Adjie Noto Ingin Bebas tapi Pasrah

Kompas.com - 16/08/2011, 14:37 WIB
EditorAti Kamil

JAKARTA, KOMPAS.com -- Vonis 10 bulan penjara telah dijatuhkan pada Senin (15/8/2011) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) atas prancang fashion Adjie Notonegoro (49), yang dinyatakan oleh Majelis Hakim terbukti melakukan pelanggaran pidana Pasal 378 dan Pasal 65 (1) KUHP. Adjie mengaku pasrah menerima vonis tersebut, sedangkan kuasa hukumnya, Boy Afrian Bonjol, tidak bisa menerima vonis terhadap kliennya itu.  

Sidang vonis itu diadakan di Ruang Sidang Kusuma Atmadja, PN Jaksel, Senin (15/8/2011) dan dihadiri oleh Adjie sebagai terdakwa; Boy, kuasa hukumnya dari OC Kaligis and Associates; dan Sumino, perwakilan Jaksa Penuntut Umum (JPU). "Permintaan wanprestasi dan memohon membebaskan haruslah dinyatakan ditolak dan dikesampingkan karena terdakwa melakukan tindakan pidana. Terdakwa haruslah tetap dalam tahanan. Terdakwa dipidana dan membayar biaya perkara berdasarkan Pasal 378 dan Pasal 65 (1) KUHP. Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana penipuan dengan pidana penjara selama sepuluh bulan," kata Ketua Majelis Hakim. "Ada pun keputusan ini bisa dijadikan pelajaran, demi keadilan dan Tuhan YME," tekan Yonisman disambut anggukan kepala Adjie.  

Dalam sidang itu, Yonisman memaparkan kronologi peminjaman uang oleh Adjie, yang memiliki nilai proyek Rp 730 juta dengan PT Apac Inti Corpora (AIC). "AIC dalam mengerjakan proyek senila Rp 730 juta meminta DP (down payment) 20 persen yang kemudian dibayarkan oleh saksi Yusuf Wachyudi. Buntomi (pemilik PT APAC Inti Corpora atau AIC) mengatakan bahwa uang muka Rp 220 juta ditalangi terlebih dulu oleh saksi Yusuf Wachyudi," terang Yonisman.

Disebutkan oleh Yonisman, benar terdakwa Adjie memijam uang kepada Yusuf sebesar Rp 220 juta berdasarkan keterangan saksi Yusuf Wachyudi, yang dibenarkan oleh keterangan saksi lain. Disebutkan pula oleh Yonisman, Adjie tergerak untuk membayar kembali uang sebsar Rp 220 juta itu kepada Yusuf, meskipun  pinjaman tersebut terjadi atas inisiasi Yusuf.

Yonisman juga memaparkan kronologi pengembalian utang oleh Adjie. "Bilyet giro sendiri sebaganyak dua kali, Rp 100 juta dan Rp 120 juta, tidak bisa dicairkan. Terdakwa bilang kemudian kepada Yusuf, akan membayarkannya secara kontan," ujar Yonisman.

Lanjut Yonisman, Adjie sudah membayar Rp 73 juta kepada Yusuf dan masih  belum membayar Rp 147 juta. Sementara itu, papar Yosnisman lagi, kepada AIC Adjie masih memiliki utang sebesar Rp 113 juta. "AIC telah menyelesaikan dan terdakwa sudah menerima pembayaran dari BRI. Terdakwa setelah itu membayarkan berupa gilyet giro yang tidak dapat dicairkan. Uang AIC yang belum dibayarkan oleh terdakwa senilai Rp 113 juta," ujar Yonisman lagi. "Terdakwa menyerahkan bilyet giro yang dananya tidak bisa dicairkan. Maka perbuatan pidana tersebut menurut majelis merupakan perbuatan tipu muslihat, sehingga pembelaan oleh penasihat hukum ditolak," jelas Yonisman.

Vonis penjara 10 bulan dijatuhkan juga setelah menimbang poin-poin pemberat dan peringan: terdakwa menyalahgunakan kepercayaan, berlaku sopan, mengembalikan uang, dan punya prestasi membanggakan.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Usai sidang, Adjie, yang didampingi oleh Boy dan mula-mula diam, akhirnya bersuara juga. "Keinginan saya sih sebenarnya bebas," ucapnya. "Perasaan saya biasa saja, karena memang saya sudah pasrah sedari awal. Tapi, kami dikasih kesempatan untuk berpikir," sambungnya.

Namun, Boy masih memertanyakan vonis terhadap kliennya tersebut. "Ini masalah keperdataan. Pertanyaan saya adalah, hubungan bisnis ini mengapa bisa menjadi masalah pidana? Saya akan pelajari salinannya dan Adjie masih diberikan kesempatan untuk berpikir," tutur Boy. Memang, baik pihak Adjie maupun JPU masih bisa mengajukan banding.

Seperti diberitakan sebelumnya, Adjie ditahan pada 24 Mei 2011 dengan dugaan penipuan Rp 360 juta dalam kegiatan bisnis pakaian jadinya. Pada 28 Mei 2011 Adjie melunasi utang Rp 100 juta kepada saksi pelapor, Dewi Agustina, sehingga Dewi mencabut laporannya. Adjie masih terganjal utang kira-kira Rp 260 juta dan mengharapkan kebebasan agar bisa segera membangun kembali usahanya  yang pailit dan membayar semua sisa utangnya dengan mengajukan argumentasi terlibat kasus perdata wanprestasi.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X