Dream Theater tanpa Air Mata Itu...

Kompas.com - 02/11/2014, 21:58 WIB
EditorAti Kamil

"Selamat malam Jakarta. Kami akan bermain tiga jam. Let's make it fantastic tonight!” teriak vokalis Dream Theater, James Labrie setelah melantunkan lagu "The Shattered Fortress", di Lapangan D Senayan, Jakarta. Suara gemuruh sekitar 5.000 penonton menyambut sapaan James yang gondrong dengan kumis dan jenggot dibiarkan memanjang.

Penampilan Dream Theater itu merupakan bagian dari tur dunia, dan Jakarta merupakan panggung ke-85. Promotor Variant Entertainment menyediakan panggung dengan sistem tata suara berkekuatan 200 megawatt dan pencahayaan 500 megawatt. Cukup megah.

Lagu-lagu yang dibawakan Dream Theater kurang memancing penonton untuk berjingkrak-jingkrak. Meski demikian, permainan solo Mike Mangini, John Myung, dan Petrucci benar-benar memukau penonton. Keterampilan individu tiap awak band itu mendapat applause panjang. Penonton mengacungkan salam tiga jari pada beberapa lagu rancak, seperti "The Enemy Inside" dan "The Looking Glass" dari album Dream Theater (2013).

Ardito Abdillah (21), warga Bekasi, yang malam itu menonton konser, mengatakan, lagu-lagu Dream Theater memang lebih untuk dinikmati. Dia membeli tiket Rp 1.250.000 dengan harapan dapat menikmati beberapa lagu yang menurut dia pas dimainkan dalam konser, seperti "In The Presence of The Enemy", "The Dying Soul", dan "In The Name of God". Sayangnya, nomor-nomor itu absen dari 19 nomor yang dibawakan Dream Theater malam itu.

Konser ditutup dengan "Finally Free", tanpa kehadiran lagu-lagu "wajib", seperti "The Spirit Carries On" ataupun "Pull Me Under".

Dua generasi
Lagu-lagu itu pula yang melambungkan nama Dream Theater sebagai band rock progresif asal Amerika. Namun, band ini mulai jarang memainkan lagu-lagu itu sejak drumer Mike Portnoy hengkang pada 2010 dan diganti Mike Mangini. Portnoy merupakan salah satu pendiri dan turut menancapkan citra Dream Theater.

Penonton generasi awal Dream Theater ketika masih diperkuat Portnoy boleh saja kecewa karena banyak lagu kesukaan mereka tidak dimainkan. Akan tetapi, penggemar berusia dua puluhan tahun tetap puas dengan penampilan Dream Theater malam itu.

"Banyak lagu yang saya hafal dan suka. Jadi saya senang malam ini jauh-jauh ke Jakarta nonton konser," kata Aryoseto (23), yang terbang dari Bali demi Dream Theater. Dia mengenal Dream Theater sekitar lima tahun lalu.

Sebelum konser, John Petrucci mengatakan, dia terkesan dengan penonton di Indonesia dalam konser dua tahun lalu. Namun, ia mengakui setiap negara mempunyai karakteristik dan budaya yang berpengaruh terhadap respons mereka terhadap musik Dream Theater.

Dream Theater lahir tahun 1984, melahirkan 12 album studio dan delapan album live. Rentang umur penggemar rupanya berpengaruh pada atmosfer konser. Bisa jadi, tidak semua penggemar terpuaskan pada malam itu. Tapi Dream Theater terus melahirkan penggemar baru. (Mohammad Hilmi Faiq)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.