"Tanah Mama": Balada Ibu Perkasa Papua

Kompas.com - 11/01/2015, 14:53 WIB
EditorAti Kamil
Arsip Kalyana Shira Films Film Tanah Mama
JAKARTA, KOMPAS.com -- Film dokumenter Tanah Mama memberi warna baru pada dunia perfilman Tanah Air. Meminjam kisah hidup sehari-hari Mama Halosina, film ini bertutur sederhana, tetapi menohok ke jantung masalah kemiskinan di Papua.

Dari awal hingga akhir, film Tanah Mama terfokus pada kisah Mama Halosina. Setiap pagi selama proses pembuatan film, Mama Halosina memakai klip mikrofon di balik bajunya. Empat juru kamera yang semuanya perempuan mengikuti kehidupan sehari-hari si mama.

Sutradara dan penulis film, Asrida Elisabeth, telah lima tahun mengenal Mama Halosina. Asrida menjadi bagian dari masyarakat Yahukimo sejak aktif ikut pelayanan seorang pastor yang peduli isu hak asasi manusia. Kedekatan Asrida dengan Mama Halosina menjiwai film dokumenter yang jujur, apa adanya.

Keindahan Kampung Anjelma, lima jam jalan kaki dari Wamena, menjadi latar yang memikat mata. Bukan lanskap turistik, melainkan panorama sinematik. Bukit-bukit hijau dengan langit biru dan sungai nan jernih. Sementara itu, tampak wajah anak-anak berambut keriting dengan ingus yang mengalir dari hidung dan perut membuncit karena cacingan. Namun, senyum cerah menghiasi wajah mereka.

Menelusup masuk pada keseharian Mama Halosina, penonton diajak bersentuhan dengan kehidupan Papua yang sulit dan keras. Mama Halosina memilih berpisah dari suaminya, Hosea, yang telah punya istri kedua. Dengan empat anak yang masih kecil, hidup Mama Halosina jauh dari kata sejahtera. Tak punya suami yang membukakan lahan pertanian baginya, Mama Halosina hanya bisa memandang sambil meneteskan air mata ketika orang-orang di desanya berpesta pora merayakan panen ubi.

Ubi, makanan pokok masyarakat Papua, ditanam di lereng-lereng bukit terjal. Butuh tangan kuat kaum pria untuk membuka lahan. Biasanya pria-pria ini membabat hutan, membersihkan ilalang, lalu para ibu akan menanaminya dengan umbi-umbian hingga sayuran.

Lagu-lagu tentang perempuan Wamena yang biasa bekerja menjadi latar yang pas untuk film ini. Semua lagu direkam langsung pada saat riset dan pengambilan gambar ketika para perempuan berkumpul di Honai dan bernyanyi bersama para lelaki. Dengan begitu, lagu tidak terasa sebagai penghias gambar, tetapi bagian dari narasi kehidupan.

Kehidupan bagi Halosina semakin berat karena ia terkena sanksi adat. Anak-anaknya yang kelaparan mendorongnya mengambil ubi dari ladang adik iparnya. Halosina pun terancam dilaporkan ke polisi.

Sumber penghiburan
Menyanyikan lagu-lagu rohani sambil bercocok tanam di ladang milik keluarga adiknya, Halosina hidup tak pernah jauh dari anak-anaknya. Ke ladang, menyeberang sungai, hingga berjualan di pasar yang berjarak dua jam berjalan kaki, empat anak kecil ini selalu turut serta.

Anak-anak pulalah yang menjadikannya kuat. Anaknya yang terkecil selalu penuh canda. Ke mana pun, celoteh lucunya menjadi penghiburan tersendiri. Film ini juga menggambarkan kehidupan keluarga Halosina kala malam tiba. Di loteng rumah tradisional Papua beralas jerami, mereka tidur berdesakan dalam kehangatan kasih.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.