Menentukan Arah: So7 Kembali ke Akar
Artikel Terkait:
Senin, 17/11/2008 | 12:06 WIB

Sheila On 7 (So7) mencoba lagi peruntungan mereka dalam industri musik Indonesia. Dalam album baru mereka ini, Menentukan Arah, Duta (vokal), Eross (gitar), Adam (bas), dan Brian (drum) berusaha kembali ke akar mereka dengan memakai pola musik yang serupa dengan album-album laris mereka terdahulu.

Untuk sound, agaknya mereka mengambil model yang mereka terapkan untuk album 07 Des. Begitu pula dengan aransemen lagu-lagunya.

Album yang dirilis akhir Oktober lalu ini berisi 10 lagu. Single Betapa, yang sudah diperdengarkan lewat radio-radio dan dijual sebagai RBT tiga bulan sebelum album ini dirilis, membawa angin segar. Lagu yang catchy--dengan aransemen simple dan lirik tentang patah hati--sekaligus berbobot itu memiliki kekuatan untuk menaklukkan telinga para penggemar musik pop Indonesia. Lagu tersebut juga tak terkesan cheesy dengan aransemen sedikit up-beat yang ditingkahi permainan drum-loop.

Yang Terlewatkan menjadi single kedua album ini. Dari melodi, lirik, dan aransemennya, lagu itu bertipe lagu yang jadi favorit para penyuka musik pop Tanah Air. Tapi, meskipun mellow, lagu tersebut tidak menghadirkan kesan Melayu yang mendayu-dayu, yang kini ada pada mulai banyak hit Indonesia. Dalam lagu itu Eross murni memainkan gitar akustik minus distorsi dan Adam menggunakan bas fretless untuk memperkuat kesan balada.

Lagu Mudah Saja tampaknya berpotensi untuk menjadi hit selanjutnya So7. Lagu balada tersebut terdengar mengalir dan tulus, tanpa ada sesuatu yang dipaksakan. Dalam lagu itu Duta sedikit memasukkan gaya bernyanyi yang bluesy. Sementara itu, lagu Arah menjadi istimewa bagi Adam, karena untuk pertama kalinya ia memainkan line bas beraroma swing.

Dengan lagu Lia Lia Lia, So7 menunjukkan kemampuan mereka mencipta dan memainkan pop-teaterikal, yang rada rumit, sehingga tetap terdengar simple dan mudah dicerna.

Alasanku menjadi lagu paling hening di album ini. Hanya berbekal petikan gitar akustik dan sedikit hiasan orkestra string, Eross dan Duta berusaha untuk mencipta suasana yang mengaduk-aduk perasaan hati. Usaha mereka itu berhasil.

Duta bermain di nada-nada tinggi pada Segalanya. Lagu tersebut dipersembahkan untuk Sheilagank, sebutan untuk para penggemar fanatik So7. ”

Sampai Kapan, di penutup, menjadi lagu terkeras dalam album ini. Tapi, asal tahu saja, tak sekeras Sahabat Sejati, Karena Aku Setia atau Pejantan Tangguh, yang ada dalam album-album terdaulu mereka.

Album Menentukan Arah ini boleh dibilang berhasil memadukan antara kualitas dengan komersialitas. Mudah dicerna, nyaman didengar, sekaligus tetap bisa dipertanggungjawabkan dari segi kualitasnya.

Jika momentumnya tepat, bukan tidak mungkin So7 akan menjual album ini hingga menembus angka 500.000 keping lebih. Namun, tipis kemungkinan untuk mengulang angka sejuta copy atau lebih, yang pernah mereka capai dengan beberapa album mereka sebelumnya, mengacu ke kondisi pasar dan industri musik Indonesia sekarang. (Adhika Prasetya/Kompas TV) 

Kompas TV/Adhika Prasetya

A A A
komentar anda :
farida @ Jumat, 18 Januari 2008 | 10:46 WIB
wah..bener bangeet tuch...zaman sekarang klo ga kritis yang ada malah kebablasan...kaya filim teletubies yang salah satu perannya make lambang kaum homo..padahal di malaysia dah ditentang keras supaya ga diedarin, eh malah di indonesia booming...n banyak banget kasus anak2 kecil yang punya tindakan asusila abis nonton acara2 di TV
fachrial @ Kamis, 17 Januari 2008 | 14:21 WIB
mending dihentikan aja penayangannya, saat saya menonton NARUTO emang sarat dengan kekerasan dan kasar dialog2nya yang akan mempengaruhi anak2 kita .. saya setuju untuk dihentikan penanyanganya
unyil @ Kamis, 17 Januari 2008 | 13:25 WIB
saya telah menonton dvd naruto dari episode 1 hingga 115 an (hampir tamat), dan memang banyak adegan yang membutuhkan bimbingan orang tua pada saat anaknya menonton film tersebut. orang tua harus menjelaskan adegan - adegan yang penuh dengan budaya jepang yang mental baja, kemauan keras, dan juga (benar) kekerasan. kekerasan di sini yang saya artikan adalah adegan di mana manusia dibunuh, dengan senjata tajam dan/atau tenaga yang tidak kelihatan. ada juga adegan dan dialog yang eksplisit unsur seks nya.saya pribadi dapat mengambil beberapa intisari dari film naruto yang sangat menyentuh hati (terlepas dari adegan kekerasan yang sekali lagi memang banyak di dalam film tersebut) dan nilai - nilai positif lain seperti pantang menyerah, kebersamaan, kesetiaan, kejantanan, dan memegang teguh nilai kebenaran. saya pribadi sangat menikmati dan suka dengan film seperti naruto. tapi pasti film naruto tidak cocok utk semua orang, terlebih anak - anak yang hampir pasti tidak bisa mengartikan semua adegan dalam film naruto (dan film2 lainnya!) dengan jelas dan gamblang. yang paling saya khawatirkan adalah interpretasi anak2 terbatas kepada adegan fisik film naruto (dan film2 lainnya juga!), tidak kepada nilai normatif yang tersirat. sehingga jika naruto diteruskan penayangannya, ada baiknya diberikan tanda BO (bimbingan orang tua), jangan SU (semua umur).terima kasih
Ridho @ Kamis, 17 Januari 2008 | 12:47 WIB
mending ngurusi kedelai aja dah pak anggota DPR! sukanya kok ngurusi yang ga perlu di urus!
loik @ Kamis, 17 Januari 2008 | 12:23 WIB
kalau semua acara kartun seperti INI saja pun di hentikan mending nonton "unyil" aje, kan acara unyil bagus juga dan mendidik... sekarang juga, kalo mau ngomong kekerasan, lihat lah dulu cara organisasi tertentu dalam "menegakkan keadilan". selalu mengutamakan kekerasan... perbaiki itu dahulu, kemudian barulah mengurus masalah seperti ini!! this is bullshit..
7 Komentar
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
 
Artikel Lainnya

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: simplexml_load_file() [function.simplexml-load-file]: I/O warning : failed to load external entity "/www/mp-ws-02/public_html/data/xml/sec_10_14.xml"

Filename: libraries/allfunc.php

Line Number: 393

 
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort