TVRI, Juara Masa Lalu

Kompas.com - 26/08/2014, 20:47 WIB
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Sejarah baru pertelevisian swasta di Tanah Air sudah seperempat abad. Namun, Televisi Republik Indonesia sebagai televisi pemerintah yang hadir pertama kali, 52 tahun yang lalu, masih tetap eksis. Kehadirannya menjadi saluran alternatif yang mewarnai pasang surut dunia penyiaran Indonesia.

Bagi anak-anak kelahiran tahun 1990-an, tayangan TVRI mungkin tidak terlihat akrab. Anak-anak yang tumbuh bersamaan dengan maraknya teknologi canggih dan internet ini mungkin lebih akrab dengan aneka film kartun dari Jepang, seperti Dora Emon, tontonan musik MTV, atau film Korea. Berbeda dengan anak-anak generasi sebelumnya yang akrab dengan film Unyil, melukis bersama Pak Tino Sidin, hiburan musik acara Aneka Ria Safari, atau menikmati berita dari program Dunia dalam Berita di TVRI.

Setiap zaman memiliki karakteristik tontonan masing-masing. TVRI, sejak 24 Agustus 1962, hadir pertama kali mengisi ruang keluarga dan ingatan masyarakat Indonesia dengan tayangan-tayangan program pemerintah. TVRI pada masanya, bahkan hingga kini, menjadi alat komunikasi pemerintah. Tayangan Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Ke-17 Republik Indonesia (1962) dari Istana Negara menjadi siaran perdananya, yang masih berwarna hitam putih.

Sampai usianya 27 tahun, TVRI menjadi satu-satunya stasiun televisi di Indonesia. Selanjutnya, kehadiran televisi swasta nasional pertama, Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), pada 24 Agustus 1989, menjadi awal kemunculan stasiun televisi swasta lainnya yang memberikan variasi dan diferensiasi sajian acara kepada pemirsa.

Setelah RCTI, satu per satu televisi swasta muncul dalam rentang yang berdekatan. Surya Citra Televisi (SCTV) mengudara pada tahun 1990, disusul Televisi Pendidikan Indonesia (TPI, 1991), yang kini berganti nama menjadi MNC TV, kemudian Metro TV (2000), dan seterusnya.

Dalam usianya kini yang ke-52, sudah banyak peristiwa dan perjalanan bangsa yang disiarkan TVRI. TVRI menjadi saksi dan penyaji informasi dunia yang berubah, melintasi masa Orde Lama, Orde Baru, hingga kini Orde Reformasi. Meskipun berkutat dengan kemelut internal dan harus menghadapi kompetisi media penyiaran yang sarat dengan tarik-menarik kepentingan kapital dan politik, TVRI tetap bertahan.

Bertambahnya usia, tanpa perbaikan marketing dan program yang menarik tentu akan menurunkan daya pikat di tengah persaingan yang ketat. Hal ini bisa dilihat dari indikasi berkurangnya minat publik menonton tayangan TVRI.
Hanya 20 persen

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hasil jajak pendapat Kompas pada tanggal 11-12 Agustus lalu menunjukkan, dalam setahun terakhir jumlah responden yang masih cukup sering menonton TVRI tergolong kecil, hanya 20 persen. Sebanyak 62 persen responden masih suka menonton televisi publik ini meskipun hanya sesekali atau jarang sekali. Sementara itu, 18 persen responden mengaku tidak pernah menonton TVRI dalam setahun terakhir.

Alasan responden tidak lagi menonton TVRI antara lain karena tidak tertarik dengan acara atau program yang disajikan TVRI (37,8 persen) dan karena kualitas gambar yang tidak baik (23,6 persen).

Sementara itu, responden yang masih suka menonton TVRI menyatakan bahwa acara atau program yang disajikan TVRI bagus dalam artian informatif, mendidik, dan menghibur (66,6 persen). Acara yang paling sering ditonton responden dari TVRI terutama terkait dengan berita-berita terkini, baik berita lokal, nasional, maupun internasional. TVRI bisa menjadi saluran alternatif yang mengimbangi sajian dari stasiun televisi yang lain (20,4 persen).

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.