|
Hari Jadi Jakarta 22 Juni Penghinaan Sejarah!
DEPOK, RABU - Perayaan hari jadi Jakarta pada tanggal 22 Juni yang dinisbatkan dari peristiwa direbutnya Pelabuhan Kalapa oleh Fatahillah pada 22 Juni 1527 merupakan penghinaan besar terhadap sejarah. "Fatahillah bukan penyebar Islam, melainkan hanya 'soldier of fortune' dari Gujarat yang berjualan jasa perang," kata budayawan Betawi, Ridwan Saidi, dalam kesimpulan makalahnya yang disampaikan pada acara talk show, Wajah Muslim Indonesia (WMI), di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di Depok, Rabu (23/7). Ia mengatakan, dari keahlian Fatahillah berperang tersebut, ia dipakai pengusaha Cirebon untuk merebut Pelabuhan Kalapa setelah sebelumnya memusnahkan sekitar 3.000 rumah orang Betawi di Mandi Rancan. Kedatangan Fatahillah yang didukung 1.540 pasukannya dari Cirebon semata-mata untuk merebut Pelabuhan Kalapa. Ia kemudian membangun istana dikelilingi tembok tanah di tepi barat Kali Besar. Kemudian, kata dia, orang-orang Betawi diusir dari kawasan sekitar istana dan rumah mereka dibumihanguskan. "Omong kosong kalau Fatahillah berdakwah. Jejak dakwahnya sama sekali tidak berada di ranah Betawi. Sangat tragis jika tiap tahun pada tanggal 22 Juni orang Betawi disuruh merayakan hari tersebut sebagai Hari Jadi Kota Jakarta," paparnya. Menurut dia, Islamisasi orang Betawi oleh Syekh Quro yang dilanjutkan oleh para datu terjadi pada akhir abad XV. Agama orang Betawi sebelum kedatangan Islam adalah kepercayaan lokal yang berintikan kepada arwah nenek moyang. "Kepercayaan tersebut masih dianut komunitas Betawi Kranggan di Bekasi," jelasnya. Warisan Islam yang diterima setidaknya sampai dekade 1970-an abad XX adalah Islam yang damai dan tidak mengusik keberagaman pihak lain. Islam yang memelopori persatuan level kampung. "Kami juga menerima warisan Islam yang mengajarkan jihad bila martabat agama direndahkan," jelasnya. (ANT) |
|