Pacific Rim: Besar Itu Menghibur

Kompas.com - 14/07/2013, 13:39 WIB
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Besar itu menghibur. Superbesar alias extra large tentu saja diharapkan akan lebih menghibur. Begitulah kira-kira rumus yang digunakan sutradara Guillermo del Toro dalam film Pacific Rim.

Dalam film ini ditampilkan monster dengan ukuran setinggi gedung 12 lantai yang disebut Kaiju (dari bahasa Jepang yang artinya binatang raksasa). Sang Kaiju tidak hanya satu, tapi banyak.

Esa hilang dua terbilang, dan mengamuk pula mengobrak-abrik dunia. Sekali kibas, gedung pencakar langit hancur berantakan. Sekali injak, jembatan Golden Gate remuk. Kapal induk pun hanya dibuat mainan untuk dilempar-lemparkan.

Itu sensasi pertama yang dijadikan amunisi hiburan Pacific Rim. Sensasi kedua adalah bagaimana cara melawan monster raksasa yang mengamuk tanpa alasan itu.

Lalu dihadirkanlah Jaeger (dari bahasa Jerman artinya pemburu). Ia berupa robot raksasa yang dikendalikan dua manusia di dalam sosok serba logam. Sensasi selanjutnya adalah adu kekuatan, smack down ala raksasa dan robot bermuatan nuklir itu.

Kingkong, Godzilla, dan robot
Pacific Rim menyodorkan hiburan dengan sensasi ukuran yang serba ekstra. Ini sudah menjadi rumus hiburan dari masa ke masa.

Dongeng layar lebar pernah kedatangan King Kong tahun 1933. Makhluk semacam gorila raksasa itu bisa nongkrong di puncak Empire State Building, gedung tertinggi di dunia saat itu. King Kong terbukti laku, dan sejak itu bemunculan barisan film kingkong, termasuk King Kong versi Universal tahun 2005.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jepang juga menghadirkan superkadal bernama Godzilla tahun 1954. Dan terbukti ampuh karena nyatanya Godzilla akan disodorkan kembali oleh Warner Bros tahun 2014.

Pacific Rim juga mengingatkan pada genre film robot atau tokoh bersosok serba besi seperti antara lain Real Steel dan Transformers. Pacific Rim mengingatkan pada film Godzilla dan Iron Man.

Industri hiburan Hollywood bisa menghidupkan sosok-sosok superraksasa itu dengan bantuan efek visual dari ahlinya, yaitu Industrial Light & Magic (ILM) yang didirikan George Lucas. Film-film seperti Star Wars, Iron Man, dan Transformers menggunakan jasa ILM dalam menghidupkan sosok dan adegan di jagat dongeng.

Dengan bantuan ILM, monster Kaiju dalam Pacific Rim memang terasa meneror, mengancam. Pertempuran antara monster dan raksasa tervisualkan secara spektakuler.

Untuk memberikan kesan human, film ini mencoba menghadirkan unsur dramatik manusia-manusia di belakang monster dan robot yang serba raksasa itu. Sepintas digambarkan kisah-kisah getir pilot-pilot yang mengendalikan robot. Namun, kisah sedih dan air mata mereka seperti tidak berarti. Kisah mereka hanya menjadi pemanis. Terlalu kecil untuk dilabrak oleh langkah-langkah monster yang memang dijual sebagai hiburan mata bersensasi ukuran serba besar, serba dahsyat, dan serba hancur. (XAR)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.