

|
/ Home
Trio Pelajar Bandung Berjaya di Kompetisi Film Dokumenter
Artikel Terkait:
JAKARTA, RABU - Trio pelajar Bandung, yakni Indri, Ridho dan Reggi berhasil membawa pulang tiga piala di ajang kompetisi pembuatan film dokumenter Think, Act, Change The Body Shop A Documentary Film Competition 2008, yang digelar untuk kedua kalinya. Lewat film dokumenternya yang berjudul Mengapa Harus Diam? Indri Cs, berhasil memboyong tiga penghargaan masing-masing untuk, tema Film Dokumenter Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Film Dokumenter Terfavorit, dan Film Dokumenter Terbaik. Atas kemenangan tersebut, ketiganya berhasil membawa pulang hadah sebesar Rp35 juta. Mengapa Harus Diam? mengangkat tema kekerasan dalam rumah tangga. Indri Cs mengemasnya dengan sangat ringan namun pesan yang disampaikan sangat jelas dan mengena. "Dalam masyarakat kita kekerasan dalam rumah tangga sangat jarang dibahas, karena budaya diam yang sangat dianut mayoritas perempuan di Indonesia. Padahal isu sosial ini sangat kompleks, karena menyangkut unsur gender dan kehidupan sosial," jelas Ridho usai menerima penghargaan di Blitzmegaplex Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (18/11). "Kami membuat film ini bukan untuk kompetisi, tapi untuk disampaikan kepada orang banyak. Kebetulan kami mendapatkan narasumber yang open minded. Korban KDRT yang mempunyai cerita menarik, latar belakang yang unik, dan juga punya jiwa sosial untuk bilang kepada orang banyak stop violence," tambah Ridho. Dengan terpilihnya Indri, Ridho dan Reggi untuk ikut serta dalam kompetisi, tidak hanya membuahkan tiga penghargaan, tapi juga pengalaman yang memiliki banyak pelajaran. "Untuk anak SMA seperti kami cukup sulit untuk mendalami masalah ini, karena ini bukan masalah yang terbuka. Apalagi untuk masuk ke LSM-LSM dan kepolisian. Tapi biar bagaimana pun remaja juga harus tahu permasalahan ini, untuk mengantisipasi kalau itu terjadi pada diri kita nanti," papar Indri. Kompetisi film dokumenter tahun ini diikuti oleh 22 peserta. Panitia dan juri membatasi tiga tema yang diangkat yakni SMU, amatir dan master class. Selain masalah KDRT, tema lainnya adalah penyebaran HIV/AIDS pada remaja produktif, dan pemanasan global. Dari 22 peserta, terjaring 7 kelompok, dengan perincian enam kelompok untuk kategori SMU dan satu kelompok untuk kategori amatir. "Tema untuk tahun ini memang sama dengan tahun sebelumnya. Yang membedakan adalah ketiga tema tersebut ditinjau dari perspektif wanita. Kami ingin memberikan pembelajaran bagi para remaja, bagaimana cara mereka memandang permasalahan isu lingkungannya yang kerap terjadi hingga saat ini melalui media film," ungkap Myra Diarsi, yang menjadi juri bersama Nia Dinata, Riri Riza, Winky Wiryawan, dan Suzy D Hutomo. Bagi Riri Riza, ajang yang memberikan kesempatan bagi remaja untuk berkarya di dunia perfilman ini memang sudah saatnya diberikan apresiasi yang lebih luas. "Keadan sosial yang difilmkan dalam sudut pandang anak muda bisa menimbulkan perspektif yang menarik. Dilihat dari konteks kultural di Indonesia yang beragam. Ini diperlukan untuk persoalan-persoalan yang memang harus disuarakan," terangnya. Penilaian juri untuk menentukan siapa yang berhak mendapat penghargaan tidak hanya bertumpu pada perhitungan angka dan sistem tabulasi yang telah ditetapkan. "Yang penting pesan yang ingin disampaikan jelas dan sesuai dengan tema, juga merupakan gambaran suara anak muda tentang persoalan yang dibahas. Yang tak kalah paling penting adalah pesan tersebut dibungkus dengan baik," tambah Riri. Untuk kategori SMU, tema penyebaran HIV/AIDS dimenangkan oleh Satrya, Galang dan Aisya dari sekolah High/Scope, Jakarta, dengan judul FYI. Tema pemanasan global dimenangkan oleh Asti Sholehah dari SMAN 14, Bandung, dengan judul Aku, Hidup dan Bumi. Sementara untuk kategori amatir dimenangkan oleh Rendi dengan judul Eyang Harini dalam tema Global Warming. Rencananya, salah satu film karya empat sutradara muda dari Kategori Master Class Think-Act-Change 2008, yang berjudul Pertaruhan, akan diputar pada hajatan Jakarta International Film Festival, yang akan digelar mulai tanggal 8 Desember 2008 mendatang. Kategori Master Class merupakan kategori baru di Think-Act-Change, yang merupakan kerjasama The Body Shop Indonesia dengan Kalyana Shira Foundation. (IFA/EH) EH,IFA komentar anda :
adi @ Kamis, 10 Juli 2008 | 16:09 WIB ga ngerti sm pelayamam bukopin cr bisnis dibidang listrik zarkoni @ Senin, 28 Januari 2008 | 02:04 WIB bagai mana jika saya membeli vocer seharga 100,000 lalu pemakaian saya lebih dari itu apakah listrik langsung mati, M.Anwar @ Sabtu, 19 Januari 2008 | 18:08 WIB bagus,lalu bagaimana dengan tukang catat apa akan di PHK? Jika percobaan sukses,wilayah akan di,apakah tetap satu supplyer (kan monopoly).Alat 800 Ribu cukup tinggi. Karnoto @ Jumat, 18 Januari 2008 | 13:17 WIB Apa nilai tokennya bisa expired seperti vocer HP? Kalau bisa expired konsumen repot juga harus ngabisin listrik yg telanjur "dibeli". haji Adhi @ Jumat, 18 Januari 2008 | 10:55 WIB Alhamdulillah.. Akhirnya PLN meluncurkan Produk yang tidak mambebankan pelanggan. semoga program ini cepat berlaku Nasional. minimal di P.Jawa. dan langkah inovasi yang menguntungkan Pelanggan dapat ditiru BUMN lain. Posting komentar anda
|
|
|
Rubrik:
Nasional
Regional
Internasional
Megapolitan
Bisnis & Keuangan
Kesehatan
Olahraga
Perempuan
Properti
Sains
Travel
Otomotif
Situs: KOMPAS.com Bola Entertainment Tekno Otomotif Forum Community Images Mobile Cetak KompasTV SelebTV VideokuTV PasangIklan |
|
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
|