Tirani Media dalam Bencana Merapi

Kompas.com - 23/11/2010, 10:31 WIB
Editor

Tayangan infotainment ”Silet” di stasiun RCTI, Minggu, tanggal 7 November 2010 pukul 11.00-12.00, membuat miris (khawatir berlebihan) para penonton. Acara ini menampilkan ramalan bahwa pada 7 dan 8 November 2010 akan terjadi letusan Gunung Merapi paling dahsyat. Yogyakarta adalah kota malapetaka yang akan rata dengan tanah. Sumber informasinya meragukan tetapi presenternya sangat meyakinkan dengan ekspresi wajah tegang.

Stasiun televisi lain pada 29 (30?) Oktober 2010 juga menyiarkan kabar bahwa wedhus gembel (awan panas) telah meluncur sejauh 25 kilometer. Langsung saja berita ini membuat kepanikan hebat para pengungsi di Hargobinangun, Pakem, yang jaraknya tidak sampai 15 kilometer dari puncak Merapi sebab kawasan rawan bencana saat itu masih dalam radius 10 kilometer. Setelah dikonfirmasi ternyata yang dimaksudkan bukan awan panas yang mematikan, tetapi hujan abu yang tidak begitu berbahaya.

Dua kasus di media televisi ini menjadi contoh bagaimana peran media massa ternyata bukan hanya berfungsi menghadirkan realitas ke hadapan publik. Media massa ternyata mampu memproduksi ”realitas”—walau secara subyektif.

Akibat mediasi oleh media massa, masyarakat yang menderita karena jadi korban letusan Gunung Merapi menjadi terekspos ke mana-mana. Di sini terjadi proses transformasi dari korban gempa menjadi tontonan ”yang mengasyikkan”(?).

Fenomena bencana meletusnya Gunung Merapi direkayasa sedemikian rupa atau dimanipulasi dengan dibumbui ramalan-ramalan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Bahwa akan terjadi letusan paling dahsyat pada tanggal tertentu. Ini seolah-olah menjadi tontonan televisi yang mengasyikkan sekaligus menegangkan.

Di sini terjadi proses tirani-media, di mana media massa membuat representasi diri masyarakat yang diberitakan bukan dengan perspektif masyarakat. Media membuat representasi masyarakat dengan perspektif media sendiri yang tentunya sangat subyektif.

Mengapa media bisa berbuat tirani dan sangat berkuasa di Indonesia? Hal itu bisa terjadi karena didukung oleh regulasi yang memungkinkan media bisa berbuat seperti itu. Selain itu, media memiliki kemampuan memproduksi realitas karena didukung oleh kemampuan dana yang bersifat kapitalistik, dengan dana tertentu maka bisa diperoleh laba sesuai yang diinginkan.

Dari perspektif logika pasar maka tontonan yang bisa menghegemoni pemirsa dan memiliki rating tinggi adalah bagus karena bisa mendatangkan aliran dana melalui iklan. Akan tetapi, dari perspektif nilai-nilai kemanusiaan, tontonan ini sungguh tidak manusiawi, tidak memiliki empati terhadap penderitaan korban bencana Merapi.

Begitu muncul kabar akan terjadi letusan paling hebat dengan radius 65 kilometer dari puncak Merapi, barak-barak pengungsian bergolak. Ratusan ribu pengungsi yang jiwanya sedang terguncang mengalami kepanikan hebat dan berusaha pergi mengungsi ke tempat lain yang dianggap lebih aman. Para petugas dan relawan yang mendampingi pengungsi pun kalang kabut menenangkan para pengungsi dari kabar tidak bertanggung jawab tersebut.

Ketika Yogyakarta dikatakan sebagai kota malapetaka yang akan rata dengan tanah, predikat sebagai kota pendidikan yang nyaman pun runtuh. Para pelajar dan mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia maupun dari berbagai negara menuntut ilmu di Yogya. Para pelajar dan mahasiswa yang tidak menjadi korban letusan Merapi juga ikut panik. Eksodus ke luar Yogya bahkan ke luar Indonesia pun terjadi. Masyarakat di luar Yogya maupun di luar Indonesia yang memiliki keluarga di Yogya pun ikut panik dan berusaha menjalin kontak dengan keluarganya di Yogya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X