Drama Politik di Panggung Komedi

Kompas.com - 02/02/2014, 14:05 WIB
EditorAti Kamil

Sebagian materi Ernest masih seputar keberadaannya sebagai warga Indonesia yang pada suatu masa pernah merasa diperlakukan secara tidak adil. Tentang kultur Tionghoa yang dulu sangat jarang digali di pentas komedi. Elemen kultur Tionghoa dulu sampai awal era 2000-an hanya menjadi obyek lawakan. Kini jadi medium penyampai ungkapan.

Ia misalnya bicara tentang prinsip dagang China. Ia bercerita tentang rencana perannya sebagai pemandu acara pada acara kontes stand-up comedy di televisi. Ia menggantikan posisi host sebelumnya yang dipegang Panji Pragiwaksono.

"Gue sebenarnya bersedia jadi host karena honornya setengahnya Panji saja. Tapi episodenya banyakin aja. Ini prinsip dagang China klasik. Margin kecil gak papa, yang penting lakunya banyak..." katanya yang mengundang tawa riuh.

Masih dalam stereotip China sebagai kaum pedagang, Ernest menyebut orang Padang bersaudara dengan orang China. "Kita sama-sama ras pedagang. Saking kentalnya darah pedagang kita, kalau terjadi transaksi antara orang China dan orang Padang, itu akan terjadi pertempuran sengit. Kalau di bola itu big match."

Ia juga berandai-andai jika orang Tionghoa menjadi presiden. Foto-foto resmi presiden tidak lagi menggunakan jas-dasi, dan wajah formal, plus senyum tanggung. "Dia pakai cheongsam dengan gaya..." katanya.

Materi Ernest merupakan bagian dari cara untuk saling mengenal antar-elemen warga di negeri ini. Adapun Arie Kriting sebagai opener, mengulik materi tentang bagian timur Indonesia yang perlu dipahami karakter budayanya. Sambil ketawa-ketiwi, penonton bisa belajar untuk saling memahami, dan mengakui keberadaan sesama warga negara. Sebuah pemahaman yang menjadi dasar hidup orang di pentas demokrasi.

Bahkan terhadap anaknya pun, pemahaman semacam itu ditanamkan. Di panggung, Ernest mengajak anaknya, Sky Tierra Solana (3), dan sang istri, Meira Anastasia, yang mojang priangan itu. Lalu, terjadilah dialog antar-ayah (+) dan anak (-) sebagai berikut:

+ "Mama sipit nggak?"
- "Enggak."
+ "Kamu sipit nggak?"
- "Enggak."
+ "Papa sipit enggak?"
- "Ya...!"

Penonton terpingkal-pingkal pada cara si kecil yang telah belajar memahami orang di sekitarnya. Komedi memang bukan sekadar ajang berha-ha-ha. (XAR)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.