Malam itu Milik Jubing

Kompas.com - 17/07/2008, 22:32 WIB
Editor

JAKARTA, KAMIS- Apa jadinya jika perkusionis Suryadi, maestro gitar klasik Indonesia Jubing Kristianto, dan penyanyi tenor Christopher Abimanyu berkomplot menyanyikan lagu lawas Besame Mucho? Hasilnya, penonton tidak rela ketiga jagoan yang lihai memainkan “senjata” musiknya masing-masing mengakhiri pertunjukannya!

Ini kenyataan, penampilan Jubing pada Kamis (17/7) malam itu memaku para penonton di ruang utama Bentara Budaya Jakarta. Ruangan yang biasa digunakan pameran lukisan dan kegiatan budaya lainnya itu disesaki penonton, mulai pecandu gitar, siswa-siswi pengikut kursus gitar, sampai orang awam. Mereka rela lesehan agar bisa berdekat-dekat dengan Jubing khususnya, sementara yang di bagian belakang rela berdiri tanpa bisa beranjak pergi.

Magnet yang menyedot perhatian malam itu tentu saja Jubing Kristianto, gitaris yang mantan wartawan membawakan hampir seluruh komposisi unggulan pada album pertama dan keduanya, masing-masing Becak Fantasy dan Hujan Fantasy. Penonton tidak lepas-lepasnya bergumam dan berdecak kagum bahkan saat permain gitar belum berakhir. “Gila banget permainan gitar orang ini,” komentar seorang penonton.

Saya yang telah lama mengenal Jubing dan pernah menulis sosoknya untuk Harian Kompas, meminta anak saya untuk hadir menyaksikan Jubing, kendati ia harus tiba di tempat pertunjukkan naik kereta api. Saya yang pernah menyaksikan sendiri Jubing memainkan gitar untuk saya saat saya mewawancarinya seperti tak percaya atas permainan Jubing yang begitu sempurna, sesempurna permainan yang saya dengar dari kedua CD-nya yang sudah beredar.

Jubing langsung menggebrak dengan solo gitarnya membawakan lagu Beatles, I Wanna Hold Your Hand. Jubing juga mengagetkan penonton saat memainkan komposisi Aku Cinta Dia, sebuah lagu “genit” yang dibawakan Chrisye. Namun decak kagum penonton mulai terdengar saat suami Reny Yaniar ini memainkan Bengong Jeumpa, sebuah lagu rakyat Aceh. Repertoar dan koda yang bernada pentatonis dan bahkan seperti suara gambus mengundang tepuk tangan, apalagi saat ia mengocok-ngocok gitar tanpa putus tetapi tetap memainkan Bengong Jeumpa.

Pembawa acara yang menuntutn acara itu dengan hidup, terus menggoda penonton. Jubing cukup luwes di depan panggung, bila perlu ia berteriak meminta operator mengecilkan volume gitarnya. Suasana menjadi cair, tidak terkesan seram dan anggun sebagaimana terjadi kalau sebuah pertunjukan musik klasik berlangsung. Tetapi permainan gitar yang disuguhkannya tidak kalah agung karena penonton seperti tersihir di tempatnya masing-masing.

Jubing memainkan sebagian besar komposisi lagu pada album Hujan Fantasy, termasuk lagu dangdut Pengalaman Pertama yang pernah ngetop dibawakan A Rafiq. Dalam lagu ini Jubing ditemani Suryadi yang memainkan alat perkusi Nigeria bernama “voodoo”. Efek alat musik seperti kendi itu menghasilkan suara seperti tabla yang biasa dimainkan perkusionis India tetapi dengan suara yang lebih variatif. Ingin rasanya saya berdiri untuk berjoget karena lagu dangdut pun di tangan.

Jubing menjadi sangat fantastis. Saya sadar bahwa saya sedang menyaksikan gaya permainan musik klasik, bukan musik dangdut.
Kolaborasi Jubing dengan Suryadi yang lebih menghebohkan lagi terjadi saat lagu etnis Jawa, Gundul-gundul Pacul, berkumandang, mengentak kesadaran penonton, bahwa sebuah lagu sederhana pun bisa berbunyi dengan elegan, tidak kalah dengan komposisi Mozart, Bach, Paganini, atau Fernando Carulli. Pada lagu ini aksi Suryadi, perkusionis asal Solo, seperti tidak terbendung lagi. Ia tampak ekstase menikmati permainannya sendiri, ditingkahi petikan gitar Jubing yang liar, mengalir dan tak terduga. Banyak penonton melakukan penghormatan dengan berdiri usai Gundul-gundul Pacul berakhir.

Tak pelak lagi, dua lagu yang diciptakan Ibu Sud, Becak dan Hujan yang dimainkan dalam rentang waktu berbeda, menjadi puncak penampilan Jubing secara solo. Tepuk tangan ritmik mengiringi masing-masing lagu itu. Pada lagu Becak, Jubing memamerkan keahlian yang tidak banyak dimiliki gitaris manapun, yakni mengubah suara gitar menjadi suara gamelan. Saya dan mungkin penonton lainnya nyaris tidak percaya bahwa itu suara gitar!

Seperti telah saya sebutkan, Jubing membawakan sebagian besar komposisinya yang terdapat pada album Hujan Fantasy, termasuk lagu Taiwan, Ye Liang Tai Wo Tie Sien, dan lagu yang pernah dibawakan Freddie Mercury dari Queen, Bohemian Rhapsody. Bohemian benar-benar “menyihir” penonton karena Jubing memainkan komposisi terbaiknya yang sering dimainkan gitaris dunia itu. Namun saat Jubing memainkan Mission Imposible, saya lebih tidak percaya lagi kalau lagu itu begitu hidup, seakan-akan saya menyaksikan adegan dalam film Mission Imposible itu.

Pilihan kolaborasi Jubing dengan Suryadi dan Abimanyu memang menjadi paduan menawan malam itu, apalagi sebelumnya Jubing mengiringi Abimanyu yang membawakan lagu Gubahanku yang digubah Gatot Sunyoto. Sayangnya, baik lagu Mission Imposible dan Gubahanku tidak terdapat dalam kedua album Jubing yang pada malam itu laris manis, habis terjual. Saya berharap kedua lagu itu akan terdapat dalam album jubing berikutnya.

Jubing, dan juga Suryadi dan Abimanyu menutup penampilan malam itu dengan lagu pamungkas Besame Mucho, seperti yang sudah saya ceritakan di awal tulisan ini. Saya sedih harus mengakhiri tontonan mereka pada malam itu. Tetapi saya percaya, malam itu milik mereka bertiga, khususnya Jubing.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X