Ada Warna Baru di "The Amazing Spider-Man"

Kompas.com - 06/07/2012, 16:43 WIB
EditorEko Hendrawan Sofyan

JAKARTA, KOMPAS.com - Penantian para penggemar fans Spider-Man akhirnya terbayarkan sudah, menyusul dirilisnya film The Amazing Spider-Man awal pekan ini. Peter Parker yang kini diperankan aktor Andrew Garfield, memberi sajian tontonan yang agak berbeda dari yang sudah ada.

Di tangan sutradara Marc Webb, The Amazing Spider-Man, terasa punya warna lain. Ada kisah yang baru dihadirkan dan belum diungkap pada film Spider-Man terdahulunya.   

Perjalanan dimulai saat Peter menjalani masa kecilnya. Sebuah peristiwa mendebarkan dialami Richard Parker, ayah Peter. Ruang kerjanya dibobol orang. Seluruh dokumen diacak-acak tak karuan. Khawatir bakal menyeret keselamatan anaknya, Richard dan istrinya memilih menitipkan kepada Paman Ben (Martin Sheen) dan Bibi May (Sally Field). Singkat cerita, orangtua Peter tewas karena kecelakaan pesawat.  

Peter beranjak dewasa. Ia berubah menjadi cowok ganteng juga cool. Tapi dia bukan pria yang disukai perempuan kebanyakan.  Satu-satunya perempuan yang mencuri perhatiannya adalah bintang sekolah Midtown Science High School, Gwen Stacy (Emma Stone).

Tak cuma tertarik kepada Stacy, Peter juga mulai tergelitik mengungkap proyek yang disembunyikan oleh orangtuanya. Berbekal tas yang berisi data-data rahasia milik ayahnya, menuntunnya  bertemu dengan Dr. Curt Connors (Rhys Ifans), teman ayahnya.

Sebuah kecelakaan kecil terjadi pada Peter. Seekor laba-laba langka hasil penelitian ayahnya mengigit bagian tubuhnya.  Berselang kemudian, racunnya bereaksi dengan darahnya. Ada yang aneh pada tubuh Parker. Dari sini, kehidupannya pun mulai berubah total.  

Banyak yang mengira film berdurasi 136 menit ini merupakan kelanjutan dari Spider-Man 3. Padahal The Amazing Spider-Man mengupas awal muasal kehidupan si superhero muda itu.  

Di tangan Marc Webb, The Amazing Spider-Man memang lebih banyak mengisahkan drama percintaan antara Peter dan Gwen juga kehidupan keluarganya. Sayangnya, beberapa detail kecil seperti mengapa ia dijuluki 'Spider-Man' atau pertarungan dahsyat dengan The Lizard, musuh barunya, sedikit berkurang porsinya.

Tapi Marc Webb cukup mampu membuat Spider-Man kali ini 'lebih manusia'. Ia menggambarkan dengan detail bagaimana Peter membuat kostum Spider-Man, dan menebar bumbu komedi di sana-sini. Andrew sebagai Peter juga tak terlalu kaku, ekspresi kekanak-kanakan khas Peter digambarkan dengan baik dalam beberapa adegan olehnya.

Tak lupa juga Emma Stone yang berperan sangat ciamik dalam film ini. Rambut blonde-nya sangat mirip dengan Gwen di dalam komik, begitu pula dengan gaya berbusananya. Banyak perubahan pula yang terjadi dalam The Amazing Spider-Man bila dibandingkan dengan film terdahulunya. Peter tidak dibuat terlalu 'kuno'. Dia digambarkan selalu membawa skateboard ke mana-mana dan sudah mengenal kontak lens. Ini jelas  berbeda dengan film terdahulunya. Perubahan lainnya terletak pada perubahan transformasi dari Peter menjadi Spider-Man. Tak ada perubahan fisik yang signifikan, hanya kemampuan ototnya yang digambarkan berlipat kali lebih kuat.

Adegan dramatis Spiderman menyelamatkan warga juga jarang terlihat. 'Rasa haus' akan Spider-Man masih terasa setelah menyaksikan The Amazing Spider-Man yang seolah hanya bisa menghilangkan dahaga untuk sementara waktu saja. 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X