99 Cahaya di Langit Eropa: Di Balik Gemerlap Eropa

Kompas.com - 08/12/2013, 15:59 WIB
Artis peran dan penyanyi Acha Septriasa hadir pada acara press screening film 99 Cahaya di Langit Eropa di Blitz Megaplex, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (29/11/2013). Film yang menceritakan perjalanan mencari 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua Eropa tersebut akan diputar secara serentak di semua gedung bioskop di Indonesia pada 5 Desember 2013. 
 TRIBUN JAKARTA/JEPRIMAArtis peran dan penyanyi Acha Septriasa hadir pada acara press screening film 99 Cahaya di Langit Eropa di Blitz Megaplex, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (29/11/2013). Film yang menceritakan perjalanan mencari 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua Eropa tersebut akan diputar secara serentak di semua gedung bioskop di Indonesia pada 5 Desember 2013.
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Nilai-nilai persahabatan, sejarah, pendidikan di negara lain, hingga persoalan toleransi hidup, kecurigaan sosial, disampaikan dalam film bernuansa religi 99 Cahaya di Langit Eropa karya sutradara Guntur Soeharjanto.

Cerita bermula ketika Hanum Salsabiela (Acha Septriasa) mengikuti suaminya, Rangga Almahendra (Abimana Aryasatya), yang menjalani studi S-3 di Vienna, ibu kota Austria. Pada awalnya, Hanum menikmati hari-harinya berkeliling kota. Hingga pada suatu saat, dia bertemu dengan Fatma Pasha (Raline Shah), perempuan asal Turki yang tinggal di Vienna. Fatma kemudian menunjukkan kepada Hanum jejak-jejak Islam yang ada di Vienna.

Dalam film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Hanum Salsabiela ini, Fatma digambarkan sebagai seorang perempuan Muslim yang sabar dan pasrah. Dia memiliki seorang anak bernama Aisye (Gecca Tavvara) yang kritis. Hari-hari Hanum pun berubah menjadi penjelajahan. Fatma mengajaknya ke beberapa tempat seperti museum sejarah Vienna, di mana ditunjukkan bagaimana Kara Mustafa Pasha dari Turki memimpin serangan ke Vienna pada tahun 1683.

Bagaimana seorang Muslim tinggal di Eropa juga digambarkan dalam film ini. Rangga misalnya, harus memutuskan pilihan sulit ketika dihadapkan pada waktu ujian yang bertepatan dengan waktu shalat Jumat.

Dramatika film ini dibangun dengan kisah hidup Aisye yang menderita kanker. Hanum mengetahuinya secara tidak sengaja. Itu pula yang menjadi salah satu alasan mengapa Aisye tak mau melepas hijabnya meski diminta oleh pihak sekolah karena ia kerap diolok-olok. Kepala Aisye yang botak karena kemoterapi yang dijalaninya, menjawab sikapnya selama ini yang senantiasa penuh syukur dan bersemangat dalam menjalani hidup.

Film yang diproduksi Maxima Pictures ini juga cukup mengejutkan, mengingat sebelumnya Maxima lebih banyak memproduksi film-film berbau seks dan horor, seperti Tali Pocong Perawan, Sumpah Pocong di Sekolah, Suster Keramas, hingga Air Terjun Pengantin. Ody Mulya Hidayat dari Maxima mengungkapkan, film dibuat berdasarkan tren yang ada saat ini.

Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN, Olof Skoog, mengapresiasi film ini. Dia mengungkapkan, toleransi masih menjadi permasalahan di Eropa, seperti juga di negara lain. "Namun, kita jangan hanya fokus pada perbedaan saja, tetapi pada hal-hal yang bisa menyatukan," tuturnya. (UTI)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X