Novelis Andrea Hirata Ngamuk di Kampungnya Selasa, 29/4/2008 Artikel Terkait:
BANGKA POS, SELASA - Andrea Hirata, yang namanya mendunia lewat karya sastranya Laskar Pelangi, yang berlatar Bangka-Belitung (Babel), merasa sangat prihatin terhadap nasib pendidikan anak-anak di provinsi muda itu. Keprihatinan itu dikemukakan saat novelis itu tampil dalam acara talk show bertajuk "Talk Show dengan Andera Hirata" yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Babel di Kantor Gubernur Babel, Pangkalpinang, Senin (28/4). Acara tersebut diikuti ratusan peserta yang mayoritas berasal dari kalangan guru. Lulusan S2 Universite de Paris Sorbonne Perancis dan Sheffield Hallam University Inggris yang membawa nama Belitong terkenal d dunia itu mengawali pembicaraannya dengan menayangkan angka-angka kelulusan siswa SMA di wilayah Pulau Belitung yang setiap tahun cenderung naik. Hanya saja, ia menemukan angka keberhasilan menembus perguruan tinggi negeri (PTN) terjadi sebaliknya. Dalam kurun waktu lima tahun, katanya, angka keberhasilan lulusan SMA di pulau disebutnya Belitong masuk ke PTN terus menyurut. Untuk tahun 2007, lulusan SMA yang diterima di PTN hanya 45 orang. Tahun sebelumnya 53 orang. Jumlah tersebut tak mencapai besaran 10 persen dari jumlah kelulusan. "Apa arti angka-angka itu?" tanya Andrea dalam dialognya yang dipandu oleh Saman dari Penerbit Mizan. Setelah mendengar tiga jawaban dari peserta, Andrea mengulas jawaban itu. "Jumlah orang yang mampu mengirim anaknya untuk masuk perguruan tinggi bertambah, tapi yang lulus PTN kecil. Artinya masyarat kita makin kaya tapi makin bodoh. Ada jarak atau gap yang luar biasa," ujarnya. Setelah menyodorkan angka-angka tersebut, penulis yang masih berstatus sebagai staf PT Telkom Bandung dan pernah mengajar di beberapa perguruan tinggi itu melanjutkan ceritanya. Saat ini anak-anak di Belitong bahkan provinsi Babel yang sangat tergantung kepada para guru di sekolah mulai meninggalkan dunia sekolah. Pasalnya, katanya, dengan melimbang pasir timah, mereka bisa lebih kaya ketimbang harus bersekolah. Namun Andrea tak hanya menyatakan prihatin dengan mulut. Dia juga mencoba menyodorkan solusi lewat kerja keras. Salah satunya mencoba melakukan penelitian di SMA 2 Tanjungpandan Belitung. Dengan menggunakan teori pendidikan Daniel Kings dalam bukunya The Hole New Mind sebagai kerangka teori penelitiannya ia melihat sejumlah aspek seperti aspek learing personal, learning family, learning society dan expectation yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan anakanak. Ternyata dari aspek learning family, kata Andrea, dari lima anak yang diambil sebagai sampel terendah, keluarga anak-anak itu bahkan masyarakat Babel secara umum sangat tidak mendukung anak-anak dalam belajar. Aspek itu terkait dengan desain rumah warga. "Rumah-rumah di masyarakat kita tidak mengandung desain pendidikan. Rumah kita di Babel, ruang tamunya besar-besar, tapi tempat belajar anak-anaknya terletak di dekat WC dan dapur," tuturnya. Parahnya lagi, anak-anak belajar di depan televisi yang acaranya jauh dari mendidik. "Televisi sangat tidak mendidik. (Televisi) Tak saja menghancurkan kebiasaan membaca." Secara umum, lanjutnya, masyarakat di Babel juga tidak mendukung anak-anak dalam menciptakan suasana dan fasilitas yang baik untuk belajar. "Saya belum melihat pemerintah di Babel benar-benar membuat terobosan kebijakan membangun suasana belajar di masyarakat," tegasnya. Pengarang yang menempuh pendidikan S1-di Universitas Indonesia itu, kemudian menayangkan foto di sebuah kawasan di Yogyakarta yang memajang iklan bertuliskan jam belajar anak-anak dari pukul 18.00- 20.30. Setelah itu ia menayangkan foto pintu masuk kampungnya di daerah Gantong. Tampak berdiri papan iklan sebuah produk minuman yang terawat, sementara papan reklame pemerintah tentang pariwisata di Belitung Timur nyaris ambruk. "Beginilah kenyataannya. Saya bukan termasuk (golongan orang) yang menolak komersialisasi. Tapi iklan reklame itu jauh dari upaya menciptakan suasa belajar di masyarakat. Kalau begini kita jadi Babilonia, kaya tapi bodoh," ujarnya lagi. Oleh sebab itu terkait urusan belajar di masyarakat, Andrea mengharpakan segera munculnya gebrakan para pemegang otoritas di Babel. "Itu yang saya tunggu. Kebijakan itu akan terlihat sebagai mana saya contohkan pada iklan miras tadi," kata Andrea.(BANGKA POS/ALBANA/M ZULKODERI)
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
|
|