The Dance Company: Genre Kami "Bahagia Bersama"

Kompas.com - 01/10/2013, 13:11 WIB
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Apa jadinya bila empat musisi yang sudah lama malang melintang di dunia musik bersatu dalam satu panggung? Seru, santai, penuh tawa, dan kreatif. Itulah sedikit gambaran The Dance Company.

Tahun 2007, berawal dari keprihatinan pada keadaan musik Indonesia, empat musisi, Nugie, Ariyo Wahab, Ibrahim Imran (Baim), dan Pongki Barata, membentuk band The Dance Company (TDC). Supaya lebih akrab dalam bekerja satu grup, mereka sepakat menggunakan nama panggilan semasa kecil. Nugie yang dipanggil Embot memegang drum, Ariyo (Riyo) dipercaya sebagai vokalis, Pongki (Wega) menjadi pemain bas, dan Baim (Bebe) memegang gitar. Padahal, mereka berempat terbiasa menjadi vokalis, tapi di TDC harus have fun.

Gebrakan pertama TDC adalah single "Papa Rock n Roll" yang kemudian menjadi bagian dari album The Dance Company (2009). Lagu beraliran rock n roll itu membuat masyarakat menilai TDC sebagai band beraliran rock. Padahal, mereka sepakat tak ingin terjebak dalam satu aliran musik. Dengan pengalaman di dunia musik, pasti semua personel punya gaya masing-masing, tetapi di TDC mereka selalu kompak.

Selanjutnya, TDC mengeluarkan album Anak Indonesia (2010) dan Happy Together (2012). Album kedua yang berisi lagu anak-anak muncul karena mereka sering berkumpul bersama dengan mengajak keluarga masing-masing. Anak-anak mereka pun ikut menyanyi dan bermain musik. Sayangnya, mereka tak memiliki lagu anak-anak. Untuk itulah muncul ide membuat lagu untuk anak-anak Indonesia.

Bagaimana tanggapan The Dance Company ketika anak-anak menyanyikan lagu yang tidak pantas untuk mereka (lagu tentang cinta)? (Josua Martua Sitorus, Bandung)

Pongki (P): Ini konsekuensi dari zaman, apalagi kalau kontrol orangtua sudah semakin lemah terhadap anak. Semua pihak "bertanggung jawab" merawat anak-anak Indonesia, baik orangtua, lingkungan, apalagi pemerintah. Hal ini terjadi karena belum seimbang antara pengadaan lagu anak dan lagu orang dewasa.

Nugie (N): Mengajak semua institusi untuk lebih aktif lagi memberi akses lagu anak-anak untuk dipublikasikan ke media massa. Terlepas dari "alasan tidak ada segmen" dari media massa, kami akan tetap aktif secara grup atau personal terus mengajak dan berkarya buat anak-anak, terutama dalam lagu-lagunya

Baim (B): Orangtua sebenarnya memegang peranan penting dalam memfilter apa yang diserap anak-anaknya. Namun, memang seyogianya lagu sesuai dengan umur anak semestinya. itu sebabnya kami membuat album TDC for Kids. Itu album untuk anak-anak

Ariyo (A): Semua orangtua pasti tahu mana yang terbaik untuk anak-anaknya. Pihak lain membantu untuk memberi vitamin yang bermanfaat dan dosis yang pas buat anak-anak Indonesia. TDC for Kids pun akan terus lanjut! Doakan ya.

Dari mana ide lagu "Papa Rock n Roll" yang sangat membumi itu? Bagaimana membagi waktu antara musik dan keluarga sebagai papa yang sibuk dan berjiwa entertainer? (Reginald Izaac, Tangerang)

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X