Cermin Sederhana Bambu yang Menembus Batas
Alunan angklung dan kendang hasil kolaborasi seniman musik etnik Indonesia dan Jepang dalam Konser Musik Bambu 2008 di Gedung Kesenian Jakarta, beberapa waktu yang lalu.
Artikel Terkait:
Sabtu, 23/8/2008 | 16:15 WIB

SUASANA hening menyeruak dalam ruangan dengan cahaya lampu temaram hanya disinari lima batang lilin di depan panggung. Tampak tiga orang pria Jepang berpakaian kimono dengan atasan hitam memecah keheningan dengan bunyi ritmis seruling menyihir penonton yang hadir.

Mereka memainkan seruling bambu, bentuknya mirip gading gajah namun pipih dan menghasilkan suara seperti terompet tanda perang yang digunakan bangsa-bangsa purba. Ketiga seruling itu menghasilkan bunyi berbeda tetapi saat dimainkan bersamaan menimbulkan bunyi menggema yang membuat si pendengar menyatu dengan daya magisnya.

Musik mereka lebih mirip seperti aliran New Age yang membuat si pendengar menyatu dengan alam. Tak melulu dengan musik lembut, mereka juga membawakan musik yang lebih rancak dengan variasi bunyi hentakan kaki.Penampilan mereka ditutup dengan lantunan lagu Indonesia Pusaka yang disambut riuh tepuk tangan penonton yang hadir.

Itulah penampilan trio Shakuhachi atau Han'nya Teikoku asal Jepang yang membuka konser Musik Bambu Indonesia-Jepang "Eth-ence of Bamboo 2008" di Gedung Kesenian Jakarta, beberapa waktu yang lalu. Selain Han'nya Teikoku, beberapa ibu rumah tangga Jepang yang menetap di Jakarta juga menampilkan kebolehannya memainkan angklung.

Mereka tergabung dalam Luna, sama sekali tak terlihat kaku memainkan alat musik bambu dari Jawa Barat tersebut. Performa mereka secantik busana yang dikenakan, yakni perpaduan atasan kebaya putih dan bawahan kain batik aneka corak.

Mereka membawakan lagu Kokoronotomo (Teman Sehati) yang memaknai hubungan Indonesia dan Jepang agar semakin erat layaknya persahabatan teman sejati. Setelah lantunan Kokoronotomo, penonton kembali dibuat kagum dengan lincahnya ibu-ibu tersebut memainkan Denpasar Moon dan beberapa lagu-lagu pop hasil aransemen Shunichi Isogane, produser konser ini.

Shunichi tertarik dengan angklung karena kenangan masa kecil 25 tahun yang lalu, saat pertama kali datang ke Indonesia dan kenal dengan alat musik tersebut. Pada konser persahabatan ini, sengaja Shunichi memilih bambu sebagai tema, karena bambu adalah hati Asia.

"Keunikan bambu itu pada kesederhanaan, dan ia ada di sekitar kita yang fungsional untuk keperluan manusia seperti material bangunan, kerajinan tangan, peralatan kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Karena bambu mudah diubah ke bentuk itulah, menurutnya, bambu mampu berkembang tanpa batas. Seperti pagelaran malam itu, yang diharapkan Shunichi dapat melampaui batas perbedaan dua negara, sehingga bersatu hati demi kebaikan bersama. Tetapi ia justru ingin menunjukkan bahwa perpaduan dua negara tak menghilangkan ciri khas etnisitas masing-masing.

Hal itu terlihat pada penampilan Swaraning Pring dengan seperangkat alat musik tradisional Indonesia seperti aneka bentuk gendang, alat musik bambu, drum, rebana, dan sebagainya. Lima orang pria terampil secara bergantian memainkan puluhan alat musik tradisi dengan diiringi suara vokal seorang wanita.

Lagu-lagu yang dibawakan sebagian besar perpaduan dengan gaya kontemporer meski alat musiknya tradisional. Di sela permainan musik rancak Yamko Rambe Yamko, tampak tiga pria membawa angklung, berdiri agak lebih ke depan panggung dan berkolaborasi dengan jenaka memainkan angklung dengan gaya masing-masing.

Meski terkesan asal-asalan, musik yang dihasilkan mampu membuat penonton terkesima dan riuh rendah bertepuk tangan. Kelompok musik tradisional yang digawangi Sugeng Pratikno tersebut menunjukkan performa yang mampu membuat penonton berdecak kagum meski pemainnya sebagian besar masih sangat muda.

Penampilan terakhir disajikan oleh Idea Percussion yang menggelar sajian musik Sunda dengan alat musik kendang, suling, dan gamelan. Grup yang dikomandani Ade Rudiana ini membuat penonton terkantuk-kantuk karena alunan gamelan Sunda yang mendayu-dayu.

Pagelaran malam itu berakhir pukul 23.00 WIB diiringi dengan penampilan kolaborasi keempat grup musik etnik yang telah tampil. Penonton masih enggan meninggalkan ruang pagelaran karena terkesan dengan kolaborasi terakhir mereka yang disambut tepuk tangan penonton di sepanjang lagu.

Beberapa penonton warga negara Jepang tampak menitikkan air mata haru melihat senyum dan tawa berderai saat bertepuk tangan mengiringi lagu penutup tersebut. Air mata haru itu menunjukkan perpaduan alat musik bambu dari seniman dua negara tersebut menggugah rasa bahwa teman itu bisa didapatkan dimana saja.

Dari hal kecil seperti ini bisa berkembang untuk menciptakan harmoni dalam hubungan kedua negara seperti yang diharapkan sang produser konser Shunichi Isogane. "Saya sudah 15 tahun tinggal di Indonesia, dalam banyak hal banyak kesamaan di dua negara ini, yang membuat saya sukar memilih tinggal di Jepang atau Indonesia, dua-duanya saya cinta," katanya.

Tak salah bila tema bambu dipilih sebagai simbol kesederhanaan. Sifat tersebut terbukti mampu meleburkan batas, begitu pun hubungan antara kedua negara, diharapkan dapat bersinergi menghasilkan kebersamaan.

Maya Saputri

Nilai 6 A A A
komentar anda :
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
 
 
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort