Kompasianer Ngulik JFlow dan Cella "Kotak" untuk "Rayakan Perbedaan"

Kompas.com - 28/04/2015, 21:20 WIB
JFlow dan Cella 'KotaK' diabadikan usai mengisi acara Kompasiana Ngulik, di Gedung Kompas Gramedia, Jalan Palmerah Barat 29-37, Jakarta Barat, Senin (27/4/2015). KOMPAS.com/YULIANUS FEBRIARKOJFlow dan Cella 'KotaK' diabadikan usai mengisi acara Kompasiana Ngulik, di Gedung Kompas Gramedia, Jalan Palmerah Barat 29-37, Jakarta Barat, Senin (27/4/2015).
|
EditorIrfan Maullana
JAKARTA, KOMPAS.com -- Penyanyi rap JFlow bekerja sama dengan gitaris grup band KotaK, Mario Marcella alias Cella "KotaK", mengajak para pegiat blog Kompasiana atau Kompasianer untuk berdiskusi untuk mencipta lirik lagu dengan tema "Rayakan Perbedaan" dalam acara Kompasiana Ngulik Bareng JFlow dan Cella "KotaK" yang digelar di Gedung Kompas Gramedia, Jalan Palmerah Barat 29-37, Jakarta Barat, Senin (27/4/2015).

"Perbedaan itu aset nasional kita yang berharga. Kita mau bikin lagu dengan tema 'Rayakan Perbedaan'. Enggak harus ditentukan dalam satu genre saja, tetapi kita akan bikin lagu yang nantinya bisa jadi anthem. Gue membayangkannya lagu ini bisa jadi kayak lagu di stadion ketika sebuah kontingen olah raga berbaris, devile, atau pas terima juara kayak lagunya Queen yang 'We Are The Champion'," tutur JFlow membuka meteri acara tersebut.

Pria bernama Joshua Matulessy itu mengatakan, semangat Bhineka Tunggal Ika menjadi ruh lagu bertema "Rayakan Perbedaan" tersebut. "Kita harus bangga dengan perbedaan kita. Itu spirit yang mau diangkat dari lagu yang bertujuan untuk merayakan perbedaan ini nantinya," katanya.

JFlow dan Cella lantas meminta para Kompasianer yang hadir untuk mendengarkan musik dasar yang telah disiapkan sebelumnya agar memiliki gambaran dalam membuat liriknya. Setelah diperdengarkan lagu tersebut, JFlow dan Cella mengajak para Kompasianer untuk berdiskusi mengenai masalah-masalah yang ada di Indonesia sebelum merumuskan solusi yang kemudian diangkat sebagai lirik lagu "Rayakan Perbedaan".

Diskusi pun berjalan cukup seru dan menarik dengan berbagai masalah perbedaan yang dibicarakan. Masalah-masalah mulai dari benturan budaya, perbedaan agama, kesenjangan sosial, kesenjangan politik, kesenjangan hukum, hingga masalah feodalisme muncul dalam diskusi tersebut. Semua dicatat di papan tulis kecil oleh JFlow.

"Sekarang kan udah muncul nih problem-problem-nya. Gue kalau bikin lagu bukan fokus ke problemnya, tapi lebih ke harapan. Sekarang kita cari antithesis dari problem-problem itu dan munculin ke permukaan. Nah, di sini lebih ke tema yang merayakan perbedaan," kata JFlow kepada Kompasianer.

Sementara itu, Cella yang tidak banyak bicara terlihat lebih sering memejamkan mata dan sambil menyambungkan tiap kata kunci yang muncul dari JFlow dan Kompasianer.

"Kalau gue langsung fokus ke masalah kalau pas bikin lagu, jadi enggak mikir sebab akibatnya," kata Cella di tengah-tengah konsentrasinya menyusun lirik.

Meski dalam diskusi belum tercipta lirik yang pasti untuk lagu tersebut, kata-kata kunci yang muncul dari para Kompasianer dicatat oleh JFlow dan Cella untuk dijadikan sebagai bahan dasar mereka dalam menulis lirik.

"Ini kan musiknya juga masih dasar. Gue kepikiran untuk masukin instrumen yang berasal dari Indonesia bagian Barat, Tengah, dan Timur. Dengan begitu, kita bisa bikin pesan bahwa kita tuh bisa harmonis. Kita bisa bilang ke orang luar negeri kalau perbedaan itu bisa dirayakan," ujar JFlow.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X