"Standing Ovation" untuk Balawan dan Kawan-kawan

Kompas.com - 05/03/2011, 17:33 WIB
EditorAti Kamil

SAN FRANCISCO, KOMPAS.com — Gitaris I Wayan Balawan (37) dari Bali bahagia. Pertunjukannya pada malam kedua Other Minds Music Festival 2011 di San Francisco (California, Amerika Serikat), Jumat (4/3/2011) waktu setempat, mendapat sambutan hangat berupa standing ovation (bangkit dari tempat duduk dan memberi tepuk tangan panjang) dari para penonton festival yang menghadirkan komposer-komposer yang dinilai kreatif dan unik itu.

Di hadapan hampir 500 penonton undangan dan umum, Balawan tampil di panggung Kanbar Hall, San Francisco, ditemani oleh I Nyoman Suwida dan I Nyoman Suarsana, dua pemain gamelan Bali dari Batuan Ethnic Fusion, grup yang dibentuknya di kampung halamannya, Batuan (Sukawati, Gianyar, Bali), pada 1997. Selama 30 menit, mereka menyuguhkan "GloBALIsm", "Mie Goreng", dan "See You Soon", tiga lagu lama ciptaan Balawan.

Balawan, yang terkenal sebagai gitaris dengan teknik tapping (bermain gitar seperti bermain piano), beraksi dengan dua gitar elektrik--yang satu double neck dan yang satu lagi "biasa"--plus efek sound pelengkapnya. Sementara itu, Suarsana dan Suwida menggunakan gangsa, kendang, dan suling, yang merupakan bagian dari gamelan Bali. Balawan dengan Batuan Ethnic Fusion-nya memang menyajikan fusi, antara musik jazz dan musik etnik Bali.

Pada lagu "GloBALIsm", Balawan didukung oleh Suwida dan Suarsana saja, sedangkan dalam dua lagu lainnya mereka bertiga diperkuat dengan dua pemusik San Francisco, Scott Amendola (drum) dan Dylan Johnson (bas). Dalam pertunjukan tersebut, Amendola juga mendapat kesempatan mengadu permainan drumnya dengan permainan gitar Balawan, yang sound-nya diubah menjadi seperti sound perkusi, dan dengan permainan gangsa oleh Suarsana.

Dalam pementasan itu pula Balawan juga memberi sedikit gambaran kepada para penonton, yang kebanyakan warga negara AS, tentang bagaimana gangsa dimainkan. Untuk itu, Balawan meminta Suarsana dan Suwida mempraktikkan permainan gangsa dengan tempo lambat dan tempo cepat. Selain itu, Balawan tak lupa membubuhkan canda ketika berbicara kepada para penonton.

Dari empat komposer tamu Other Minds Music Festival 2011 yang mendapat giliran tampil pada malam kedua festival tersebut, yaitu David A Jaffe (AS), Balawan, Agata Zubel (Polandia), dan Han Bennink (Belanda). Balawanlah yang memberi sajian paling menghibur. Suguhan tiga komposer lainnya cenderung mengedepankan keunikan sesuai dengan  festival itu. Di lain pihak, Balawan menghadirkan keunikan sekaligus hiburan, yang dikagumi sekaligus dinikmati para penonton.

Di akhir pertunjukan, para penonton melakukan standing ovation untuk Balawan dan kawan-kawan. Balawan cs-lah satu-satunya penampil pada malam kedua festival itu yang sampai menjadikan para penonton demikian. Kata-kata penghargaan pun, dari "Amazing", "Wonderful", "I really enjoy your music", atau, "Thank you for your performance", mengalir dari bibir mereka sembari menyalami Balawan dan teman-temannya.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

    Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

    Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

    Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

    Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

    Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

    Budaya
    In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

    In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

    Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

    Budaya
    Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

    Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

    BrandzView
    Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

    Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

    BrandzView
    Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

    Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

    Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

    Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

    Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

    Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

    Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

    Budaya
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X