Inilah Kisah Tragis Mama Lauren Kecil - Kompas.com

Inilah Kisah Tragis Mama Lauren Kecil

Kompas.com - 18/05/2010, 08:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Siapa sangka ahli terawang Mama Lauren ternyata punya kehidupan yang getir ketika ia masih sangat belia. Ia ditinggal orangtuanya ketika memulai belajar hidup sebagai anak manusia, lalu dikucilkan oleh teman-teman sebayanya karena dianggap anak kutukan.

Mama Lauren ditinggal pergi selamanya oleh sang ibu, Anna Breche, kala usianya berusia tiga bulan. Inilah yang membuatnya tak begitu mengenal seperti apa sosok sang ibu.

Hal yang sama juga dirasakannya terhadap sang ayah, Lau van Hoof, yang berasal dari Belgia. Ia tak terlalu mendapat kesih sayang yang berlebih darinya. Sebelum menikah dengan ibunya, Hoof pernah menikah dan memiliki tiga anak.

Belum lagi kesibukannya sebagai seorang arsitek membuatnya kerap bepergian ke sejumlah tempat. Hoof pernah memboyong keluarganya ke Belanda dan kemudian kembali lagi ke Belgia.    

Dalam usia yang terbilang masih kecil, Mama Lauren juga harus kehilangan ayahnya. Sang ayah meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Ia kemudian dirawat ibu tirinya yang tak lain adalah tantenya. Ya, karena Hoof memilih turun ranjang. Ia menikahi adik ibunya.

Meski begitu, sedari kecil ia justru mendapat perawatan dari opanya yang berdarah Persia-Perancis, serta omanya, Antoineta, yang berdarah Spanyol. Dari Antoineta-lah ia mendapat perhatian lebih. Ia juga diajarkan bagaimana belajar memahami hidup dan mencintai sesama.

Kepada majalah mingguan Femina, Mama Lauren pernah menuturkan kisahnya bahwa ia memiliki silsilah keluarga yang rumit. Pada usia 6 tahun, ia baru tahu bahwa oma dan opanya yang selama ini merawatnya ternyata bukan pula leluruh dari darah dagingnya.   

Meski begitu, Antoineta-lah yang memberikan kasih sayang yang tulus. Darinya ia belajar hidup dan Antoineta pulalah yang mengerti dan memahami tentang kelebihan dirinya.

Kelebihan inilah yang tak dipahami oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan, tak sedikit dari orang tua teman sebayanya yang meminta anak-anaknya agar menjauh dari Lauren kecil.   

Lauren kecil kerap dianggap anak yang aneh. Kemampuan Lauren dianggap mereka sebagai sebuah kutukan. Bahkan, tak jarang mereka menyebutnya sebagai seorang nenek sihir.

Kelebihan Lauren mulai terlihat ketika dia berusia 7 tahun. Kala itu, Perang Dunia II baru saja terjadi, tepatnya tahun 1939. Lauren yang tengah belajar di bangku kelas I SD tiba-tiba saja  mendengar suara bisikan di telinganya. Suara itu menyuruhnya untuk cepat-cepat keluar dari ruang kelas. Suara itu terdengar berulang-ulang dan makin kencang tanpa ia tahu siapa yang mengucapkannya.

Dia sempat dibuat bingung. Namun, ia kemudian menyampaikannya kepada gurunya. Tetapi bukannya didengarkan, si guru malah memarahinya dan mengusirnya keluar dari kelas. Lauren kecil dituding menghayal dan tukang membual.

Tak terima, Lauren kecil yang lugu dan polos memilih pulang sambil menangis. Ia kemudian menceritakan kejadian itu kepada Antoineta. Harga dirinya jatuh karena dianggap telah melakukan kebohongan dan mempermainkan gurunya. Namun, sesaat sampai di rumah, ia justru makin menangis sejadi-jadinya setelah mendengar kabar bahwa sekolahnya terkena bom dan ratusan orang tewas dalam peristiwa itu.

Dari sinilah kelebihan itu sering dianggap sebagai sebuah kutukan oleh orang-orang di sekitarnya. (EH)


Editor

Close Ads X