnya mencapai 20 persen dari slot program televisi agar anak-anak Indonesia menjadi pintar. Namun, faktanya, dari hasil penelitian Departemen Pendidikan Nasional, tayangan pendidikan hanya 0,07 persen.

"Porsi tayangan pendidikan sebaiknya sama dengan anggaran pendidikan, agar anak-anak menjadi pintar dan kesejahteraan bangsa jadi meningkat," kata Dr Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPA), di sela kegiatan Pertemuan Anak Daerah I Provinsi Bangka Belitung, di Pangkalpinang, Senin (21/4).

Untuk menunjang agar para pengelola stasiun televisi meningkatkan tayangan pendidikan, KPA telah bekerja sama dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). KPA diminta oleh KPI untuk mengawasi program-program televisi. Bila ada yang tak berkenan menurut ukuran KPA, KPI akan memberi teguran kepada para pengelola stasiun  televisi. Sebaliknya, KPI akan memberi KPI Award bagi stasiun televisi yang peduli anak dan pendidikan.

Menurut Seto, masalah pendidikan anak bangsa merupakan masalah yang menyangkut keterlibatan semua pihak. Dari sisi bisnis, tayangan pendidikan kurang laku dijual dan pemasang iklan juga akan sepi. Untuk itu perlu dicarikan solusi.

Ia menyatakan, tayangan mistik dan kekerasan sebelum ini laku keras di layar kaca. Tapi, lanjutnya, ketika muncul film-film Ayat-ayat Cinta dan Kun Fa Yakun, sambutan masyarakat sangat luarbiasa terhadap film-film itu, melebihi terhadap film-film mistik. "Yang kita perlukan, bagaimana menciptakan tayangan pendidikan dengan format pas agar tinggi ratingnya dan pada gilirannya banyak diminati pemasang iklan," ujar Ketua Yayasan Nakula Sadewa ini.

Hasil survey menunjukkan, tayangan televisi diisi iklan 36 persen, sinetron 30,97, berita 18,68, film 9,31, dan sisanya olahraga. Ia meminta agar para orangtua berani mengajak anak-anak untuk tak menonton televisi mulai menjelang magrib sampai usai Isya, supaya ada waktu untuk mereka belajar, beribadah, dan beinteraksi dengan orangtua.

Di Yogyakarta hal itu sudah dilakukan. Dengan kondisi tayangan televisi yang banyak tidak mendidik tentunya sedikit sekali manfaat positif bagi perkembangan anak. "Kita ingin orangtua dan anak memboikot tayangan-tayangan yang tidak mendidik. Bila dari hasil riset AC Nielsen rating tayangan-tayangan itu turun, otomatis tidak ditayangkan lagi," ujarnya. (ANT)

A A A
komentar anda :
dominicus @ Selasa, 22 April 2008 | 12:56 WIB
SETUJUU...saya paling benci sinetron, jalan ceritanya tidak bermutu, dan jauh dari pendidikan, apalagi yang ceritanya mistis, sungguh tidak mendidik pemirsanya. Perbanyak acara pengetahuan atau acara inspirasi atau motivasi.
Ika @ Selasa, 22 April 2008 | 12:07 WIB
SETUJU dgn usul tersebut dr pd nonton sinetron yg gak ada ujung pangkalnya (banyak anak kecil yg melotot, penuh caci maki, kekerasan, anak kecil diajarin berbuat
alya @ Selasa, 22 April 2008 | 11:42 WIB
sangat setuju sekali,apalagi menayangkan spt program yg di TVRI setiap hari pelajaran baik itu matematika, bhs inggris dan pengetahuan yg lainnya."saya dukung kak seto"
fitri @ Selasa, 22 April 2008 | 10:49 WIB
Saya amat sangat setuju sekali dengan kak Seto karena sinetron-sinetron yang saat ini tayang di televisi isinya sama sekali tidak mendidik karena penuh dengan adegan kekerasan ( anak kecil yang begitu kejam memperlakukan kakak/orang tua dan kakek-neneknya, ada juga adegan dimana dewasa yang begitu kejam terhadap anak/orang tua/kakek-neneknya ).
afrizal @ Selasa, 22 April 2008 | 10:42 WIB
saya sepakat dengan apa yang disarankan kak seto, saya kira bukan hanya anak-anak aja yang harus mematikan tv mulai dari maghrib sampai isya.saya sebagai mahasiswa juga menerapkan hal yang sama. karena pada jam tersebut tv hanya menayangkan sinetron-sinetron sampah dan hanya mengajarkan keglamoran hidup, dendam, tangisan dan hal-hal yang tak berguna lainnya. sudah saatnya mahasiswa membenci sinetron indonesia,lebih baik menyaksikan berita dan olahraga serta memilih untuk menyaksikan film
10 Komentar
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
 
Artikel Lainnya
 
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort