Rieka Roslan: Karya Saya adalah Idealisme Saya

Kompas.com - 29/10/2013, 12:45 WIB
EditorAti Kamil

Kita sering bernyanyi dalam bahasa Brasil, Spanyol, Meksiko, Inggris, Korea, Mandarin, meski kadang kita tidak bisa berbahasa tersebut. Mereka itu berasal dari bangsa-bangsa yang percaya diri dan bangga akan negaranya. Musik mereka pun mendunia. Jadi menurut saya, kita bisa kok memakai bahasa Indonesia, bunyian dan nada tradisional untuk menembus pasar mana pun. Sebaiknya kita mempelajari harmoni modern dan harmoni tradisional agar kita punya jati diri dan punya yang dibanggakan.
—————————————————————————
Bagaimana Anda mengelola keluarga Anda agar tetap harmonis di balik kesuksesan Anda? (Dharta M Nur, xxx@yahoo.co.id)

Kami berdiskusi tentang rencana-rencana yang akan dibuat, mimpi-mimpi saya ke depan, sehingga ke keluarga mengerti dan mendukung. Sepanjang semua positif dan tetap menjaga waktu untuk keluarga, rasanya semua bisa selaras. Mengajak keluarga ikut melihat kegiatan kita, berkenalan dengan komunitas kita sehingga mereka menjadi bagian juga dalam pekerjaan ini. Diskusi dan komunikasi yang terpenting.
—————————————————————————
Kenapa album Rendezvous digambarkan sebagai perwujudan idealisme dari seorang Rieka Roslan? (Risna Rahmawati, Jakarta Pusat)

Semua karya saya adalah idealisme saya. Album The Groove, Mata Ketiga, bercerita tentang alam. Rieka juga bercerita tentang apa itu arti cinta, Triangle of Life, di mana saya bicara sebagai perempuan, sedangkan Rendezvous adalah pertemuan saya dengan beberapa sahabat satu visi dalam bermusik dan berkehidupan.

Album ini penuh perjuangan dan penuh cerita tentang perjalanan hidup seorang penulis perempuan yang terus mencoba berdiri di musiknya.
—————————————————————————
Saya pencinta The Groove sejak manggung dari cafe to cafe di Bandung dan mengoleksi albumnya. Kapan The Groove mengeluarkan lagi album baru? (Hanna Della, Bandung)

Tahun depan The Groove berumur 17 tahun. Rasanya album ini akan kami keluarkan sebagai bentuk ucapan syukur kami dan terima kasih kami kepada Tuhan yang memberikan kami talenta dan untuk para penggemar kami. Doakan ya Mbak....
—————————————————————————
Apa saja yang menjadi hambatan terbesar Anda dalam menggeluti dunia musik? (Fahrudin, Pangkal Pinang, Bangka Belitung)

Hambatan terbesar ada di saat saya diminta mengikuti selera pasar dalam proses kreatif, dan sarana promosi masih di media di Indonesia yang masih belum berani mengizinkan musik-musik idealis masuk di acara yang komersial. Jadi kita seperti bayangan, semua ada tetapi tidak terlihat dan terdengar.
—————————————————————————
Sebagai musisi, bagaimana pandangan Anda terhadap kualitas dari musik saat ini? (Muhammad Yusuf el-Badri, Ciputat)

Saya senang karena banyak festival musik jazz di mana-mana, di seluruh Indonesia. Hal itu membuat kita bergairah membuat karya. Namun, juga sedih karena maraknya lirik, tontonan, cara berpakaian, yang tidak diperhitungkan siapa dan usia berapa yang menonton. Bingung saja kenapa acara begini mendapat rating tinggi. Jadi mungkin kita sudah mengerti lebih baik mematikan tontonan seperti itu. Berkarya adalah hak setiap orang, tetapi tanggung jawab moral pun harus kita pertanggungjawabkan untuk anak-anak kita.
—————————————————————————
Apa saja yang dapat menjadi inspirasi Mbak Rieka dalam menciptakan lagu? Apakah Mbak pernah berkeinginan untuk menciptakan lagu-lagu bertemakan nasionalisme Indonesia? (Tika Puspyta, Bandung)

Inspirasi saya selalu datang di mana saja dan kapan saja. Oleh karena itu, saya sangat suka traveling karena itulah sumber inspirasi. Bicara dengan murid-murid saya sehingga kita tahu apa yang terjadi sekarang. Saya juga bicara dengan kakak-akak saya agar saya tahu apa yang kita lakukan untuk kehidupan ini.
—————————————————————————
Teteh, untuk lagu-lagunya sering dapet inspirasinya dari mana? Soalnya lagu-lagu yang dibuat bener-bener enak buat di-denger. Bisnis butik masih jalan, Teh? Semoga sukses, ya, buat Teteh sama teman-teman di The Groove. (Hendro Pratomo, xxxx@cbn.net.id)

Hai Hendro yang selalu request lagu yang sama setiap nonton, tahun 96-an yaa saat nonton aku di cafe. Senang Hendro masih ingat aku. Dari keseharian saja aku dapat inspirasi, aku jujur saja kalau nulis lagu, enggak pernah terpatok harus nulis hits. Jadi ya mengalir saja supaya enak dirasakan.

Butik masih jalan dengan nama Ka-In (kain Indonesia). Insya Allah semua jalan terus, doakan yaaa....
—————————————————————————
Bagaimana Mbak Rieka merintis karier hingga menjadi musisi seperti saat ini? Bagaimana tanggapan Mbak Rieka mengenai anggapan artis karbitan pada proses pencarian bakat? (Pius Apri Hantoro, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta)

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.