"Pendekar Tongkat Emas", Tak Sekadar Bermain Jurus

Kompas.com - 20/12/2014, 18:23 WIB
DOK MILES FILMS & KG STUDIO Hampir seluruh cabang ilmu bela diri yang baik dilengkapi dengan pelajaran moral yang baik. Tampak salah satu protagonis dalam film Pendekar Tongkat Emas.


Oleh: Agung Adiprasetyo

Kau katakan hidup adalah
perjalanan berpisah dan bertemu
menunggu yang kau tunggu
mencari yang tak pernah kau tahu

Kutipan lirik lagu itu adalah bagian awal lirik lagu yang ditulis oleh Mira Lesmana, diaransemen oleh Erwin Gutawa, yang konon ilhamnya dibawa oleh Gita Gutawa, putri Erwin. Lagu ini dinyanyikan Anggun untuk film Pendekar Tongkat Emas.

Lagu dengan judul "Fly My Eagle" ini melengkapi Pendekar Tongkat Emas sebagai film yang tak hanya hebat dalam me­ngolah laga dan mendemonstrasikan kepiawaian sang pemain memerankan adegan seni bela diri silat klasik, tetapi juga pelajaran hidup yang dalam.

Film ini dibuka dengan pergulatan perasaan guru Cempaka yang merasa sudah waktunya mewariskan ilmu andalan kepada anak asuhannya. Tidak berbeda dengan cara estafet kepemimpinan di sebuah lembaga, akal kita cenderung mengatakan orang yang akan menerima tongkat estafet pasti adalah orang terhebat pertama, mumpuni, dan kompeten.

Namun, itulah hebatnya seorang guru silat sejati bernama Cempaka. Dia menurunkan ilmu andalan tongkat emas melingkar bumi pada murid "kelas tiga"-nya. Cempaka mempunyai naluri, murid ketiga inilah yang memiliki sikap pas sebagai pendekar. 

Adalah sangat manusiawi bila kemudian murid pertama dan kedua yang merasa memiliki kemampuan lebih tinggi dari murid ketiga ini menjadi geram, marah, dan dendam. Setelah menunggu bertahun-tahun, ternyata tongkat estafet tidak jatuh ke tangan mereka, tetapi adik seperguruan yang dianggap lebih bodoh dan rendah ilmunya.

Lalu dengan cara apa pun, termasuk meracuni gurunya, dan bahkan sampai membunuh, memfitnah, dan menipu, dilakukan untuk bisa mendapatkan dan menguasai tongkat emas itu. Namun, semua senjata tak berarti apa-apa di tangan orang yang tak ahli memainkannya. Senjata tanpa ilmu tak akan bermanfaat. Senjata dengan ilmu tanpa sikap yang baik dari penguasanya akan berbahaya.

Teladan moral

Pelajaran ilmu silat klasik selalu memberi pemahaman bahwa pelajaran ilmu bela diri tidak hanya membuat seseorang menjadi pendekar secara fisik dan terampil bertarung. Hampir seluruh cabang ilmu bela diri yang baik selalu juga melengkapi dirinya dengan pelajaran moral yang baik. Pelajaran untuk tidak jemawa, untuk menjadi ksatria, untuk taat pada janji, dan untuk tetap rendah hati walau ilmu seorang pendekar bisa dipakai untuk membongkar gunung.

Cukup? Belum, karena Anda akan ditantang untuk merenung. Misalnya, terang tak selamanya membawa harapan, tetapi juga ancaman. Lho, bagaimana? Bukankah otak kita selalu dijejali ungkapan terang itu selalu memberi harapan?

Setiap orang selalu mencari kemuliaan dalam hidupnya. Pada ujungnya, setiap orang ingin men­jadi pendekar. Namun, setelah ke­pendekarannya tercapai, bisa jadi dia harus bergulat dalam sunyi. Seorang pendekar harus bertarung mengalahkan musuh-musuhnya, menunjukkan ke­pada dunia persilatan, betapa tinggi ilmu yang dimilikinya. Dia harus membunuh atau sebaliknya terbunuh.

Halaman Berikutnya
Halaman:


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorTri Wahono

Close Ads X