Ibu: Untung atau Tetap Jadi Korban?

Kompas.com - 01/11/2013, 20:24 WIB
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Dalam durasi kurang lebih 200 menit, Ibu, pertunjukan teater yang naskahnya diadaptasi dari karya Bertolt Brecht berjudul Mother Courage, padat dengan dialog yang panjang, sarat makna, dan penuh sindiran.

Pementasan teater ke-13 ini, yang digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 1-17 November 2013, disutradarai oleh Nano Riantiarno. Ia pula yang menulis naskah adaptasinya.

Barisan pemerannya didukung oleh para pemain baru dan didukung oleh sejumlah aktor dan aktris senior di bidang teater, seperti Sari Madjid, Rita Matu Mona, dan Budi Ros. Sementara itu, musiknya digarap oleh Ferro Steffanus dan tata kostumnya ditangani oleh perancang fashion Samuel Wattimena.

Tidak berubah dari kiprah mereka sejak berdiri pada 1977, Teater Koma konsisten menggelar karya yang ceritanya dekat dengan isu sehari-hari masyarakat, dikemas komunikatif, dan tentu saja didukung oleh pesona akting setiap pemainnya.

Ibu berlatar perang yang berkecamuk di sebuah benua. Negara berbendera Matahari Hitam melawan negara lain yang berbendera Matahari Putih. Semua orang, tanpa terkecuali, menjadi korban.

Ibu Brani, yang diperankan oleh Sari Madjid, menolak menjadi korban. Ia justru mencium peluang bisnis. Bersama dua putra dan seorang putri bungsunya yang bisu, mereka melintasi medan perang, menarik gerobak penuh barang dagangan.

Tidak peduli resimen Matahari Hitam atau Matahari Putih, semua boleh membeli barang dagangan Ibu Brani. Syaratnya? Bayar dengan uang. Ibu Brani bertekad meraup untung dari perang.

Menyaksikan pertunjukan ini, para penonton harus siap dengan sajian dialog panjang antarpemain. Tata panggung dan tata cahayanga pun tidak menawarkan pesona yang memanjakan mata. Properti seperti gerobak, posko militer, dan rumah kediaman, hadir lebih untuk menjelaskan identitas tokoh dan tempat dalam ceritanya.

Untungnya, para pemainnya berakting dengan baik, sehingga dialog yang panjang serta bersahut-sahutan bisa tersaji dengan baik. Hal itu tentu bisa tercapai karena  penguasaan yang baik atas teknik-teknik teater, dari memainkan ruang panggung, olah vokal, menjiwai karakter, hingga menjaga irama antarpemain. Duo Sari Madjid dan Rita Matu Mona kelihatan sangat mewarnai suguhan ini.

Membaca kembali sejarah perjalanan Teater Koma, beberapa pihak menyebut bahwa kekuatan dari teater itu terletak pada akting para pemainnya, penyuguhan isu sehari-hari dan aktual yang ada pada masyarakat, penyajian kritik sosial, dan bumbu komedi yang segar. Namun, ihwal menyuguhkan kritik sosial bisa menjadi tidak terlalu berarti lagi sekarang, karena sudah banyak pihak lain yang juga berani melakukan hal yang sama.

Soal bumbu komedi yang segar, Ibu tak mengandalkannya. Ibu mengandung banyak ironi--Ibu Brani mengambil keuntungan dari perang dengan berjualan dan sesekali meramal masa depan, sekaligus harus pontang-panting menopang hidup anak-anaknya serta menyelamatkan mereka dari bahaya perang dan korupsi.

Sebagai sebuah tontonan, Ibu menjadi cermin untuk kita. Siapa kita? Adakah kita ibu yang mengambil kesempatan di antara kesempitan? Atau, kita adalah putra-putranya yang terbuai orasi mengenai pentingnya perang namun nasib mereka harus tragis? (Iwan Seti)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X