Jakarta, Kaulah Cahaya dan Cinta

Kompas.com - 06/03/2011, 06:37 WIB
EditorJimmy Hitipeuw
Frans Sartono

KOMPAS.com - ”Saya katakan, Jakarta, siapa engkau. Kaulah cahaya dan cinta,” kata gitaris Carlos Santana di atas panggung Java Jazz di Jakarta, Jumat (4/3/2011) malam.

Kata-kata Santana itu diucapkan di tengah-tengah lagu ”A Love Supreme”. Ia mengenakan topi panama khasnya dan tetap berkumis pula. Lelaki kelahiran Tijuana, Meksiko, ini terkesan sedang ”berkhotbah”.

Matanya terpejam, dengan jari-jari siap merayapi dawai gitar lalu ia berkata, ”I say, Jakarta, who are you. You are light and love....” Lalu ia mengajak tak kurang dari 8.000-an penonton berseru, ”Light and love... light and love....” Maka, arena festival jazz itu dipenuhi suara dari ribuan mulut yang secara ritmis mengucap serupa mantra cahaya dan cinta itu.

Santana menjadi salah satu bintang pada perhelatan yang resminya bernama Axis Jakarta International Java Jazz Festival 2011 itu. Bintang lain ialah Roy Hargrove Quintet, George Benson dan Corrine Bailey Rae, Joey De Francesco, sampai Fourplay.

Santana termasuk bintang yang paling ditunggu-tunggu publik. Tiketnya ludes terjual untuk dua hari pertunjukan pada Jumat dan Sabtu. Sekitar satu jam sebelum pintu gedung dibuka, lima lapis antrean panjang penonton sudah mengular sampai sekitar 100 meter.

Tampak ada dua lapis generasi penonton, yaitu orang-orang yang mengalami masa remaja pada era 1970-an dan remaja era 2.000-an, plus remaja hari ini.

Santana memang melintas generasi. Itu bisa disimak dari lagu-lagu yang disuguhkan malam itu. Ia memainkan lagu-lagu yang dipopulerkannya pada era awal 1970-an, seperti ”Black Magic Woman”, ”No One to Depend on”, sampai ”Oye Como Va”.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dari lagu kondangnya era akhir 1990-an sampai awal 2.000-an disuguhkan ”Maria-Maria”, ”Corazon Espina”, dan menjelang akhir konser ia mainkan ”Smooth”. Satu lagu kondang Santana era awal 1970-an, yaitu ”Guajira”, hanya disisipkan potongannya di tengah lagu ”Corazon Espina”.

Santana memberi wejangan pada penonton untuk selalu menghormati perempuan. ”Kalau perempuan tidak bahagia, ekonomi bisa ambruk...,” katanya sambil membalikkan jempol tangan ke bawah. Penonton tertawa, lalu mengalunlah ”Maria-Maria” dan penonton pun menjerit-jerit histeris. Latin ”abis”

Semua lagu-lagu di atas membuat ribuan penonton meledak dalam tepuk sorak riuh. Lagu-lagu tersebut disuguhkan dengan gaya khas Santana yang—meminjam bahasa gaul—rock banget, Latin abis. Kelatinan Santana terasa pada cengkok melodi. Lagu apa pun yang disentuh Santana akan terdengar rasa Latin-nya, termasuk ”Smooth”.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X