Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 24/10/2011, 17:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pada 20 Oktober 2011 dini hari, pemusik kawakan Yockie Suryo Prayogo, melalui wall akun pribadi Facebook-nya, membeberkan kepada publik konflik panjangnya dengan God Bless, band legendaris yang pernah dihuninya pada 1988-2003. Apakah yang menyebabkan Yockie tiba-tiba melancarkan aksinya itu? Silakan simak hasil wawancara yang dilakukan oleh Kompas.com terhadap Yockie di kediamannya di kawasan Serpong, Tangerang, Banten, 20 Oktober 2011 malam. Hasil wawancara itu kami publikasikan ke dalam beberapa bagian.

Mengapa tiba-tiba Anda membuka tabir konflik Anda dengan God Bless, termasuk kejadian tahun 2003 (menurut Yockie, ia sampai ditodong dengan senjata api genggam), yang selama ini menjadi rahasia God Bless?

Saya berbicara pascakejadian ya. Jadi, sebetulnya semenjak 2003 itu tentu saja bukan saya sendiri. Kami semua berusaha berpikir rasional ya. Kami kan bukan anak kecil lagi, bahkan sudah dewasa dan masuk ke usia tua ya. Jadi, tentu pertimbangannya tidak mau ribut-ribut.

Hanya saja, dunia terus bergerak, zaman bergerak. Kalau dulu, di zaman 1970-an, orang main musik dianggap hobi. Artinya, profesi musik hanya sambilan. Kami tidak mendapat legitimasi pengakuan bahwa itu suatu profesi yang cukup bisa menjadi sandaran. Karena itu, pada saat itu hukum dan aturan tidak ada sehingga banyak lagu saya yang tidak jelas di mana masternya. Proses itu yang melatarbelakangi saya di zaman yang mulai berubah dan membuat saya ingin melakukan pembenahan mengenai apa saja yang saya lakukan sepanjang hidup, yang dulu tidak terfasilitasi oleh undang-undang dan peraturan, oleh hukum dan mekanisme, banyak hal.

Bukan kasus ini saja, banyak pula lagu saya di Musica Studios yang saat saya rekaman ingin saya benahi semua. Banyak pula yang di luar studio, lagu-lagu saya ingin saya benahi semua. Dengan Dian Pramana Putera dan penyanyi lain yang enggak jelas juga ingin saya benahi semua.

Selama proses itu berjalan, khususnya lagu-lagu saya di God Bless itu, saya mencoba menempuh jalan yang agak berbeda. Okelah, saya tempuh cara-cara yang lebih bijaksana, persuasiflah, dengan harapan akan ada suatu komunikasi yang terjalin hingga akhirnya bisa disesuaikan baik-baik. Itu intinya.

Kejadian pertama setelah peristiwa itu (kejadian 2003), mereka (God Bless) main di sebuah acara di (panggung majalah) Rolling Stone (di Jakarta), ada acara pemberian anugerah. Mereka main di depan saya, juga tanpa ada suatu pernyataan bahwa apalah atau ada upaya menjalin komunikasi untuk lebih baik. Bahkan, saya yang harus menghampiri mereka dengan upaya marilah kita berkomunikasi dengan baik-baik agar usaha saya menginventarisasi lagu-lagu saya bisa dilakukan baik-baik.

Lagu saya kan banyak, saya tidak menyebutkan lagu A atau lagu B. Itu yang pengin saya benahi di God Bless. Lagu itu bukannya enggak jelas, semua jelas di God Bless, pencipta siapa, lirikus siapa, itu jelas. Hanya, semua hukum belum tertata zaman dulu, tetapi sekarang sudah tertata dengan baik.

Lalu bagaimana respons God Bless menanggapi usaha Anda itu?

Upaya persuasif secara pertemanan dan persaudaraan itu sudah saya lakukan, tetapi juga tidak mendapatkan respons dengan baik. Bahkan, di salah satu media pernah saya baca, Yockie keluar dari God Bless, itu jawabannya (God Bless) selalu menyakitkan hati saya. Antara lain, kalau boleh saya katakan, 'Ya, sudah enggak butuh Yockie saja' atau ada juga yang mengatakan, 'Sama Yockie sudah enggak cocok, Yockie warnanya berubah, bukan warna God Bless lagi.' Buat saya ini menyakiti hati saya karena bukan itu permasalahannya. Namun, saya diam saja. Saya tidak menuntut karena saya juga enggak mau ribut-ribut. Sampai beberapa kali saya singgung ke teman-teman, tetapi enggak ada tanggapan juga.

Sampai pada akhirnya mereka main di acara legenda kemarin (Let's Have Fun with the Legends di Jakarta, 16 Oktober 2011), istri saya mengatakan, 'Mereka itu gimana sih, kok enggak minta izin juga?' Dari situ akhirnya saya tulis di Facebook saya, 'Gimana sih orang-orang itu'. Padahal, ini sudah delapan tahun (dari 2003). Saya selalu mengajak mereka bicara baik-baik. Saya undang mereka ke acara konser saya, dengan harapan ketika mereka datang, kami bisa berbicara baik-baik. Tapi, mereka juga tidak datang. Yang datang hanya Donny Fattah Gagola.

Donny pun juga tidak bisa bilang apa-apa. Ia hanya bilang, 'Yock, sebenarnya banyak yang bisa kita obrolin, tapi gue enggak ngerti harus ngomong apa.' Jadi, Donny memang tahu banyak yang harus diobrolin, tetapi dia tidak bisa memutuskan apa-apa karena kan (God Bless) kolektif.

Saya sempat menanyakan ke Donny, 'Mana Iyek (Achmad Albar)?' Donny bilang, 'Iyek macannya lagi sakit. Dia kan melihara macan.' Terus, saya tanya lagi, 'Ian ke mana?' 'Ian lagi rekaman,' jawab Donny. Ya sudah, saya iya-iyain saja, meski saya kecewa. Sama sekali saya tidak menanggapi kalimat arbitratif yang menyakiti saya.

Apakah Anda merasa God Bless kurang memahami masalah undang-undang hak cipta?

Selalu saja ada obrolan yang saya dengar, 'Lho lagu itu kan di grup. Kalau lagu sudah di grup, ya milik sama-sama dong!' Nah, dari situ saya merasa ada missleading, ada yang salah mengerti mengenai aturan main, ada yang kurang mengerti masalah hukum.

Halaman:
Baca tentang
    Video rekomendasi
    Video lainnya


    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    komentar di artikel lainnya
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com