Film Karya Siswa SD Indonesia Raih Ecology Award
Jumat, 20/6/2008
Kompas/Boni Dwi Pramudyanto
Seorang pekerja proyek menebang bakau dan nipah di bakal kawasan Pelabuhan Tanjung Api-api, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (30/4). Pembabatan hutan lindung ini mengancam kelestarian flora dan fauna di ekosistem itu.
Artikel Terkait:
  • Video Klip Karya Pelajar Indonesia Masuk Nominasi di Jepang..

TOKYO, KAMIS - Film Save The Mangroves karya pelajar sekolah dasar (SD) Indonesia akhirnya meraih penghargaan "Ecology Award" dalam ajang Kid Witness News (KWN) Panasonic Global Contest 2008 yang digelar di Tokyo, kategori Grand Prix Award diraih tuan rumah.

Demikian hasil pemilihan final para juri KWN Global Contest Award yang digelar di Studio Panasonic Center di kawasan Odaiba, Tokyo, Kamis (19/6).  Para juri terdiri dari jurnalis, editor film dan akademisi dari berbagai negara.

Tim juri yang diketuai Takumi Kajisha, Managing Executive Officer Matsushita Electric industrial Co, menetapkan film Water Flowing Around the World karya pelajar SMA Tobu, dari Propinsi Nagano, Jepang, juga meraih penghargaan lainnya, yakni untuk katagori "Editing Award".

Sedangkan Grand Prix untuk bidang komunikasi diraih pelajar SD dari Kowloon Tong, Hong Kong, yang menampilkan film My Grandpa's Letters. Film yang menceritakan kasih sayang seorang ayah kepada puteranya (meski dengan cara yang penuh disiplin) itu juga menyabet penghargaan untuk katagori "Script Award".

Kontes tahunan perusahaan Panasonic itu mengangkat dua tema utama (Grand Prix), yaitu bidang ekologi dan komunikasi. Para finalis berhasil menyisihkan 626 film atau video klip dari 24 negara yang masuk kualifikasi.

Film Save The Mangroves,  yang merupakan hasil karya tiga pelajar Jubilee Scholl Jakarta, yakni Adelin, Sean dan Celine itu juga membuat kejutan lain di pentas internasional tersebut. Film yang mengusung tema pelestarian lingkungan hutan bakau  tersebut mampu menggondol penghargaan untuk Web Award, yaitu meraih paling banyak dukungan dari pemirsa internet.

"Ini prestasi yang sudah luar biasa bagi kami selaku pelajar SD," kata Adeline, siswa kelas enam Jubilee School, Sunter, Jakarta Utara, itu kepada Antara.

Sementara rekannya Celine (12 tahun), mengemukakan bahwa dirinya tidak merasa kecewa karena sudah bisa masuk babak final dengan melewati ratusan film lainnya, apalagi di babak final juga bisa melihat karya pelajar lainnya yang juga sangat bagus.

Film Save The Mangroves berkisah tentang hutan bakau terbesar di dunia yang berada di Indonesia, dan memberikan pengaruh yang besar terhadap lingkungan hidup dan iklim global. Tayangan berdurasi lima menit itu juga berpesan agar jangan merusak hutan karena menimbulkan kerusakan dan kesulitan bagi umat manusia sendiri.

Acara tesebut dihadiri Wakil Dubes Indonesia untuk Jepang, Ronny P Yulinatoro, yang turut memberikan dukungan semangat serta menyampaikan sambutan agar perusahaan elektronik Jepang itu memperluas kegiatannya dalam bidang pendidikan di Indonesia hingga ke pelosok Tanah Air, tidak sekedar di kota-kota besar.

"Kegiatan ini mampu mengangkat kepedulian generasi muda terhadap lingkungan, kebudayaan dan penggunaan teknologi yang pada akhirnya dapat meningkatkan saling pengertian sesama pelajar di dunia," katanya.

Penghargaan untuk katagori Videography Award, diraih pelajar SMP Polandia yang mengusung tayangan Eco-Pret-Porter, mengenai fashion show yang terbuat dari sampah kertas dan plastik. Sedangkan film We The People yang mengangkat pemilu di AS baru-baru ini, karya pelajar SD dari Amerika Serikat meraih "Communication Award".

Sedangkan pelajar Inggris lewat karya Won't Listen Can't Hear, tayangan yang mengangkat ancaman rusaknya pendengaran manusia akibat kebisingan dari perangkat musik meraih penghargaan "Sound Award".

Share on Facebook  
AAA
Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
1 dari 1 Halaman Komentar | First Prev Next Last

Film merupakan karya seni budaya bangsa yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan; bisnis, pendidikan dan tujuan-tujuan lainnya.dengan demikian pemerintah-masyarakat perlu meningkatkan frekwensi kegiatan festival film pelajar di Indonesia,agar masa depan kesenian moderen ini semakin bermanfaat bagi dunia pendidikan dan pembangunan budaya nasional.

Posted by: PUTUT SATYO BARUNO | Selasa, 17 Februari 2009 | 12:31 WIB

GOOD,mudah mudahan karya film pelajar Indonesia selalu dapat penghargaan internasional. Ini perlu dimotivasi dengan ditingkatkannya festifal film pelajar di Indonesia.

Posted by: PUTUT SATYO BARUNO | Selasa, 17 Februari 2009 | 12:27 WIB

Posting Komentar Anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
POLLING
Ancaman perceraian lagi-lagi harus dijalani penyanyi Dewi Sandra. Setelah bercerai dengan suaminya terdahulu, aktor dan penyanyi Surya Saputra, kini ia justru terancam ditalak suami keduanya, Glenn Fredly. Tudingan adanya pihak ketiga pun menyeruak. Benarkah kabar tersebut? Bagaimana menurut Anda?