Mari Men-desa-kan Jakarta

Kompas.com - 01/03/2009, 01:59 WIB

Budi Suwarna

Buat sebagian orang, mimpi mereka mungkin agak aneh: ”men-desa-kan” kota metropolitan Jakarta. Namun, itulah yang dilakukan komunitas Bundaran Hotel Indonesia.

Jumat (27/2) malam menjelang dini hari, suasana di sekitar Bundaran Hotel Indonesia (BHI) terasa romantis. Hujan gerimis, hawa dingin mengiris. Cahaya dari lampu-lampu hotel dan papan reklame tampak sedikit redup.

Di halte seberang Hotel Nikko, enam orang anggota komunitas BHI duduk bergerombol. Mereka menunggu kedatangan anggota lainnya.

Malam itu, seperti Jumat malam sebelumnya, mereka janjian nongkrong di Bundaran HI. Biasanya, mereka berkumpul tepat di pelataran depan Plaza Indonesia dari pukul 22.00 hingga sekitar pukul 02.00. Tidak ada kegiatan khusus yang mereka lakukan setiap nongkrong. Mereka hanya ngobrol ngalor-ngidul, bercanda, atau curhat tentang kejamnya kota Jakarta sambil merokok dan menikmati minuman panas buatan seorang ibu yang mereka panggil Mbok Wedhang.

”Kalau sudah nongkrong di sini, kami merasa seolah-olah sedang ngangkring di Yogyakarta,” kata Bachtiar Rifai (33) yang dipanggil presiden BHI oleh teman-temannya. Ngangkring adalah nongkrong di warung kaki lima yang menjual teh, kopi, dan nasi kucing (nasi berukuran sekepal tangan dengan lauk sambal dan satu ikan teri).

Bachtiar berasal dari Yogyakarta. Lulusan Teknik Nuklir UGM tahun 2003 ini mengaku terpaksa tinggal di Jakarta karena sulit mendapat pekerjaan di Yogyakarta. ”Sebenarnya, saya enggak bisa jadi orang Jakarta. Enggak ada nikmatnya,” kata Bachtiar yang kini bekerja di sebuah perusahaan swasta.

Syaeful, anggota BHI lainnya, menimpali, ”Tinggal di Jakarta itu seperti kutukan. Mau nongkrong saja biayanya mahal. Di Yogya, nongkrong di angkringan sampai pagi paling habis Rp 5.000 untuk beli kopi.”

Seperti Bachtiar dan Syaeful, sebagian anggota BHI, adalah para pendatang dari kota-kota di Jawa yang gamang menjadi bagian masyarakat metropolitan Jakarta. Meski berbilang tahun tinggal di sini, mereka tetap merindukan suasana kampung dan menyimpan romantisme nongkrong di angkringan.

Untuk mengatasi kegamangan itulah, mereka menciptakan ”sejumput suasana desa” di sela-sela gemerlapnya kawasan Bundaran HI. Di antara lamat-lamat deru kendaraan dan suara musik yang menembus dinding kafe di Plaza Indonesia, mereka bercengkrama dalam bahasa Jawa campur Indonesia. Kalau sudah begitu, gojekan kere (guyonan kaum jelata khas warga Yogya dan sekitarnya) pun berseliweran disusul derai tawa.

Mereka juga tidak segan berbincang-bincang dengan tukang ojek, penjaja makanan, dan anak-anak jalanan yang berbagi tempat di area publik Bundaran HI.

Suasana cair seperti itulah yang membuat Pitoresmi Pujingsih (27) betah nongkrong di sana. ”Di sini enggak ada sekat dan aturan. Dan, yang penting, bisa ngomong saru (’nakal’),” ujar karyawati perusahaan konsultan PR itu sambil terkekeh.

Dia mengaku pernah nongkrong di Bundaran HI dari pukul 20.00 hingga pukul 06.00. ”Kalau pulang malam, malah enggak dibukakan pintu oleh ibu kos,” katanya memberi alasan.

Ainun Chomsun (35), karyawati sebuah lembaga nirlaba, juga senang nongkrong di Bundaran HI. ”Awalnya saya takut digaruk (petugas keamanan dan ketertiban), tetapi lama-lama ketagihan juga,” kata perempuan asal Salatiga itu.

Mengalir

Menurut Bachtiar, komunitas BHI terbentuk begitu saja tahun 2006. Awalnya, Bachtiar, Syaipul, Nanang, dan Rohibun kangen suasana nongkrong di kampung. Mereka pun mencari-cari tempat nongkrong yang nyaman, tetapi gratis di jantung kota Jakarta.

Pilihan pertama jatuh pada Monumen Nasional (Monas). Dengan bermodal tikar, mereka lesehan di Taman Monas hingga pagi. Namun, karena sering diganggu semut merah dan aroma pesing, mereka pindah ke Bundaran HI.

Mereka berempat mulai nongkrong di sana 17 Mei 2006 sambil memandangi Patung Selamat Datang, seliweran kendaraan, hingga para perempuan pekerja toko dan restoran yang mengejar bus kota.

”Buat orang desa seperti saya, gemerlapnya kota, seliweran kendaraan mewah, dan pemandangan cewek-cewek mengejar bus kota memberi imaji tersendiri,” kata Bachtiar yang ketika itu baru datang dari Yogyakarta dan masih menganggur.

Sejak itu, Bachtiar cs nongkrong di sana. Selanjutnya, mereka mengajak teman-teman sesama pendatang untuk nongkrong di Bundaran HI. Tahun berikutnya, mereka membuat website b-h-i.blogspot.com. Dari website itulah informasi tentang komunitas ini menyebar ke mana-mana. Belakangan, BHI lebih dikenal sebagai komunitas bloggers.

Menurut Bachtiar, anggota milis BHI jumlahnya sekitar 100 orang dengan beragam latar belakang pekerjaan. Ada pengacara, pembuat film, wartawan, karyawan bank, karyawan perusahaan teknologi informasi, dan lainnya. Mereka semua, kata Bachtiar, sama-sama punya mimpi ”men-desa-kan” metropolitan Jakarta. Maksudnya, menciptakan suasana desa di tengah gemerlap Jakarta.

Anggota yang rutin nongkrong tiap Jumat malam sekitar 5-10 orang. ”Kalau ada acara khusus, seperti ultah, syukuran kawinan, atau diskusi blog, anggota yang datang bisa 70-an orang,” ujar Bachtiar.

Pada akhirnya, komunitas ini menjadi seperti keluarga besar dengan solidaritas kuat. Jika ada teman dari desa yang datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, sebagian anggota BHI siap memberi tumpangan sementara di kamar kos mereka. Mereka juga menggelar acara penyambutan di Bundaran HI.

Sebuah penyambutan yang hangat dan riil bagi pendatang. Bukan penyambutan simbolis dan artifisial yang ditunjukkan pemerintah lewat Patung Selamat Datang.


Editor

Close Ads X