Jakarta, Kaulah Cahaya dan Cinta

Kompas.com - 06/03/2011, 06:37 WIB
EditorJimmy Hitipeuw

Sosok Latin juga terdengar dari perkusi dan drum yang masif. Santana membawa dua perkusionis, yaitu untuk conga dan timbales. Gaya Latin rock ala Santana ini pada awal 1970-an menjadi wabah pada band di panggung di negeri ini. Sampai-sampai orang menyebut Latin rock sebagai musik Santana.

Cita suara gitar Santana yang sangat khas dan menjadi paraf atau torehan personalnya itu sudah terdengar sejak ia tampil di Festival Woodstock 1969. Dalam perbincangan dengan Kompas, Santana mengatakan, sound atau cita suara gitar ibarat sidik jari. Cita suara gitarnya terbentuk dari dua hal. Pertama dari pengaruh luar, seperti gitaris Stevie Ray Vaughan, Jimi Hendrix, sampai BB King, juga dari legenda jazz (nongitaris), seperti Miles Davis dan John Coltrane.

”Saya menyebutnya sebagai S-O-O, sound of collective consciousness (suara dari kesadaran kolektif).” Namun, ia juga percaya pada kesertaan kekuatan di luar dirinya.

”Saya ingin seperti anak umur 7 tahun yang bangun tidur selalu dengan rasa kekaguman. And that’s why music for me is not a job, but a joy (Itu mengapa musik bagi saya bukan pekerjaan tapi sukacita).”

Tulen

Rasa musik dan suasana yang sangat berbeda terasa pada penampilan Roy Hargrove Quintet. Mereka menyuguhkan rasa jazz tulen. Seperti pada tahun lalu, Roy dan kawan-kawan memainkan ”You’re My Everything”. Roy dengan mata terpejam memainkan flugehorn, alat serupa terompet, dengan sangat lembut, nyaman, nikmat, dan membuai. Penampilan Roy Hargrove ditonton penikmat jazz tulen pula, antara lain Bubi Chen.

Rasa jazz di Java Jazz juga dijaga dengan setia oleh Ron King Big Band yang telah lima kali tampil di Jakarta. Ia membawakan komposisi standar jazz, mulai ”Polka Dots and Moonbeams” sampai ”Up Jumped Spring”-nya Freddie Hubbard. Kehadiran Ron King menjadi pembelajaran tentang jazz standar bagi pengunjung festival. Dan, yang menarik dalam penampilan Ron King, pengunjung menikmati dengan serius.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada penyelenggaraan yang ketujuh ini, Java Jazz semakin menampakkan sosoknya sebagai pesta raya penikmat jazz. Batas antara jazz dan bukan jazz bukan persoalan bagi penonton karena rakyat membutuhkan hiburan, sukacita, apa pun nama jenis musiknya. Seperti dikatakan Santana, musik itu sukacita. Sukacita dari orang-orang pembawa cahaya dan cinta: ”Light and love, light and love....” (BSW/WKM)

Halaman:


25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X