Lihat Kamera Lagi, Nana Mirdad Sempat Ingin Pipis
Selasa, 6/1/2009
KOMPAS ENTERTAINMENT/ADITYA OKTAVIRMANA

JAKARTA, SELASA - Hanna Natasya Maria Mirdad atau akrab disapa Nana Mirdad mengaku kalau belakangan ini ia kerap dihantui perasaan deg-degan. "Sebentar lagi film pertama saya dirilis. Jadinya agak deg-degan juga. Mudah-mudahan sih, masyarakat bisa terhibur dan menerimanya," ujarnya saat ditemui di kawasan Senayan City, Jakarta, Senin (5/1).
 
Nana mengaku film pertamanya, Kawin Laris, rencananya akan dirilis ke pasaran pada 15 Januari 2009 nanti. Jadilah, ia dibuat dag-dig-dug. Sebab,  inilah kali pertama ia mencicipi akting di layar lebar.  "Saya sih sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi selera penonton kan berbeda. Saya hanya bisa optimis, moga-moga saja akting saya enggak malu-maluin dan film bisa diterima dengan baik" harap Nana.

Dunia akting bagi putri kandung pasangan aktor dan aktris Jamal Mirdad dan Lidya Kandau itu, memang bukan barang baru. Sebelum memutuskan menikah dengan  bintang sinetron Andrew White dan melahirkan seorang anak, wajah Nana kerap memenuhi layar kaca sinetron televisi Tanah Air. Namun, setelah berbadan dua dan melahirkan anak, perhatiannya justru terfokus pada  anak semata wayangnya itu. Ia pun memutuskan untuk rehat dari dunia akting.

"Tawaran yang datang, ada beberapa, tapi kayaknya kurang pas. Begitu datang yang ini, saya pikir cocok, ceritanya lucu, terus ikut kasting," ujarnya. 

Kawin Laris merupakan film bergenre komedi garapan sutradara Cassandra Massardi. Film ini, tentu saja membawa pengalaman baru buat Nana. "Awalnya grogi dan sempat tak percaya diri. Tapi lama-lama terbiasa kembali. Untungnya, saya punya  adik, (Naysila) yang banyak membantu.  Kalau sudah ngomong, dia bisa  membuat saya tenang," ujarnya. 

Diakuinya, perasaan dag-dig-dugnya, itu  lantaran ia sudah cukup lama tak berhadapan dengan kamera.  "Begitu lihat kamera lagi, rasanya ingin kencing segala. Tapi, setelah mulai syuting,  grogi lama-kelamaan mulai menyusut," ucap perempuan kelahiran 14 Maret 1985 tersebut. (EH)
 

Share on Facebook  
Nilai 1 AAA
Ada 10 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
1 dari 2 Halaman Komentar | First Prev Next Last

go nana,,,,

Posted by: luci | Jumat, 9 Januari 2009 | 13:38 WIB

Andy lee itu bukan orang indonesia asli jadi kita harap maklum, di indonesia gak ada nama belakang lee. Adanya Wijaya contohnya Nani Wijaya, Mieke Wijaya,yg pake nama keluarga biasanya mereka dari keluarga ningrat(jaman dulu), juga mereka yang dari indonesia timur, Batak biasanya punya nama keluarga. apa salahnya sekarang nama keluarga mulai di pakai supaya bisa ngelacak asal-usul.

Posted by: flora | Kamis, 8 Januari 2009 | 00:34 WIB

putri,lola, kamu bener, saya ngrasain,gimana susahnya bolak-balik nerangin bahwa saya dari Indonesia,suku Jawa tidak memiliki familie name waktu mengurus segala macam,malah mreka heran ada juga yg ketawa,masa sich ga ada familie name? ga mungkin itu!katanya,di dunia internasinal familie name amat penting, krena pengalaman yg cukup menyulitkan itu sayapun menganjurkan pada saudara2 saya untuk mencari nama anak2 mrereka, yg gampang di baca oleh siapapun tidak terlalu panjang tidak lupa nama bapak cantumkan klo kbtulan ga ada fam name seperti saya

Posted by: rafael | Rabu, 7 Januari 2009 | 20:48 WIB

andy lie,...rupanya ngana yang biongo.Pake fam bukan berarti kebarat2an.Ditempat kita hidop....nama keluarga harus dipakai. Kecuali dia DIBUANG......ATAU DIPECAT DARI TURUNAN/KELUARGA KARENA BERBUAT SESUATU YANG MEMALUKAN KELUARGA. Na....ngana jugakan ada pake lie/pake fam....kiapa ngana momester/pusing kalu NANA PAKE MIRDAD...???itukan dia pe PAPA PE NAMA........BOGO.....!!!

Posted by: Queen,Manado | Rabu, 7 Januari 2009 | 09:18 WIB

ko,malah ngebahas nama....???Puyengg deh gw...

Posted by: solly | Rabu, 7 Januari 2009 | 06:35 WIB

Posting Komentar Anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.