Akhir Pergulatan "Si Wanita Besi"

Kompas.com - 08/04/2013, 21:20 WIB
EditorTri Wahono

OLEH MYRNA RATNA

Perjalanan hidup Margaret Thatcher diperankan dengan memesona oleh Meryl Streep. Sebuah siklus hidup yang hampir mencapai ujungnya. Sebagai politisi muda, perdana menteri yang garang, dan perempuan renta....

Sosok wanita tua itu melangkah terseok di jalanan Inggris. Masuk ke dalam toko, membeli sekantong mentega. Gerakannya yang lambat membuat petugas kasir tak sabar. Ketika kembali ke apartemennya, ia berkata kepada sang suami, "Harga mentega semakin mahal saja...."

Ini adalah pembuka yang sangat menyentuh dari film The Iron Lady. Maknanya demikian dalam karena langsung mengungkap banyak hal. Tentang sosok yang sederhana. Tentang pemimpin yang ingin tahu apa yang dihadapi rakyatnya (harga mentega yang selalu naik). Dan tentu saja tentang kesepian seorang perempuan tua.

Cara penuturan yang kilas balik, Thatcher di waktu muda (diperankan oleh Alexandra Roach) dan Thatcher di masa jaya dan tuanya (diperankan dengan memukau oleh Meryl Streep), menegaskan kekuatan karakter Perdana Menteri Inggris yang memiliki karier terpanjang itu (11 tahun, 1979-1990)

Thatcher muda digambarkan sebagai pekerja keras dan ambisius. Sedari awal, Thatcher memiliki mimpi-mimpi yang berbeda dengan perempuan sebayanya. Ia memandang dirinya setara dengan laki-laki dan tak jengah dianggap ”aneh” oleh lingkungannya. Sebab, seperti juga yang selalu ditanamkan sang ayah, ia yakin memiliki "jalan hidupnya sendiri".

Sebagai anak pedagang kelontong dari Grantham, Thatcher merasakan betul gejolak yang terjadi di tataran akar rumput, termasuk bagaimana pergeseran harga bahan pokok bisa berdampak signifikan terhadap ekonomi sebuah keluarga. Inspirasi tentang perubahan lewat jalur politik ia peroleh dari kebiasaannya menonton pidato ayahnya, seorang tokoh politik lokal.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lulus dari Oxford, ia mencalonkan diri menjadi anggota parlemen dari Dartford, namun kalah. Meski demikian, pencalonannya menarik perhatian media, bukan saja karena ia satu-satunya kandidat perempuan, melainkan juga kandidat termuda.

Di sinilah ia menerima nasihat dari calon suaminya, Denis Thatcher, tentang strategi pencitraan. Wanita yang tak menikah dan berambisi politik tak akan mudah diterima masyarakat yang masih memiliki pandangan kolot, demikian bujukan Denis untuk mengajaknya menikah. Thatcher menerima lamaran itu, namun dengan syarat, ia tidak mau hanya menjadi ibu rumah tangga. Ia ingin berkarier secara penuh.

Seluruh "modal" ini mengantarnya menjadi anggota parlemen dari Finchley pada tahun 1959. Dan karier politik Thatcher pun melesat. Ia menjadi Menteri Pendidikan dan Sains, kemudian menjadi pemimpin Partai Konservatif, dan akhirnya perdana menteri perempuan pertama di Inggris.

Halaman:
Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.