Erucakra C Man Band, Pembuktian di Java Jazz 2011

Kompas.com - 05/03/2011, 15:08 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com - Di antara sederet musisi besar yang turut menyemarakkan hajatan Jakarta International Java Jazz Festival (JIJJF) 2011, kehadiran penyanyi dan musisi Tanah Air tentu tak bisa dianggap sebelah mata.

Banyak musisi yang kini telah menembus pasar dunia namun sepi dari pemberitaan. Gitaris, vokalis, komposer jazz modern Erucakra Mahameru, boleh jadi salah satunya.

Di Tanah Air namanya tak terlalu terdengar gaungnya, tapi soal karya, jangan anggap enteng. Sejumlah karya ciptaannya mampu menembus tangga lagu Apple iTunes Amerika Serikat, menyusul kemudian Inggris, Perancis, dan Jerman pada  2009.

Tiga komposisi yang dibuatnya, yakni, Aranti's Code, Navrian (The Chapter), dan The Consultant, yang terangkum dalam album mini The Modern Jazz of Erucakra Mahameru, Marathon Journey C Man, masuk dalam top hits untuk kategori musik jazz tangga lagu Apple iTunes.

Bersama kelompoknya C Man, yang baru dibentuknya baru-baru ini, musisi asal Medan Sumatra Utara, jebolan Berklee College of Music Boston AS tahun 1995, itu akan mempertontonkan karya-karyanya di hadapan publiknya sendiri.

Dalam perbincangan dengan Kompas.com, Jumat (4/3/2011), Erucakra berjanji akan memberikan suguhan jazz dalam nuansa yang lain dalam penampilannya di ajang bergengsi tersebut pada Sabtu (5/3) malam di Stone Stage, mulai pukul 18.15 hingga 19.00.

Pada penampilannya nanti, Erucakra yang berposisi sebagai vokalis dan gitar, akan didukung Edie Zam (bas), Rusfian Karim (drum), Heri Syahputa (shynthesizer) dan Janesby (alto saxophone). Ia akan mempertunjukkan bagaimana musik jazz dapat berinteraksi dengan musik funk dan zapin.

Grup band Erucakra C Man Band, yang memposisikan diri sebagai musik beraliran neo progresif jazz akan juga menghadirkan karya-karya musisi dunia seperti The Dude milik Quincy Jones, So What dari Miles Davis, Myriant Moment milik C Man, dan "Cicak" + "Come Together" milik C Man dan The Beatles.

Di mata pemerhati musik jazz Gideon Momongan, kehadiran Erucakra C Man di ajang berskala internasional itu, akan menjadi pula ajang pembuktian diri di tengah kepungan nama besar penampil di ajang JIJJF 2011.

"Walaupun ada kemungkinan tetap tenggelam dalam kepungan nama-nama musisi mapan. Tapi ini akan menjadi batu loncatan bagi Erucakra ke depan," ujar Momongan.

Dia melanjutkan, kesempatan C Man tampil di JIJJF 2011 bisa menjadi sesuatu, atau hanya berlalu begitu saja. "Bergantung penampilan musikalitas dan konsep mereka nanti. Selama bisa mencuri perhatian atau memaku publik, itu baru berhasil," kata dia.

Apakah C Man yang tadinya lebih sohor di dunia maya, dan hanya menjadi bahan perbincangan jazzer Tanah Air, akan mampu benar-benar mencuri perhatian di ajang sebesar Java Jazz 2011?



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X