Suami Cici Paramida Ditahan

Kompas.com - 19/06/2009, 05:21 WIB
Editor

Bogor, Kompas - Pada Kamis (18/6) pukul 21.00, Suhaibi Mazawi (48), suami Cici Paramida, resmi menjadi tahanan Kepolisian Resor Bogor. Sebelumnya, pihak Suhaibi sempat melaporkan sejumlah orang dari pihak Cici dengan tuduhan, antara lain, melakukan percobaan pembunuhan.

”Dia (Suhaibi) sudah masuk (sel tahanan),” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bogor Ajun Komisaris Muhammad Santoso.

Santoso menjelaskan, penyidik sudah memiliki cukup bukti untuk memastikan tersangka melanggar Pasal 44 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), yang ancaman hukumannya lima tahun penjara. Bukti-bukti cukup itu diperoleh dari keterangan 10 saksi, termasuk pelapor Cici Paramida dan surat keterangan visum dari dokter Rumah Sakit PMI Bogor.

”Tersangka kami tahan, selain undang-undangnya memungkinkan, juga agar proses hukum ini dapat berjalan cepat sampai ke pengadilan,” kata Santoso.

Suhaibi, sebelum menjalani penyidikan lanjutan yang kemudian ditahan, sempat membuat laporan polisi pada sorenya. Ia melaporkan enam laki-laki yang bersama Cici Paramida saat insiden di Cisarua pada Minggu 14 Juni. Cici tidak termasuk orang yang dilaporkan Suhaibi.

Dalam laporannya, Suhaibi menuduh enam laki-laki melakukan perbuatan tidak menyenangkan, pencurian, perampasan, dan percobaan pembunuhan.

”Barang apa yang dicuri atau dirampas dari pelapor, kami belum tahu karena laporannya belum kami lakukan proses berita acara. Fokus pemeriksaan dan penyidikan hari ini terhadap yang bersangkutan baru pada posisi yang bersangkutan sebagai terlapor pelaku KDRT,” katanya.

Secara terpisah, Zulhendri Hasan, kuasa hukum Suhaibi, menyatakan kekecewaannya kepada Polres Bogor yang menahan kliennya. ”Ada satu pokok persoalan di sini. Penyidik tidak menindaklanjuti pokok persoalannya, tetapi malah menindaklanjuti akibat persoalannya saja,” ujarnya.

Mendukung

Sehari sebelumnya, persoalan kekerasan dalam rumah tangga yang dihadapi Cici Paramida juga mendapat perhatian dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta. Seusai pembukaan sekolah masak Hakasima-Nila Sari di bilangan Radio Dalam, Jakarta Selatan, Rabu, Meutia menyatakan mendukung apa yang telah dilakukan Cici, yakni melaporkan kekerasan yang dialaminya.

”Tidak semua orang mengerti bahwa kekerasan di dalam rumah tangga itu bisa dilaporkan dan ada undang-undangnya. Saya juga menyayangkan, walaupun UU-nya sudah ada, sering kali tidak digunakan oleh penegak hukum,” ujar Meutia.

Namun, Meutia juga berpesan agar setiap perempuan berpikir ulang mengenai cara pandang laki-laki terhadap perempuan. Cara pandang laki-laki yang berulang kali menikah terhadap perempuan tentu berbeda dengan cara pandang laki-laki yang sekali menikah dan untuk selamanya.

”Jika memang ada kendala, lebih baik tidak dilakukan perkawinan. Lebih baik menangis selama dua minggu daripada menangis seumur hidup,” ujarnya. (rts/ARN/NEL)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.