Ada Layar Tancap di JiFFest 2013

Kompas.com - 09/11/2013, 14:40 WIB
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Setelah dua tahun tak diselenggarakan, Jakarta International Film Festival (JiFFest) kembali digelar dengan menampilkan sesuatu yang baru. Jika selama ini JiFFest terkesan sebagai sebuah festival film yang eksklusif dengan para penonton dari golongan-golongan ekonomi A dan B, tahun ini JiFFest bisa dibilang lebih membumi. Selain memutar film-film di gedung-gedung bioskop berpenyejuk ruangan, JiFFest 2013 juga memutar film-film itu di atap terbuka yakni di kompleks Monumen Nasional (Monas).

Untuk open air cinema atau layar tancap, penyelenggara JiFFest 2013 memilih waktu pemutaran 29 dan 30 November 2013. Dua film yang akan diputar pada 29 November 2013 adalah Metro Manila (berdurasi 115 menit) dan satu judul lagi yang masih dirahasiakan. Dua film lainnya, yang diputar pada 30 November, adalah National Security (110 menit) dan Ruroni Kenshin (134 menit).

"Dari segi konten, JiFFest 2013 tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Hanya, kami ingin ada faktor yang baru dan itu adalah open air cinema. Tempat menjadi penting dan dipilihlah Monas. Kami ingin mengajak penggemar JiFFest 2013 dan warga Jakarta untuk menikmati film di ruang terbuka. Semoga saja tidak hujan," terang Direktur JiFFest, Shanty Harmayn, dalam jumpa pers JiFFest 2013 di Lotte Shopping Avenue Jakarta, Jumat (8/11/2013).

Aoura Lovenson Chandra, yang juga Direktur JiFFest 2013 menambahkan, JiFFest mewadahi semua lapisan masyarakat pecinta film. Maka itu, ada pilihan menonton layar tancap.

"Masyarakat Jakarta kan berbeda-beda (bahkan di kelas yang sama). Ada yang suka ber-AC, ada yang enggak. Ada yang suka mobil, ada yang suka sepeda. Kami ingin kasih kesempatan kepada orang yang suka berada di ruang terbuka dengan program open air cinema ini," terang Aoura.

"Saya senang banget festival ini hidup lagi. Kalau perlu, setahun ada dua atau tiga festival film, sehingga ada kesempatan untuk ruang berbagi dan berkumpul, baik aktor, sutradara, produser, dan masyarakat pecinta film," kata Joe, yang didaulat menjadi Duta JiFFest.

Program lain
Selain layar tancap, dalam JiFFest 2013 akan ada program-program lain berupa Pop Up Festival, Retrospektif, dan World Cinema. Pop Up Festival merupakan pertemuan para pembuat film Indonesia. "Akan ada sharing pengalaman antar sesama film makers, dan ini didukung oleh sembilan asosiasi perfilman yang ada. Ada dua film di program ini, yakni The Raid 2 dan Killers, dan terbatas untuk undangan," sambung Aoura.

Untuk program Retrospektif, JiFFest 2013 akan mengundang sutradara dan penulis skenario dari Korea Selatan (Korsel), Boon Jung Ho. Film karya Boon, yang dirilis pada 1 Agustus 2013 di Korsel, Snowpiercer, akan disuguhkan dalam JiFFest 2013, yang berarti untuk kali pertama diputar di Asia selain di Korsel sendiri. Sayang, pemutaran Snowpierser terbatas hanya untuk mereka yang diundang.

Meski demikian, para pecinta film yang lain bisa menonton karya-karya lain Boon. Barking Dogs Never Bite dan Memories of Murder akan diputar pada Sabtu, 16 November, sedangkan The Host dan Mother pada Minggu, 17 November. Semuanya diputar di Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Tiketnya, Rp 35.000 per lembar, bisa dibeli di Blitz Megaplex mulai 8 November.

Sementara itu, program World Cinema menyajikan lima film, tiga dari Hollywood dan dua dari Asia. Lima film itu diputar di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan. Pemutaran lima film itu berlangsung satu hari saja, 23 November, mulai pukul 11.00 WIB. Film pertama, The Perks of Being a Wallflower; lalu The Bling Ring dan Ilo Ilo; setelahnya, 12 Years a Slave dan A Touch of Sin.

"Untuk pemutaran lima film ini, (jumlah penonton) terbatas ya, sesuai dengan kursi, yakni 300 seat. Jadi, yang mau menonton, silakan datang lebih pagi supaya enggak kehabisan tiket," kata Shanty.

Ketua Bagian Film dan Program JiFFest, Varadila, menambahkan, dalam Pop Up Festival, yang digelar pada 15-17 November 2013 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia lantai delapan, JiFFest 2013 memberikan pilihan lebih luas.

"Kami mencoba memberi ruang pada film-film Indonesia yang tidak bisa diputar secara komersial tapi bagus. Ada yang sudah diputar di luar, tapi belum di Indonesia," katanya. (IVV)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X