Setelah "Berselingkuh", Renny Djajoesman Kembali ke Teater Yuka

Kompas.com - 08/10/2014, 15:37 WIB
Renny Djajoesman di sela latihan menjelang pementasan teater Pekcang & Marita, yang disutradarainya, di kawasan Ragunan, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (6/10/2014). KOMPAS.com/IRFAN MAULLANARenny Djajoesman di sela latihan menjelang pementasan teater Pekcang & Marita, yang disutradarainya, di kawasan Ragunan, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (6/10/2014).
|
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Penyanyi serta pegiat teater Renny Djajoesman (55) akhirnya kembali ke "rumah"-nya sendiri, Teater Yuka, setelah tiga tahun dirinya asyik "berselingkuh" dengan berkarya bersama teater-teater lainnya.

"Dalam tiga tahun ini ada beberapa teater yang saya support, sehingga teman-teman di Teater Yuka ini jealous. 'Mbak kok teater orang terus diurusin, mending sekarang kita fokus sama teater sendiri aja'," cerita Renny dalam wawancara oleh Kompas.com di kawasan Ragunan, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (6/10/2014) malam.

Renny merasa mendapat teguran dari rekan-rekan berkeseniannya di Teater Yuka ketika itu. Ia pun sadar bahwa teater yang didirikannya tersebut sudah lama tak membuat pertunjukan.

"Kayaknya hampir setahun enggak produksi untuk di Teater Yuka ini. Sadar-sadar (tidak berkegiatan) itu tahun kemarin pas anak-anak ngomong," kata Renny.

Akhirnya Renny menyiapkan pementasan Pekcang & Marita, yang akan ditampilkannya di Taman Ismail Marzuki pada 11 November 2014. Kali ini ia menjadi sutradara.

"Gue dari pertama bilang, 'Bikin gue enggak ada (memerankan karakter). Pokoknya, Radar (Radar Panca Dahana, penulis skenario Pekcang & Marita), berpikir gue main'," jelas Renny.

Renny merasa menjadi sutradara pertunjukan teater itu merupakan langkah kembalinya dengan posisi sebagai sutradara dirasa cukup tepat baginya.

"Gue ingin meregenerasi anak-anak yang muda ini. Makanya, gue enggak main, gue hanya jadi pemimpin dan sutradara saja. Semua nikmat-nikmat saja, ketika di panggung nikmat, di balik layar juga nikmat. Kenikmatan itu ketika kita bisa jujur dan bebas," tekan Renny.

Pekcang & Marita mengangkat isu politik.

"Saya tidak bisa menafikan, dalam lima tahun ini Teater Yuka selalu ingin dengan naskah baru dan selalu bertepatan ketika politik kita enggak tenteram. Seperti saat Timor Timur itu lahirlah Tumirah Sang Mucikari," tutur Renny.

"Itu (bentuk) peduli dengan sesuatu yang ada di republik ini, ingin memberikan pemikiran dan berkontribusi, ingin merdeka sebagai anak bangsa. Ini potret peta politik, ada roman di balik peta politik. Bagaimana anak-anak muda zaman sekarang peduli dengan situasi yang ada, umum saja," imbuhnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X