Menggapai "Bulan di Atas Kuburan"

Kompas.com - 12/04/2015, 16:54 WIB
Ria Irawan KOMPAS.com/IRFAN MAULLANARia Irawan
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS -- Bulan di Atas Kuburan, film drama yang disutradarai Edo WF Sitanggang, merupakan garap ulang dari film berjudul serupa karya Asrul Sani tahun 1973. Asrul terinspirasi dari puisi Sitor Situmorang, "Malam Lebaran", yang hanya disusun dari satu kalimat Bulan di atas kuburan. Nama Asrul Sani, berikut puisi Sitor yang menjadi landasan inspirasi, membuat film drama ini mengemban ekspektasi tersendiri.

Kisah Bulan di Atas Kuburan bergerak melalui tiga karakter utama Sahat (Rio Dewanto), Tigor (Donny Alamsyah), dan Sabar (Tio Pakusadewo). Ketiga pria Batak asal Samosir ini menapaki hidup dengan pergelutan masing-masing di Jakarta. Tigor dan Sahat semula terbujuk oleh Sabar yang mengesankan dirinya sebagai orang sukses di Jakarta. Namun, kenyataannya, ketika Tigor dan Sahat menyusul ke Jakarta, mereka hanya menjumpai kehidupan Sabar yang pahit. Sabar tak lain seorang pemburu tender di lingkungan pemerintahan dengan cara bermain kotor.

Meski begitu, sosok Minar (Ria Irawan), istri Sabar, digambarkan justru serba nrimo. Minar bukanlah istri yang gemar menuntut suaminya. Minar lebih memilih hidup tenteram dengan harta seadanya.

Sementara Sahat yang sejatinya seorang penulis novel dengan idealisme yang terawat mulai gamang dengan prinsipnya sendiri. Padahal, alasan utamanya memutuskan ke Jakarta adalah demi menindaklanjuti penerbitan naskah novel tersebut. Kegamangan Sahat mulai terbit perlahan sejak pertemuannya dengan Mona (Atiqah Hasiholan), anak pengusaha sekaligus petinggi partai, Maruli (Arthur Tobing).

Mona digambarkan sebagai perempuan yang mencoba patuh pada ambisi orangtua sekalipun bertentangan dengan hati nuraninya sendiri. Naskah novel karya Sahat yang dibaca Mona membangkitkan imaji romantik di benak Mona tentang gambaran ideal sebuah kehidupan normal. Kehadiran Sahat bagi Mona menjadi pintu pengharapan untuk lari dari bayang-bayang busuk kehidupan keluarganya.

Sementara, bagi Sahat imaji romantik Mona itu tak lebih imaji dari benak kalangan yang telah kenyang perutnya. Sebuah imaji yang tidak menghiasi kalangan seperti dirinya yang hidup pas-pasan di kampung halamannya yang indah dalam bayangan Mona. Sebuah kehidupan sederhana yang bagi Sahat tidak membuat dirinya berkembang.

Lain lagi dengan Tigor. Pemuda yang mudah bersenyawa dengan kehidupan jalanan. Di Jakarta, Tigor bergumul dengan kerasnya kehidupan jalanan. Kehidupan preman diberi wajah yang sedikit berbeda dalam film ini melalui sosok Tigor. Pekerjaannya sebagai timer (penghimpun pungutan liar terhadap angkutan umum ), bagaimanapun disadari Tigor bukanlah pekerjaan yang baik. Namun, ia menjalaninya dengan prinsip kesetiakawanan, yang justru tereduksi dari sosok intelektual seperti Sahat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Elaboratif
Naskah Bulan di Atas Kuburan tidak menarik garis hitam-putih, benar-salah, secara rigid dan bertendensi menggurui. Setiap tokoh dihadirkan dengan ambivalensinya sendiri-sendiri.

Naskah yang ditulis Dirmawan Hatta ini mencoba memberi wajah yang lebih jelas tentang sisi-sisi busuk kehidupan di Jakarta.

"Dalam film itu (versi garapan Asrul Sani) ada tema korupsi. Itu yang kita tunjukkan wajahnya lebih detail. Dalam karya Asrul Sani, hal itu masih general," kata Hatta.

Garis besarnya, menurut Hatta, film ini menafsirkan puisi Sitor tentang ketimpangan antara realitas dan harapan. Puisi "Malam Lebaran" bagi Hatta dan tim menunjukkan ketimpangan tersebut.

"Bukankah di malam Lebaran sebenarnya tidak ada bulan? Oleh karena itu, kami menafsirkannya tentang orang-orang yang datang ke Jakarta mengharapkan rembulan, tetapi lantas menjadi zombie, mayat hidup di atas kuburan Jakarta," ungkap Hatta.

Film ini juga merepresentasikan diskursus yang masih kerap hangat di masa kini soal dunia perpolitikan dalam konteks Jawa dan non-Jawa. Jakarta menjadi arena pergumulan bagi keberagaman etnis yang berambisi untuk tampil dominan.

Edo mengungkapkan, kendati film ini merupakan garapan ulang dari karya Asrul Sani, cerita diletakkan pada konteks masa kini. Kehidupan jalanan, perebutan lapak atau lahan parkir, kebusukan birokrasi, hingga pertarungan politik berlatar belakang kepentingan etnis disuguhkan melalui ketiga tokoh utama tadi.

Ada sejumlah catatan pada detail eksekusi. Misalnya soal adegan pernikahan yang memilih digarap tanpa unsur adat sama sekali, sementara unsur kebatakan menapasi semangat naskah film.

Begitu pula adegan tawuran jalanan antarkelompok preman yang terlihat "rapi" seperti arena latihan bela diri. Barangkali perlu juga memperhatikan lebih cermat penggunaan kain-kain ulos yang benar-benar sesuai dengan acara adat dan puak atau subsuku Batak yang menjadi fokus cerita. (Sarie Febriane)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.