WALT Disney memang tak ada matinya. Di tengah serbuan komik dan film kartun buatan Jepang, tokoh-tokoh kartun rekaan Walt Disney tetap mendapat tempat tersendiri di hati anak-anak.
Buktinya, pertunjukan Disney On Ice yang digelar di Hall A Jakarta International Expo, Arena PRJ Kemayoran, Jakarta, 26 April-4 Mei, masih dipadati penonton anak-anak. Seusai pertunjukan, segala macam merchandise Disney laris manis, mulai dari topi berbentuk kuping Mickey Mouse sampai mug berbentuk Flounder, ikan mungil dari kisah The Little Mermaid.
Banyak orang mengira pertunjukan yang digelar oleh Original Production ini tak bakal sesukses kedatangan pertama mereka di Jakarta, 12 tahun silam. Pasalnya, anak-anak zaman sekarang—terutama yang tidak berlangganan TV berbayar di rumahnya—lebih akrab dengan tokoh-tokoh kartun Jepang seperti Sin Chan dan Naruto, atau kartun produksi Amerika yang lebih baru, seperti Spongebob, Dora, atau Avatar.
Namun, dugaan itu terbukti salah saat pertunjukan dibuka dan tokoh-tokoh utama Disney, yakni Mickey Mouse, Minnie Mouse, Donald Duck, Deasy Duck, dan Goofy muncul di arena es. Sekitar 3.000 penonton, yang sebagian besar adalah anak-anak kecil, menjerit-jerit sambil melambai-lambaikan tangan.
Menurut Tommy Pratama, pimpinan Original Production, meski tanpa promosi besar-besaran seperti konser musik yang disponsori rokok, tiket Disney on Ice telah terjual hingga 90 persen sebelum hari pertunjukan dimulai. Tiket hiburan untuk anak ini dihargai Rp 100.000- Rp 450.000 pada hari biasa dan Rp 150.000-Rp 600.000 pada hari libur dan akhir pekan.
”Ada 17 show selama tujuh hari mereka perform di sini, dengan kapasitas 3.500 tempat duduk tiap show,” ungkap Tommy.
Keliling dunia
Pertunjukan Disney On Ice yang diproduksi Feld Entertainment itu kali ini menampilkan tema Mickey & Minnie’s Amazing Journey.
Dikisahkan Mickey dan Minnie serta tiga temannya, Donald, Deasy, dan Goofy, melakukan perjalanan keliling dunia. Namun, latar belakang itu hanya menjadi pengantar menuju babak-babak pertunjukan yang diambil dari film-film layar lebar Disney. Babak pertama terdiri dari Lion King dengan latar Afrika, 101 Dalmatians di London, dan The Little Mermaid di dasar lautan Atlantik.
Setelah istirahat selama 15 menit, pertunjukan berdurasi 90 menit itu diteruskan dengan babak kedua yang berisi kisah petualangan Peter Pan di Neverland dan Lilo & Stitch yang berlokasi di Hawaii. Semuanya disajikan dalam bentuk operet yang dilakukan dengan ice skating di atas arena es berukuran 25 x 30 meter persegi.
Selain menampilkan kepiawaian para ice skater melakukan berbagai koreografi sulit di atas es menggunakan sepatu khusus, Disney on Ice juga didukung tata cahaya, properti, dan efek spesial yang memesona. Menurut Tommy, seluruh perlengkapan panggung dibawa langsung para kru dari Los Angeles dalam tur dunia kali ini.
”Semuanya membutuhkan 21 peti kemas ukuran 40 feet yang diangkut pakai kapal. Jadi kami juga harus mengurus izin impor dan reekspornya nanti,” ungkap Tommy.
Tiga peti kemas di antaranya hanya berisi set generator sebagai pembangkit listrik selama pertunjukan, termasuk untuk menjaga lapisan es di arena tetap membeku. ”Untuk membuat arena esnya saja butuh waktu tiga hari sebelum bisa dipakai,” lanjutnya.
Anggota rombongan Disney on Ice mencapai 100 orang, terdiri dari 80 pemain dan 20 kru. Mereka membawa pesona ice skating ke negeri-negeri yang tidak mengenal arena es alami di Asia. Dimulai dengan Manila, Filipina, Januari lalu, dilanjutkan ke China (Februari), Singapura dan Thailand (Maret), dan Malaysia serta Indonesia (April). Mereka akan melanjutkan tur di Australia hingga Juli.
Tak mudah
Meyakinkan rombongan pertunjukan sebesar itu mampir ke Indonesia bukanlah hal yang mudah. Menurut Tommy, pihaknya telah mengundang Disney on Ice sejak empat tahun silam, tetapi selalu ditolak dengan alasan masih adanya travel warning. Baru tahun ini mereka akhirnya bersedia. Itu pun setelah mengirimkan tim survei yang melibatkan FBI ke Jakarta.
Tommy sendiri sejak awal yakin pertunjukan tersebut akan diminati karena nama Disney tetap dikenal di dunia anak-anak. ”Pengalaman saya nonton Disney on Ice ini di Singapura, sebagian penontonnya orang Indonesia. Jadi saya yakin market-nya ada,” ujar Tommy, yang juga sukses menggelar Holiday on Ice di Tennis Indoor Senayan pada 2004 lalu.
Optimisme itu terbukti dengan antusiasnya penonton Jakarta datang ke Disney on Ice tahun ini. Meski seluruh pertunjukan disajikan dalam bahasa Inggris, anak-anak tetap bisa menikmati. ”Soalnya ceritanya sudah tahu, nonton di Disney Channel,” ungkap Ilyasa (10), siswa kelas IV SD High Scope TB Simatupang yang datang bersama ibu dan tiga saudaranya.
Penonton lain, Hendri (35), mengajak dua anaknya yang masing berumur tiga dan lima tahun dari rumah mereka di Bona Indah, Jakarta Selatan. ”Meski banyak kartun Jepang, anak-anak masih suka kartun Disney di Disney Channel. Sementara di TV lokal, jarang ada acara khusus anak yang bagus. Idola Cilik (acara kontes menyanyi anak di RCTI) saja nyanyiin lagu orang dewasa,” ujar Hendri.
Kehadiran Disney on Ice memang menjadi semacam oase di tengah kegersangan hiburan untuk anak di Tanah Air dewasa ini. Hampir di semua cabang industri hiburan, baik itu musik, film, maupun televisi, tak ada yang menggarap segmen anak-anak secara serius.
Bahkan di film dan musik, bisa dikatakan tak ada lagi film anak-anak yang sukses setelah Petualangan Sherina dan lagu anak-anak yang populer sejak Tasya merilis Libur Telah Tiba. Keduanya dibuat tahun 2000 atau delapan tahun silam.(KOMPAS/DAHONO FITRIANTO)